• Dedi Mulyadi Khawatir Gaya Mulut Ngabalin Pengaruhi Eletabilitas Jokowi

    Oleh : Asep Mulyana04 September 2018 12:43
    INILAH, Purwakarta - Budayawan Jawa Barat, Dedi Mulyadi mengkhawatirkan, gaya komunikasi Ali Mochtar Ngabalin sebagai juru bicara, bisa berpengaruh terhadap elektabilitas Jokowi dalam Pilpres 2019 mendatang.

    Ketua DPD Golkar Jabar ini juga berpendapat, posisi Ngabalin sebagai Tenaga Ahli Utama Deputi IV Komunikasi Politik KSP ini sangat berpengaruh terhadap kandidat. Karena itu, citra juru bicara di mata publik harus menjadi salah satu pertimbangan mendasar bagi tim sukses.

    "Saya harap sih Pak Ngabalin bisa lebih memperbaiki gaya komunikasinya. Mungkin saja, dalam kultur Pak Ngabalin pola itu terbilang biasa. Tetapi ini pilpres, kultur masyarakatnya bukan hanya kultur masyarakat tempat Pak Ngabalin terlahir. Kita bicara seluruh kultur di Indonesia," ujar Dedi, Selasa (4/9/2018).

    Menurut Dedi, seharusnya pola komunikasi yang dilakukan Ali Mochtar melahirkan ketenangan semua pihak. Hal ini terkait dengan profiling figur Joko Widodo sendiri yang dikenal tenang dan santun. Ketegasan calon presiden pejawat itu, juga tergambar dari sikap dan kebijakan, bukan dari kata-kata.

    Sebagai Budayawan, Dedi memiliki pengetahuan tentang kultur-kultur masyarakat di Indonesia. Dia mencontohkan kultur masyarakat di Pulau Jawa. Publik di Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur menyukai komunikasi yang tidak frontal.

    "Secata umum, publik tidak menyukai karakter frontal. Mereka lebih menyukai karakter penuh ketenangan tetapi dengan argumentasi yang kuat dan tidak terkalahkan," seloroh dia.

    Pria yang memiliki jam terbang di dunia politik selama 20 tahun ini juga mengingatkan, kalau gaya komunikasi Ngabalin tetap seperti itu dikhawatirkan malah berdampak terhadap Jokowi.

    "Orang yang tidak suka terhadap gaya Pak Ngabalin, bisa menjadi tidak suka kepada Pak Jokowi. Ini nanti arahnya ke depannya soal elektabilitas beliau," tegas dia.

    Dedi Mulyadi juga memiliki kriteria sederhana tentang sosok yang pantas dijadikan juru bicara. Sosok tersebut kata dia, tidak harus pintar tetapi memiliki pembawaan yang tenang dan santun. Karakter seperti ini, tambahnya, sangat disukai calon pemilih.

    "Banyak orang cerdas tetapi karakternya frontal. Ini publik tidak suka. Tetapi banyak juga orang yang tidak begitu cerdas tetapi tenang, kalem dan santun. Tokoh seperti ini disukai pemilih," tambah Dedi.

    Dia menambahkan, seluruh pihak terkait di tim pemenangan Jokowi-Ma'ruf harus menyadari bahwa kebutuhan Jokowi bukan dalam aspek popularitas. Karena, menurutnya, aspek tersebut telah dipenuhi oleh Mantan Wali Kota Solo itu.

    "Problemnya bukan di popularitas, tetapi bagaimana caranya agar elektabilitas Pak Jokowi tidak tergerus. Ceruk suara harus dijaga dengan pola komunikasi yang disukai seluruh ceruk suara," pungkasnya.[jek]

    TAG :


    Berita TERKAIT