• Dedi Mulyadi: Seharusnya Tempe Kita Tidak Setipis Kartu ATM

    Oleh : Asep Mulyana12 September 2018 15:58
    INILAH, Purwakarta - Kedelai impor, sampai saat ini masih menjadi bahan baku andalan para produsen tempe di Kabupaten Purwakarta. Minimnya produksi kacang kedelai lokal, menjadi alasan mereka menggunakan bahan baku dari luar negeri itu.

    Alhasil, saat nilai tukar rupiah terhadap dollar melemah seperti sekarang ini, harga kacang kedelai terkena imbasnya. Komoditas tersebut mengalami kenaikan harga.

    Adanya kenaikan harga komoditas ini cukup berpengaruh terhadap produksi bahan pangan yang menggunakan kedelai sebagai bahan bakunya. Semisal, tahu dan tempe.

    Para produsen makanan rakyat di wilayah ini pun mulai gusar menyikapi kondisi tersebut. Makanya, untuk menyiasati supaya tak merugi sekaligus menghemat biaya produksi, mereka memperkecil ukuran tempe yang akan dijualnya.

    Karena, alasan mereka, kalau harga jualnya dinaikan nanti konsumen mereka protes. Jadi, untuk menyiasatinya yakni dengan memperkecil ukurannya.

    Budayawan Jawa Barat, Dedi Mulyadi angkat bicara mengenai fenomena tersebut. Menurut dia, seharusnya tempe di Indonesia tidak setipis kartu ATM. Justru, tempe produksi lokal ini harusnya bisa setebal TV ukuran 24 inch.

    "Katanya sudah parah tipisnya, setipis kartu ATM. Ini kan sangat ironis. Seharusnya, tempe kita mah setebal TV ukuran 24 inch," ujar Dedi di kediamannya di Purwakarta, Rabu (12/9/2018).

    Menurut dia, ukuran tempe ini tak perlu diperkecil jika Indonesia memiliki bahan baku kedelai yang cukup. Sehingga, para produsen makanan rakyat itu tak ketergantungan barang impor.

    Dia berpendapat, fenomena ini harus segera disikapi pemerintah dengan cara memotivasi petani untuk menanam kedelai. Selain itu, analisis pasar sangat dibutuhkan agar ada kepastian terserapnya hasil produksi petani di pasaran.

    "Produksi kedelai dalam negeri harus ditambah. Petani kedelai kita diedukasi dan diberikan motivasi yang kuat bahwa menanam kedelai bisa memberikan keuntungan. Setelah itu, pasarnya dianalisa dan rantai distribusi yang mengakibatkan kedelai mahal itu dipotong," jelas dia.

    Memang, kata dia, ironi yang mendera petani kedelai di Indonesia ini bukanlah hal baru. Karena, petani di Indonesia lebih memilih memotong kedelai muda untuk dijual dalam bentuk ikatan yang sudah direbut.

    Penganan ini dalam istilah orang Jawa Barat disebut ‘Kacang Jepun’. Biasanya, kacang jepun dijual oleh para pedagang dengan menggunakan gerobak dorong.

    "Petani melakukan itu karena merasa khawatir kedelainya tidak laku. Mereka merebus kacang kedelai dengan tangkainya, dijual keliling oleh pedagang," katanya.

    Akibatnya, nilai ekonomi 'kacang jepun' tidak sebanding dengan biaya produksi yang dikeluarkan para petani. Hal ini berimplikasi, minimnya minat petani di Indonesia menanam kedelai.

    Masih dianggap belum menguntungkan. Karena itu, saya kira dibutuhkan segera langkah-langkah strategis untuk menangani ini. Saya yakin Indonesia bisa swasembada kedelai jika ada usaha keras dan konkret untuk perbaikan nasib petaninya," pungkasnya.[jek]

    TAG :


    Berita TERKAIT