• Pertambangan Batu Diduga Biang Kerok Kekeringan Gunung Sirnalanggeng

    Oleh : Asep Mulyana08 Agustus 2018 17:15
    fotografer: Ilustrasi/net
    INILAH, Karawang - Air merupakan salah satu sumber kehidupan. Jika sumbernya rusak, otomatis kehidupan makhluk hidup di sekitar sumber mata air itu pun terancam bahaya.

    Tak bisa dipungkiri, saat ini kerusakan lingkungan, terutama di daerah resapan air sudah sangat memprihatinkan. Apalagi saat ini pembangunan sudah tak lagi menghiraukan alam lingkungan sekitarnya. Seperti, gunung-gunung dirusak untuk diambil materialnya, pepohonan yang ada di hutannya juga turut ditebangi.

    Padahal, kegiatan tersebut memiliki dampak negatif yang sangat luar biasa. Salah satu dampaknya, masyarakat yang ada di wilayah itu akan dilanda kekeringan saat musim kemarau seperti sekarang ini.

    Sebagai contoh nyata, dirasakan warga yang bermukim di sekitar kaki Gunung Sirnalanggeng. Tepatnya, di wilayah yang masuk ke Kecamatan Tegalwaru, Kabupaten Karawang. Sampai saat ini, tercatat ada sekitar enam desa yang telah dilanda kekurangan air bersih.

    Adapun ke enam desa yang terdampak kekeringan ini, masing-masing yakni Desa Kutalanggeng, Ciptasari, Jatilaksana, Cintaasih, Mulangsari dan Cipurwasari.

    Salah seorang sesepuh Desa Kutalanggen, Odih Subarja (71) menuturkan, Tegalwaru mungkin menjadi salah satu kecamatan di Karawang yang terparah menjadi langganan dampak kemarau.

    Selain karena hujan tidak turun, kondisi ini diperparah karena beberapa mata air di daerah ini telah kering. Bahkan ada dua mata air yang selama ini menjadi andalan warga sudah hilang sejak dulu.

    "Tidak turun hujan beberapa pekan saja, warga di sini sudah kesulitan mencari air bersih. Apalagi sekarang hujan sudah tak turun hampir dua bulan ini. Ditambah lagi sudah tidak ada sumber air yang bisa dimanfaatkan lagi," ujar pria paruh baya ini, Rabu (8/8/2018).

    Menurut dia, kekeringan yang kerap melanda warga di sekitar kaki Gunung Sirnalanggeng ini telah berlangsung sejak akhir 1980-an. Hal tersebut terjadi, sesaat setelah pohon-pohon besar di hutan gunung tersebut dibabad habis oleh pembalak liar.

    "Saat itu hutan di gunung ini sampai gundul. Banyak pohon besarnya yang ditebangi. Sejak saat itulah wilayah kami sering dilanda kekeringan. Mungkin, karena sudah tidak ada resapan air," jelas dia.

    Benar saja, sejak saat itu dua sumber mata air yang selama ini menjadi andalan warga pun mengering. Apalagi, kondisi ini diperparah setelah adanya pertambangan batu di wilayah itu. "Pertambangan ini, kalau tidak salah sekitar awal tahun 2000-an, " kata dia bercerita.

    Kesaksian Odih juga dibenarkan Napin bin Arni (80). Menurut Napin, dulu kebutuhan air warga sekitar dipasok mengandalkan dua mata air di Gunung Sirnalanggeng ini.

    "Dulu waktu gunung masih utuh, air di pemukiman tercukupi. Saya masih ingat pasang selang ke mata air. Tapi mata air hilang setelah Sirnalanggeng ditambang," tambah dia.

    Untuk diketahui, Sirnalanggeng merupakan gunung yang terdapat di wilayah Karawang bagian Selatan. Gunung batu ini, memiliki tinggi sekitar 334 mdpl. Ekosistem di gunung itu rusak setelah adanya aktifitas pertambangan pada 2002.

    Gunung ini, memiliki kandungan batu andesit berkuakitas baik. Alhasil, gunung itu terus ditambang hingga sekarang. Saat ini, gunung Sirnalanggeng nampak hilang setengahnya. Bentuk kerucut tak lagi terlihat di sana.

    Bahkan, di bagian selatan lereng gunung tersebut, pepohonan terlihat sudah lenyap. Mulai dari kaki gunung sampai puncak, yang nampak hanya bongkahan dan retakan bebatuan besar. [gin]

    TAG :


    Berita TERKAIT