• Headline

    Lima Desa di Kuningan Langka Air Bersih

    Oleh : erika13 Agustus 2018 15:00
    fotografer: Ilustrasi/net
    INILAH, Kuningan- Sedikitnya lima desa di Kabupaten Kuningan kekurangan air bersih pada musim kemarau kali ini. BMKG mengingatkan, sejumlah daerah berpotensi alami kekeringan ekstrem.

    Pusdalops Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kuningan mendata, pada periode 18 Juli-11 Agustus 2018, kesulitan air bersih dialami warga di lima desa.

    Masing-masing Desa Jambugeulis, Kecamatan Cigandamekar dan Desa Pamupukan, Kecamatan Ciniru. Tiga desa lainnya yakni Desa Cihanjaro, Desa Simpayjaya, dan Desa Sukasari, di Kecamatan Karangkancana.

    Di Desa Jambugeulis, setidaknya warga di tiga dusun kekurangan air bersih dengan jumlah 496 kepala keluarga (KK) dan 1.375 jiwa. Di Desa Pamupukan, kondisi serupa terjadi di dua dusun yang dihuni 175 KK dan 524 jiwa.

    Sementara, di Desa Cihanjaro, terdapat satu dusun yang dihuni 342 KK dan 880 jiwa. Di Desa Simpayjaya, kekurangan air bersih terjadi di dua dusun dengan 587 KK dan 1.662 jiwa, sementara di Desa Sukasari tercatat dua dusun dengan 209 KK dan 507 jiwa.

    "Untuk menanganinya, air bersih sudah didistribusikan serta fasilitasi pipanisasi," klaim Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Kuningan, Agus Mauludin.

    Hanya, distribusi air bersih baru dilakukan terhadap empat dari lima desa tersebut. Sementara, satu desa lain yakni Desa Pamupukan di Kecamatan Ciniru, hingga kini belum tertangani.

    Agus menjelaskan, distribusi air bersih ke Desa Pamupukan belum memungkinkan karena akses jalan kecil dan rusak, dengan tanjakan cukup curam. Selain itu, sumber mata air di daerah tersebut juga tergolong sulit.

    Penanganan kekurangan air bersih di Desa Pamupukan rencananya dilakukan dengan menarik air dari Walungan Cigalih menggunakan jetpump. Selanjutnya, air disalurkan melalui pipa paralon/selang sepanjang sekitar 500 meter, yang ditampung dalam penampungan/torn, sebelum kemudian disalurkan ke masyarakat.

    Rencana penanganan lain dilakukan dengan menarik air dari bukit Pangleseran menggunakan jetpump. Air kemudian disalurkan melalui pipa paralon/selang sepanjang sekitar 200 meter, yang ditampung dalam penampungan/torn, dan kemudian disalurkan ke masyarakat.

    Sementara itu, distrusi air bersih bagi warga di empat desa lainnya telah memakan 87 tangki atau 344 ribu liter. Selain dari BPBD Kabupaten Kuningan, distribusi air bersih juga dilakukan Kodim 0615 Kuningan, Polres Kuningan, PDAM, maupun Baznas Kuningan.

    "Memasuki puncak musim kemarau, Kabupaten Kuningan siaga menghadapi darurat kekeringan serta kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Kami sudah menerbitkan SK Siaga Kekeringan dan Karhutla per 27 Juli sampai 1 November 2018," tambahnya.

    Dia menyebutkan, total 79 desa di tujuh kecamatan se-Kabupaten Kuningan rawan kekurangan air bersih. Ke-79 desa itu yakni 24 desa di Kecamatan Ciawigebang, enam desa di Kecamatan Kalimanggis, 12 desa di Kecamatan Cidahu, sepuluh desa di Kecamatan Cimahi, sepuluh desa di Kecamatan Cibingbin, delapan desa di Kecamatan Cibeureum, dan sembilan desa di Kecamatan Karangkancana.

    Diketahui, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Jatiwangi, Kabupaten Majalengka, memprakirakan puncak musim kemarau di Wilayah Cirebon secara umum akan berlangsung hari tanpa hujan kategori sangat panjang. Namun, ada pula sejumlah daerah yang mengalami kekeringan ekstrim.

    "Puncak musim kemarau diprediksi terjadi pada Agustus-September," ungkap Forecaster BMKG Stasiun Jatiwangi, Ahmad Faa Izyn.

    Wilayah yang mengalami hari tanpa hujan kategori sangat panjang panjang berarti tanpa hujan dalam rentang waktu 31-60 hari. Sementara di wilayah yang berpotensi kekeringan ekstrim berarti lebih dari 60 hari tanpa hujan. [gin]

    TAG :


    Berita TERKAIT