• Headline

    Tembok Gudang Tua Roboh, Tujuh Orang Tewas

    Oleh : erika16 April 2018 19:10
    fotografer: Erika Lia Lestari
    INILAH, Cirebon- Sedikitnya tujuh orang tewas setelah sebuah dinding bangunan tua roboh di Desa Gegesik Wetan, Kecamatan Gegesik, Kabupaten Cirebon, Senin (16/4). Dari ketujuhnya, enam orang di antaranya merupakan pelajar sekolah menengah pertama (SMP).

    Selain korban tewas, kejadian itu juga menyebabkan seorang siswa kritis dan seorang siswa lainnya menderita luka ringan. Sementara, dua siswa lainnya diketahui berhasil menyelamatkan diri.

    Berdasarkan informasi, sebelum kejadian, sepuluh pelajar kelas 7 dan 8 SMPN Gegesik I dan SMPN Gegesik III tengah berlatih kesenian tradisional di sebuah sanggar milik Suherman (48), warga desa setempat. Sanggar yang dikenal dengan nama Sanggar Seni Hidayajati Pewayangan itu bersisian dengan sebuah bangunan tua yang diketahui gudang sarang burung walet.

    Kesepuluh siswa itu sedianya tengah berlatih untuk pertunjukan kesenian dalam rangka Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) tingkat Kecamatan Gegesik. Mereka dipandu Suherman sebagai pelatih.

    Di tengah latihan menabuh gamelan, tiba-tiba tembok gudang walet runtuh dan menimpa para siswa beserta Suherman, sekitar pukul 10.30 WIB. Dari sepuluh siswa, belakangan diketahui dua di antaranya berhasil menyelamatkan diri.

    Sayang, sembilan orang lainnya tak berhasil menyelamatkan diri dan tertimpa material bangunan. Para korban kemudian dilarikan ke RSUD Arjawinangun, Kabupaten Cirebon. Naas, dari kesembilan orang itu, tujuh di antaranya tewas, termasuk Suherman.

    Selain Suherman, enam korban lain yang merupakan pelajar masing-masing Andra (13), Arid (13), Fada (13), Fardi (14), Adzikri (14), dan Suparti (13). Sementara korban luka berat yakni Tri Intan Afriani (13), sempat mendapat penanganan intensif di ICU RSUD Arjawinangun, sebelum kemudian dirujuk ke RSUD Gunung Jati, Kota Cirebon. Sedangkan korban luka ringan yakni Fitri (13) sempat ditangani di Puskesmas Gegesik sebelum selanjutnya diizinkan pulang.

    Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Cirebon, Asdullah Anwar mengungkapkan, para siswa yang mempelajari kesenian tersebut rutin menggelar latihan di sanggar milik Suherman. Hal ini karena sekolah tak memiliki sanggar kesenian.

    "Gegesik kan dikenal sebagai kampung seni. Pelestarian kesenian efektif diberikan kepada pelajar sebagai generasi muda," ucapnya kala ditemui di RSUD Arjawinangun.

    Dia tak menampik, bangunan yang bersisian dengan sanggar seni itu telah berusia tua, lebih dari 50 tahun. Pada saat kejadian, para korban tengah berlatih untuk pertunjukan kesenian tradisional dalam rangka Hardiknas pada Mei mendatang.

    Sejauh ini, dia menyatakan, telah menginstruksikan kepala sekolah bersangkutan untuk mendata dan mengajukan usulan perbaikan bangunan, termasuk santunan bagi para korban tewas maupun luka. Dalam kesempatan itu, pihaknya pun menyampaikan duka cita bagi keluarga para korban.

    Kapolres Cirebon, AKBP Risto Samodra memastikan, korban tewas berjumlah tujuh orang, enam di antaranya pelajar serta seorang dewasa (pelatih). Secara kasat mata, katanya, bangunan gudang yang runtuh disebabkan usianya yang sudah tua.

    "Sebenarnya, bangunan gudang bekas sarang burung walet itu milik seorang warga yang tinggal di Kecamatan Arjawinangun. Tapi tak ditinggali alias kosong," terangnya.

    Meski begitu, pihaknya belum dapat memastikan pihak yang bertanggung jawab atas insiden ini. Penyelidikan masih dilakukan lebih lanjut dibantu instansi terkait. Sejauh ini, langkah penanganan yang dilakukan dengan cara merobohkan seluruh bangunan.

    "Kami sudah memasang garis polisi di sekeliling lokasi kejadian. Kami ingatkan warga sekitar tak mendekat," pintanya.

    Seluruh korban tewas sendiri pada Senin siang telah dibawa pihak keluarga ke rumah duka masing-masing. Sementara, pihak keluarga korban kritis, Tri Intan Afriani, siswa kelas 7 SMPN Gegesik I, mengaku terkejut dengan kejadian itu. Intan diketahui mengalami patah kaki kanan dan dislokasi rahang hingga gigi bawahnya pun hampir patah.

    "Untungnya luka di kepala tidak fatal. Tapi, Intan tidak bisa bicara, cuma bisa menunjuk bagian-bagian yang sakit di kaki dan dagu," ungkap ibu kandung Intan, Umayah (47), warga Blok Lima Tengah, Desa Gegesik Lor, Kecamatan Gegesik.

    Umayah mengaku, mendapat kabar dari teman sekolah Intan perihal kejadian itu. Tak ada firasat apapun sebelumnya.

    Menurut dokter yang merawat Intan di RSUD Arjawinangun, anak ketiga dari tiga bersaudara pasangan Sumarno dan Umayah itu harus menjalani operasi pada rahangnya. Akibat ketiadaan peralatan medis yang memadai, RSUD Arjawinangun merujuk Intan ke RSUD Gunung Jati, Kota Cirebon, hari itu juga.

    Menurut Umayah, anaknya menyukai kesenian. Selain bisa menari dan memainkan alat musik gamelan, Intan pun pandai berpidato.

    "Makanya dia rajin ikut latihan kesenian di sanggar," cetus Umayah lagi.

    Kakak sepupu Intan, Elisa Rahma (26), menambahkan, Intan kerap mengikuti lomba tari. Dia pun suka menari diam-diam di kamar untuk mengasah kemampuannya.

    "Intan sudah aktif menari sejak SD. Tiap hari dia memang latihan menari topeng di sanggar," kata Elisa.

    Pihak keluarga bersyukur Intan tak sampai kehilangan nyawa dalam insiden tersebut. Mereka pun berharap Intan membaik dan sehat seperti sediakala agar bisa beraktivitas kembali.[jek]

    TAG :


    Berita TERKAIT