• Finlandia University Kagum dengan Konsep Pendidikan di Purwakarta

    Oleh : Asep Mulyana13 September 2018 14:25
    fotografer: Asep Mulyana
    INILAH, Purwakarta - Finlandia University, merasa kagum dengan konsep Pendidikan Berkarakter yang selama ini di terapkan di Kabupaten Purwakarta. Hal tersebut diketahui setelah perwakilan dari Finlandia University menggelar sharing and hearing dengan Dinas Pendidikan setempat.

    Dalam kegiatan yang digelar di Hotel Harper Purwakarta, pada Rabu (12/9/2018) malam, kedua pihak juga turut menghadirkan mantan Bupati Purwakarta, Dedi Mulyadi, yang dalam hal ini sebagai penggagas pendidikan berkarakter di kabupaten tersebut.

    Sebelum pertemuan itu dimulai, pihak Finlandia University melakukan analisa terhadap penerapan pendidikan berkarakter di Purwakarta. Selama medio Februari-Agustus, mereka berkeliling ke sekolah-sekolah di kabupaten yang terkenal dengan Air Mancur Sri Baduga tersebut.

    Hasilnya, Finlandia University menemukan kesamaan pola antara penerapan pendidikan karakter di Purwakarta dan Finlandia. Hal ini, ditegaskan langsung oleh Executive Vice President dari Finlandia University, Pasi Kaskinen.

    Menurut dia, konsep pendidikan di Negeri Seribu Danau tempat dia tinggal, tidak pernah membebani pelajar. Sebagaimana di Purwakarta, pelajar Finlandia mengalami kebahagiaan saat menerima pelajaran.

    "Pendidikan di Purwakarta hampir sama dengan di Finlandia. Pelajar Purwakarta bahagia, pelajar Finlandia pun begitu. Fokusnya juga, lebih kepada keterampilan dan kemampuan pelajar," katanya, sesaat setelah Dedi Mulyadi memaparkan konsepnya.

    Dia mengaku, dari aspek kurikulum pun dirinya menemukan kesamaan. Salah satunya, mengenai pelajaran yang masuk dalam kurikulum dan disesuaikan dengan kultur sekolah setempat. Jadi, Purwakarta menurut dia, telah melakukan hal yang sama dengan menerapkan kurikulum sesuai dengan karakter wilayah.

    "Jadi, antara satu sekolah dengan sekolah yang lain ada perbedaan, sesuai karakter wilayah masing-masing," jelas dia.

    Pasi pun sempat berkelakar sesaat setelah Dedi menceritakan tentang kontroversi yang muncul akibat penerapan pendidikan karakter di Purwakarta. Menurutnya, Dedi Mulyadi dan warga Purwakarta harus ke Finlandia untuk membuktikan bahwa konsep tersebut sangat berguna.

    "Pak Dedi ini enerjik. Konsep pendidikannya sesuai dengan kultur. Negara kami pun berpijak pada kultur kami sendiri. Mungkin bapak harus ke Finlandia dulu agar dipercaya," katanya sambil tertawa.

    Ditempat sama, Dedi Mulyadi menuturkan, Finlandia merupakan contoh konkret pemberlakukan pendidikan karakter dalam sebuah negara. Karena itu, kemantapan strategi penerapan tersebut penting untuk diberlakukan juga di Purwakarta.

    "Sekarang sangat jarang sekali para orang tua mengajarkan pendidikan aplikatif di rumah. Mereka lebih berorientasi mencari guru les. Sementara, aspek keterampilan kurang diajarkan," katanya.

    Atas dasar itu, Dedi berpandangan bahwa kekosongan peran tersebut harus diambil alih oleh pihak sekolah. Sehingga, pendidikan di sekolah berhasil membentuk watak dan kreativitas para pelajar. Ikhtiar ini diyakininya akan menghasilkan SDM yang kreatif dan produktif.

    "Contohnya saja kemarin, saat selesai acara Pembukaan Asian Games 2018, kita melihat orang jepang memungut puntung rokok. Itu karakter, anak-anak kita harus begitu, ada kepedulian terhadap lingkungan," ujarnya.

    Dedi menegaskan kerumitan teori dalam pendidikan tidak akan melahirkan apapun. Sebaliknya, pola pendidikan sederhana dengan melakukan fokus pada peningkatan skill pelajar lebih dibutuhkan.

    "Pendidikan harus sederhana, gak boleh rumit. Anak-anak belajar menenun, memasak dan mencuci, itu pendidikan. Kemudian, aplikasi dari pelajaran itu lebih dibutuhkan dibanding pendalaman teori," pungkasnya.[jek]

    TAG :


    Berita TERKAIT