• Pemilu 2019, Persaingan Sengit Partai Koalisi

    Oleh : Rianto Nurdiansyah15 September 2018 19:07
    fotografer: Ilustrasi/net
    INILAH, Bandung - Pemilihan Umum (Pemilu) 2019 menjadi pemilu pertama yang menggelar pemilihan legislatif dan eksekutif secara serentak. Dipastikan, semua partai ingin memenangkan pertarungan baik di Pemilihan Presiden (Pilpres) maupun Pemilihan Legislatif (Pileg).

    Pengamat Politik menilai, di balik ketatnya pertarungan pada Pemilu 2019, persaingan lebih sengit justru bakal terjadi di antara partai-partai yang berkoalisi.

    Diketahui, pada hajat Pilpres 2019, sebagai petahana pasangan Joko Widodo-Ma'ruf Amin diusung koalisi partai gemuk yakni PDIP, Golkar, PPP, PKB, Hanura, NasDem, PSI, Perindo, dan PKPI. Sementara rivalnya Prabowo Subianto-Sandiaga Uno hanya diusung Gerindra, PKS, PAN, dan Demokrat.

    Dengan kondisi hanya ada dua pasangan calon presiden-wakil presiden di Pilpres 2019, pemilih pun akan terbagi menjadi propetahana dan antipetahana. Pemilih yang terbelah itu akan terbagi lagi menjadi dua, yakni pemilih nasionalis dan Islamis.

    Meski sama-sama berpotensi meraih coattail Effect alias efek ujung jas, persaingan lebih ketat antarparpol justru akan terjadi di kubu Jokowi-Ma'ruf Amin dengan 9 parpol pengusungnya. Itu jika disandingkan dengan kubu Prabowo-Sandiaga yang hanya diusung 4 parpol.

    "Pemilih yang mendukung petahana dan cenderung abangan akan memilih antara PDIP, Golkar, Nasdem, Hanura, Perindo, PSI, sedangkan yang santri akan memilih antara PPP dan PKB," ujar Direktur Eksekutif Indonesia Strategic Institute (Instrat) Jalu Priambodo di Bandung, Sabtu (15/9/2018).

    Menurut dia, efek ujung jas adalah indikasi mengapa elite Demokrat, PAN dan PKS akhirnya merapat pada duet Prabowo-Sandiaga saat pencapresan. Walapun pasangan ini sama-sama berasal dari Gerindra. Alasannya, tidak rela apabila partai lain mendapat limpahan elektoral lebih besar

    "Misal jika Prabowo mengambil AHY (kader Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono), maka elektoral akan lebih besar ke Demokrat," katanya.

    Jika berkaca pada 2009, dia menilai, jagat politik dikejutkan lonjakan perolehan suara Demokrat dari 7,45% menjadi 20,85% yang mengantarkannya menjadi pemuncak klasemen legislatif.

    Menurut Jalu, lonjakan suara Demokrat terkait dengan elektoral Soesilo Bambang Yudhoyono (SBY) secara personal sebagai calon presiden petahana yang turut mengangkat suara partainya, yang diistilahkan sebagai coattail effect.

    "Kondisi serupa juga akan terjadi jelang Pemilu 2019. Joko Widodo sebagai petahana memiliki potensi untuk memberikan efek ujung jas bagi partai yang mendukungnya," ungkapnya.

    Menurut dia, efek terbesar tentu akan diperoleh PDIP. Pasalnya, selain partai pengusung, PDIP juga menjadi partai tempat Jokowi berasal. Partai lain yang mendukung Jokowi, kata Jalu, tentu perlu menyesuaikan strategi tambahan agar turut menikmati limpahan elektoral.

    "Sebagai satu-satunya rival Joko Widodo, Prabowo Subianto pun tentu bakal menghadirkan efek yang sama bagi partai pengusungnya," katanya seraya menyebutkan, Gerindra sebagai partai tempat Prabowo Subianto berasal juga diprediksi menjadi penikmat terbesar dari coattail effect.

    Diketahui, ajang Pilpres dinilai bakal sangat berpengaruh pada pentas pemilihan legislatif (pileg) yang juga akan dilaksanakan bersamaan pada April 2019 mendatang.

    Karena itu, untuk Pileg 2019 Jalu katakan partai pun harus menyiapkan strategi tambahan guna memenangi persaingan. Mengingat persaingannya akan lebih ketat daripada pilpres, terlebih dengan semakin meningkatnya elektoral threshold.

    Dia juga sampaikan, perlu ada diferensiasi tambahan guna menempatkan diri di hati pemilih. Artinya, tidak cukup hanya mendiferensiasikan diri sebagai nasionalis atau Islamis.

    Partai nasionalis di kubu Jokowi-Ma'ruf Amin yang diprediksi bakal menghadapi persaingan paling sengit sudah mulai terlihat mencari diferensiasi lebih, seperti PSI yang sejak awal sudah mendeklarasikan diri sebagai partainya kaum milenial.

    "Lalu, Golkar menempatkan diri sebagai partai paling dominan dan berpengalaman, termasuk NasDem yang selama perhelatan pilkada sudah berinvestasi dengan mendukung sosok-sosok cakada yang punya potensi menang tinggi. Bahkan, NasDem pun kini menggunakan kepala daerah untuk memperkuat posisinya di Pemilu 2019," paparnya.

    Dia memprediksi, Partai Demokrat akan menggunakan strategi serupa dengan NasDem. Hal itu terbaca dari pernyataan petinggi Demokrat yang akan memberi dispensasi kepada kepala daerah maupun tokoh masyarakat yang mendukung Jokowi, asalkan mereka tetap mendukung Demokrat di Pileg 2019.

    "Ada juga partai yang berupaya memanfaatkan suara pemilih yang kecewa dengan komposisi petahana-penantang saat ini. Gerakan #2019GantiPresiden yang terus dipertahankan kehadirannya bisa jadi dimanfaatkan PKS untuk meraup dukungan pemilih tipe ini," jelas Jalu seraya mengatakan, akan menarik jika PKS berhasil mengajak mereka yang golput di pilpres untuk tetap memilih di pileg.

    Karena pelaksanaan pileg dan pilpres akan membawa dimensi persaingan baru, partai perlu lebih adaptif menyadari peta pemilih yang akan dihadapi. Itu yang perlu disadari, apapun yang bentuk strateginya pada pelaksanaan Pilpres dan Pileg 2019 ini.

    "Disadari atau pun tidak, saingan terbesar partai politik di 2019 adalah partai koalisinya sendiri dalam pemilihan presiden," pungkasnya. [gin]

    TAG :


    Berita TERKAIT