• Budaya Sunda Bikin Mahasiswa Asing Jatuh Cinta

    Oleh : Daulat Fajar Yanuar11 April 2018 22:41
    INILAH, Jakarta - Beragam cara dilakukan pemerintah untuk memperkenalkan ragam budaya, bahasa, dan seni yang dimiliki bangsa Indonesia kepada dunia luar. Salah satu caranya yaitu dengan mendatangkan mahasiswa asing dari berbagai negara untuk mempelajari kekayaan Nusantara tersebut melalui program Darmasiswa.

    Sekretaris Jenderal Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Didik Suhardi mengatakan, mahasiswa asing yang mengikuti program Darmasiswa nantinya akan difokuskan untuk mempelajari seni, budaya, dan pendidikan selama mereka tinggal di Indonesia.

    “Setelah mereka menyelesaikan program ini, mereka akan menjadi bagian dari Indonesia dengan berperan sebagai duta budaya Indonesia di negaranya masing-masing. Di sana juga mereka banyak yang berkontribusi untuk Indonesia seperti dalam bidang pembangunan perdamaian dan ketertiban dunia,” kata Didik kepada wartawan di Jakarta, Rabu (11/4).

    Konsep memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia dengan mengundang mahasiswa asing untuk belajar di sini dapat dikatakan sangat efisien sebagai media pengenalan bagi negara-negara sahabat. Hal ini diakui oleh Suhendi yang menjabat sebagai Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Sistem Informasi, dan Kerja Sama Institut Seni dan Budaya Indonesia (ISBI) Bandung.

    Dia telah membuktikan bahwa mahasiswa asing yang mengikuti program Darmasiswa di kampusnya sangat tertarik untuk mempelajari seni dan kebudayaan Sunda seperti Karawitan, walaupun mereka mengambil program seni lukis dan sebagainya.

    Tingginya minat mahasiswa asing untuk mengikuti program ini menunjukkan bahwa Indonesia memiliki corak kebudayaan yang sangat berbeda dari negara manapun. Melalui program ini pula mahasiswa asing tersebut dapat lebih memperkenalkan kekhasan Indonesia kepada para kerabatnya dengan cara yang lebih mengena karena mereka memiliki pengalaman langsung selama berada di Indonesia.

    “Akan lebih baik jika pemerintah menambah kuota Darmasiswa yang tentunya dengan sistem seleksi yang lebih ketat. Selain itu, idealnya kan mereka yang belajar budaya kita, ya. Jadi bisa enggak kalua pengantarnya memakai bahasa Indonesia bukan bahasa mereka,” kata Suhendi.

    Banyak mahasiswa asing yang mengikuti program Darmasiswa mengaku enjoy selama tinggal di Indonesia dan sangat terkesan dengan langgam kebudayaan yang dimilikinya. Salah satunya adalah Luigi Monteanni, peserta Darmasiswa asal Italia, yang mendalami kesenian Reak yang identik dengan suara dari alat musik tradisional dan penari yang menggunakan topeng singa bersurai hitam, terbuat dari kayu dan karung goni.

    Luigi menjelaskan, ketertarikannya itu dikarenakan kesenian Reak berasal dari beragam unsur kebudayaan masyarakat Jawa Barat baik yang sifatnya religius, adat istiadat, ataupun mistis. Untuk memperdalam khazanah ke-Reak-annya, Luigi bahkan setiap akhir pekan menghabiskan waktunya di bilangan Bandung Timur untuk berkumpul bersama komunitas penggiat seni Reak.

    “Saya di sana belajar dengan komunitas Reak, kadang-kadang saya juga tampil bareng bersama mereka. Mungkin nanti setelah studi S2 saya selesai, saya akan kembali ke sini untuk memperdalam studi tentang Reak. Saya akan mencari beasiswa doktoral untuk itu,” kata Luigi.

    Kekaguman Seidishova Dinara Toktasovna terhadap kebudayaan Indonesia berbeda dengan Luigi. Peserta Darmasiswa asal Kazakhstan yang ‘berkuliah’ di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) itu mengaku sangat terpukau dengan keramahan dan kemurahan senyum warga Bandung. Menurutnya hal ini sangat berbeda dengan kebiasaan warga di negaranya yang tidak banyak tersenyum kepada orang lain.

    Dinara mengaku memutuskan untuk ikut dalam program Darmasiswa karena ajakan dari temannya yang sering mengabarkan keindahan Indonesia terutama Kota Bandung saat dia sedang mengikuti program yang sama pada tahun sebelumnya.

    “Saya juga pertama kali mengenal Indonesia saat menjadi panitia pertemuan ekonomi dunia di kota Astana lima tahun yang lalu. Setelah ini saya ingin bekerja di Kedutaan Besar Indonesia untuk Kazakhstan,” ujar Dinara.

    Lain Luigi dan Dinara lain pula Sahib Tahirov peserta Darmasiswa asal Azerbaijan. Selama tujuh bulan tinggal di Kota Bandung dan menimba ilmu di UPI, rupanya ada dua hal yang unik yang sangat membuatnya tertarik yaitu ragam hantu dan perdukunan karena diakuinya hal itu tidak ada di negaranya.

    Pria bule yang mahir berbahasa Indonesia itu mengaku terheran-heran ternyata di Indonesia ada sebuah suku yang dapat memotong tangannya namun tidak mengeluarkan darah. Selain itu, cerita-cerita hantu Indonesia pun cukup membuatnya tertarik karena begitu mengakar di masyarakat.

    “Menurut saya, hantu lebih berbahaya dan menakutkan daripada penjahat karena kalau penjahat bisa kita pukul, sedangkan hantu tidak bisa kita pukul,” katanya.[jek]

    Tags :
    # #


    Berita TERKAIT