• Petani Indramayu Cemas Padinya Puso

    Oleh : erika13 Juli 2018 16:36
    INILAH, Indramayu- Ancaman gagal panen (puso) masih mengintai para petani di Kecamatan Kandanghaur, Kabupaten Indramayu. Mereka pun minta aliran air difokuskan bagi penyelamatan tanaman padi yang kekeringan.

    Sedikitnya 2 ribu hektare tanaman padi di Kecamatan Kandanghaur hingga kini masih dibayangi ancaman puso akibat kekurangan air.

    Pengairan dari Bendung Rentang, Kabupaten Majalengka, pun dilakukan bagi lahan padi di Indramayu melalui sistem gilir.

    "Tapi, kami harap pemerintah menginstruksikan pengairan untuk penyelamatan tanaman, bukan dengan gilir air," ungkap Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kecamatan Kandanghaur, Waryono.

    Menurutnya, sistem gilir air tidak efektif untuk menyelamatkan tanaman padi yang kekeringan. Sistem tersebut membuat pengairan menjadi terbatas.

    Dia menyontohkan, saat air digilir untuk desa A di hulu, desa B di hilir harus mengantre untuk memperoleh jatah air. Saat jadwal gilir air harus dialihkan ke desa C, penyaluran air untuk desa A dan desa B praktis harus dihentikan. Padahal, saat itu desa B belum sempat memperoleh air.

    Ketika jatah air untuk desa C selesai dan air kembali digilir untuk desa A dan desa B, areal sawah di desa A sudah kembali kering.

    Akibatnya, selama jadwal gilir air tersebut air kembali tersedot untuk desa A dan desa B kembali tak kebagian air.

    "Kasihan desa-desa yang di hilir," cetusnya.

    Dia menyebutkan, salah satu desa yang terletak di hilir yakni Desa Karangmulya, Kecamatan Kandanghaur. Saat ini, kekeringan pada areal pertanian di desa tersebut sudah benar-benar parah.

    Tanaman padi yang kekeringan itu tersebar di Desa Karangmulya, Karanganyar, Wirapanjunan, Ilir, Girang, Bulak, dan sebagian Wirakanan, seluas sekitar 2 ribu hektare. Pengairan yang selama ini dilakukan baru bisa menyelamatkan sedikit areal yang kekeringan di beberapa desa.

    Dia menuturkan, pada Kamis (12/7) pukul 06.00 WIB, posisi air sedang berada di pintu 21 Desa Rancahan, Kecamatan Gabuswetan, Kabupaten Indramayu. Bila dalam waktu sepuluh hari air tak diputus, katanya, air tersebut bisa sampai ke wilayah Kecamatan Kandanghaur dan Losarang.

    Menurutnya, air seharusnya saat ini difokuskan dulu untuk menyelamatkan tanaman padi di Gabuswetan. Bila debit air yang dialirkan besar, dalam waktu dua hari tanaman padi di Gabuswetan bisa terselamatkan.

    "Setelah itu baru fokus pada pengairan untuk Kandanghaur dan Losarang sampai kekeringan teratasi," pungkasnya.

    Terpisah, pengamat Air Manggungan, Irun memastikan, pengairan akan tetap dilakukan secara bergilir dan disesuaikan dengan jadwal gilir air. Menurutnya, bila tak digilir, dikhawatirkan petani akan berebut.

    "Kalau air tidak digilir, nanti akan rebutan karena semua menginginkannya," jelas Irun.

    Kekeringan yang saat ini dialami areal tanaman padi di sejumlah daerah di Kabupaten Indramayu disebabkan adanya pembangunan venue kano Asian Games di Bendung Rentang. Saat air di hulu tersendat, areal pertanian di hilir pun terganggu.

    TAG :


    Berita TERKAIT