• Musim Kemarau, Pemerintah Purwakarta Belum Terima Laporan Petani Gagal Panen

    Oleh : Asep Mulyana13 September 2018 14:03
    INILAH, Purwakarta - Di Kabupaten Purwakarta, musim kemarau tak hanya berdampak pada mengeringnya sumber-sumber air bersih warga. Melainkan, juga mulai meretakkan tanah di areal pertanian yang ada di sejumlah kecamatan.

    ‎Pasalnya, sejak beberapa bulan terakhir hujan tidak pernah turun lagi mengguyur wilayah tersebut. Mengakibatkan, sawah di sejumlah kecamatan yang ada turut mengering. Bahkan, saat ini kondisi tanahnya mulai retak-retak. Beruntung, sebagian sawah tersebut sudah melewati masa panen.

    Dinas Pangan dan Pertanian setempat mencatat, luasan sawah baku di wilayah ini mencapai 18 ribu hektare. Dari jumlah tersebut, 10 ribu hektare merupakan sawah irigasi teknis dan 8.000 hektare di antaranya merupakan sawah tadah hujan. Saat musim kemarau seperti sekarang ini, sawah tadah hujan inilah yang rawan kekeringan.

    Namun demikian, Kepala Dinas Pangan dan Pertanian Purwakarta, Agus Rachlan Suherlan mengaku, sampai saat ini pihaknya belum menerima laporan jika ada tanaman padi di lahan pertanian yang mengalami kekeringan. Memang, kata dia, saat ini ada 28 hektare lahan yang telah mengering. Sawah tersebut, tersebar di sejumlah kecamatan.

    "Tapi, padi di lahan yang mengering ini berhasil diselamatkan. Karena, pada saatnya justru bisa di panen. Jadi, sampai saat ini belum ada informasi gagal panen akibat kekeringan," ujar Agus saat ditemui INILAH di kantornya, Kamis (13/9/2018).

    Dia menjelaskan, sawah tadah hujan memang direncanakan hanya satu kali tanam dalam setahun. Meskipun, pada kenyataannya banyak yang digenjot hingga bisa dua kali tanam.

    Jadi, kalau saat ini banyak lahan sawah yang tidak ditanami, bukan berarti kekeringan. Tapi, memang lahan tersebut tidak direncanakan untuk ditanami. Terutama, lahan yang ada di wilayah tadah hujan ini.

    "Jadi, harus tahu dulu definisi kekeringannya. Apakah lahan ini sebelumnya ditanami, hingga terjadi gagal panen. Apa memang lahan kering ini sebelumny tidak direncanakan tanam. Kalau kondisi sawah yang mengering, memang banyak," jelas dia.

    Agus menuturkan, tidak semuanya lahan di wilayah tadah hujan ini mengering saat kemarau seperti ini. Kendati, berpotensi mengalami kekeringan. Karena, ada sebagian besar yang masih teraliri air. Yakni, mereka yang masih memiliki sumber mata air besar. Semisal, embung atau eks galian pasir yang ada di wilayahnya.

    "Kalau yang ada sumber airnya, ini bisa diantisipasi. Jadi, bisa diselamatkan dengan bantuan pompa air,‎" jelas dia.

    Adapun 8.000 hektare lahan sawah tadah hujan yang rawan kekeringan itu, sambung dia, tersebar di sejumlah kecamatan. Seperti, Kecamatan Cibatu, Campaka dan Tegalwaru. Cukup beralasan, karena di daerah-daerah itu tak tersedia saluran irigasi teknis. Makanya, bila musim kemarau areal lahan di wilayah itu mengalami kekeringan.

    Untuk mengatisipasi kekeringan, pihaknya sudah menyebar ratusan unit alat pompa air ke setiap kelompok tani. Jadi, bila ada kasus kekeringan dengan ada tanamannya, maka alat tersebut bisa dimanfaatkan oleh petani.

    "Sampai saat ini, kita telah mendistribusikan lebih dari 100 pompa air ke pera petani melalui Gapoktan mereka," tambah dia.[jek]

    TAG :


    Berita TERKAIT