• Jumlah Madrasah Negeri Minim

    Oleh : erika14 September 2018 18:45
    INILAH, Cirebon- Jumlah madrasah negeri di Indonesia masih minim. Belum sebanding dengan minat masyarakat menyekolahkan anak-anak ke madrasah yang kini tergolong tinggi.

    Kepala Balai Penelitian dan Pengembangan (Litbang) Agama, Nurudin mengatakan, dibanding sekolah umum, jumlah madrasah di Indonesia hanya 20% dari seluruh satuan pendidikan. Dari 20% itu, 92% di antaranya berstatus swasta.

    "Jadi, hanya 8% yang berstatus madrasah negeri. Berbanding terbalik dengan sekolah umum," ungkap Nurudin saat di Cirebon.

    Menurutnya, kondisi itu terjadi karena pendirian madrasah berbasis masyarakat, di mana setelah madrasah berdiri, pemerintah kemudian 'menegerikan' sebagian madrasah tersebut. Namun, kemampuan pemerintah melakukan hal itu memang terbatas, mengingat saat sebuah madrasah berubah statusnya menjadi negeri, konsekuensinya berupa anggaran.

    Dia menyebutkan, sebuah madrasah berstatus negeri, maka madrasah bersangkutan akan menjadi satuan kerja (satker). Dengan begitu, kepala sekolah madrasah negeri akan berperan sebagai kuasa pengguna anggaran (KPA).

    "Sebenarnya ada ribuan madrasah yang ingin dinegerikan, tapi belum bisa karena kemampuan pemerintah saat ini baru sejumlah itu," bebernya.

    Sekalipun tak berstatus negeri, tak sedikit pula madrasah swasta yang berkualitas sehingga status negeri atau swasta bukanlah persoalan. Bahkan, bantuan di pemerintah sesungguhnya lebih banyak untuk madrasah swasta.

    Selain itu, madrasah swasta juga tak hanya memperoleh bantuan dari pemerintah, melainkan pula dari masyarakat. Dia pun memastikan, minat masyarakat menyekolahkan anaknya ke madrasah tinggi. Para orang tua saat ini percaya madrasah bisa membentengi anak-anak mereka dari degradasi moral, selain memberi bekal ilmu pelajaran umum.

    "Perlu dicatat, hasil riset dan tren di seluruh Indonesia menyebutkan, madrasah kesulitan menolak siswa baru karena tingginya animo masyarakat," tambahnya.

    Sulitnya madrasah menolak siswa baru karena tingginya animo masyarakat tak sebanding dengan ketersediaan ruang kelas maupun sarana dan prasana yang ada. Untuk itu, madrasah menolak halus dengan cara menetapkan passing grade yang tinggi bagi siswa yang ingin masuk sehingga madrasah bukan lagi sebagai pilihan, tapi sebagai tujuan.

    Sementara, Kepala Bidang Pendidikan Madrasah Kanwil Kementerian Jawa Barat, Abudin menyatakan, minimnya madrasah negeri juga terjadi di Jabar. Di Jabar terdapat 14.790 madrasah, baik negeri maupun swasta, yang mencakup semua jenjang, mulai dari Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTs), dan Madrasah Aliyah (MA).

    Dari jumlah itu, khusus untuk jenjang MA ada 1.297 madrasah. Namun, dari 1.297 MA tersebut, hanya 77 MA berstatus negeri.

    "Memang MA Negeri sedikit sekali, berarti 95% di antaranya itu swasta," katanya.

    Minimnya madrasah negeri, lanjutnya, tak hanya terjadi di jenjang MA, melainkan di semua jenjang. Meski begitu, status madrasah swasta pun di sisi lain tak menghalangi minat masyarakat.

    Dia pun menyatakan, kurikulum pendidikan di madrasah lebih banyak ketimbang sekolah umum karena adanya tambahan mata pelajaran agama secara spesifik. Dia menyontohkan, untuk pelajaran agama di sekolah umum, hanya ada Pendidikan Agama Islam (PAI), sedangkan di madrasah ditambah pelajaran Akidah Akhlak, Alquran Hadis, dan sejarah kebudayaan Islam.[jek]

    TAG :


    Berita TERKAIT