• Headline

    Bahaya Lisan

    Oleh : Abdullah Gymnastiar07 Juni 2018 10:31
    Kita lihat banyak orang yang senang berbicara tapi tidak kurang terampil menjaga kemuliaan dengan kata-katanya. Banyak orang gemar berkata-kata tanpa bisa menjaga diri, padahal kata-kata yang terucap dari mulut seseorang harus selalu bisa dipertanggung-jawabkan.

    Sebab, boleh jadi kata-kata itulah yang akan menyeretnya ke dalam kesulitan. Sebelum berkata apa pun, kita yang menawan kata-kata, tapi sesudah kata terucapkan, kitalah yang ditawan kata-kata.

    Rasulullah Saw. bersabda: “Barang siapa memperbanyak perkataan, maka akan jatuh dirinya. Dan barang siapa yang dirinya jatuh, maka akan banyak dosanya. Dan barang siapa yang banyak dosanya, maka nerakalah tempatnya.”(HR. Abu Hatim).

    Secara kasat mata, lidah hanyalah bagian kecil dari organ tubuh manusia. Ia lentur, tidak bertulang. Namun, di balik sifat kelenturannya ini, tersimpan kedahsyatan yang bisa mengantarkan manusia ke pintu kebahagiaan, sekaligus bisa menjerumuskannya ke dalam kehinaan hidup di dunia dan akhirat.

    Abdullah ibn Mas‘ud mengungkapkan,“Wahai lisan, ucapkanlah yang baik-baik, niscaya kamu akan beruntung! Diamlah dari mengucapkan yang buruk-buruk, niscaya kamu akan selamat sebelum menyesal!”.

    Lisan seseorang adalah cerminan dari baik dan buruk dan cerminan kualitas iman seseorang. Nabi Saw. bersabda, “Tidak akan lurus iman seorang hamba sehingga lurus hatinya, dan tidak akan lurus hatinya, sehingga lurus lisannya. Dan seseorang tidak akan masuk surga apabila tetangganya tidak merasa aman dari kejahatan lisannya.” (HR Ahmad).

    Berhati-hatilah dalam menggunakan lisan ini; menggerakkannya memang mudah, tidak perlu menghabiskan tenaga yang besar, tidak butuh biaya mahal, tapi bencana bisa datang kepada kita hanya karena kata yang terucap oleh lisan. Berbicara itu baik, tapi diam jauh lebih bermutu. Dan ada yang lebih hebat dari diam, yaitu berkata benar.

    Suatu hari Luqman Al-Hakim diperintahkan majikannya untuk menyembelih seekor kambing dan mengambil dagingnya yang terbaik untuk jamuan tamu. Luqman pun membeli seekor kambing, kemudian menyembelihnya, lalu mengambil lidah dan hatinya untuk dimasak dan disajikan kepada majikan dan tamunya.

    Melihat hal itu, majikannya marah dan menegur, “Luqman, bukankah tadi aku perintahkan untuk mengambil daging terbaik untuk jamuan para tamuku?” Luqman pun menjawab, “Tidak ada daging terbaik kecuali lidah dan hati.”

    Beberapa waktu kemudian sang majikan memerintahkannya untuk menyembelih kambing kembali dan menyuruhnya agar membuang daging yang terburuk. Luqman pun pergi ke pasar untuk membeli kambing dan menyembelihnya, kemudian ia buang lidah dan hatinya.
    Melihat ulah Luqman, sang majikan pun kesal lalu berkata, “Apa maksudmu, wahai Luqman? Kemarin aku perintahkan untuk menyembelih kambing dan menghidangkan daging terbaik, tetapi kamu hanya menyuguhkan hati dan lidah. Sekarang, ketika aku menyuruhmu untuk menyembelih kambing lagi dan memerintahkan kepadamu agar membuang daging terburuk, kamu pun membuang hati
    dan lidah. Apakah kamu bermaksud mempermainkan aku?”

    “Maafkan hamba, Tuan, tetapi apa yang hamba lakukan itu memang sudah sepatutnya. Tidak ada daging terbaik kecuali lidah dan hati, apabila digunakan untuk kebaikan. Dan tidak ada daging terburuk kecuali lidah dan hati kalau digunakan untuk
    keburukan,” jawab Luqman dengan lugas.

    Lisanlah yang dapat menciptakan pola komunikasi manusia dengan manusia lainnya. Lisanlah yang memunculkan segala bahasa. Lisanlah yang memberi nada segala rasa.

    Lisanlah yang menimbulkan nyanyian dan irama. Lisan dapat membuat hati yang rindu menjadi mesra. Lisan yang penuh nasihat dapat menenteramkan amarah di dalam dada.

    Lisan dapat memutarbalikkan segala peristiwa. Dan lisanlah yang bisa membuat orang menangis menjadi tertawa. Lisan yang dihiasi pancaran iman dan akal yang sempurna akan selalu berzikir, beristighfar, dan mengucapkan hal-hal terpuji.

    Adapun lisan yang tidak dihiasai pancaran iman hanya akan melakukan hal-hal yang biasa dikenal dengan istilah
    bahaya lisan.[*]


    TAG :


    Berita TERKAIT