Bikin Adem, Siswa Islam dan Kristen di Bandung Ngecat Kelas Bareng

 Di tengah riuh isu intoleransi yang kerap menjadi perdebatan, para siswa di Bandung mempertontonkan kebersamaan yang bikin adem hati.

Bikin Adem, Siswa Islam dan Kristen di Bandung Ngecat Kelas Bareng
Para siswa kristen dan islam di Bandung bersama-sama mengecat ruangan kelas
INILAH, Bandung - Di tengah riuh isu intoleransi yang kerap menjadi perdebatan, para siswa di Bandung mempertontonkan kebersamaan yang bikin adem hati.
 
Para siswa dari SMA Kristen Trimulya melakukan pengecatan ruang kelas di SMA Yayasan At-taqwa Rajawali Bandung (ATRB)‎.
 
Puluhan siswa SMA Kristen Trimulya tiba di SMA ATRB pada ‎Kamis (10/1) pagi. Mereka kemudian disambut oleh para siswa ATRB dengan tarian jaipongan dan sejumlah penampilan baik dari tingkat SD, SMP mapun SMA.
 
Siswa ATRB rupanya tidak hanya sekadar menyajikan hiburan semata, namun‎ juga turut membawakan kasidahan yang dipadukan dengan shalawatan.
 
"Tadi pas datang kita sambut ada kasidah dan shalawatan. Disambut sama tari jaipong juga," kata Bagus Widya, Wakil Kepala Sekolah Bagian Kesiswaan SMA ATRB saat berbincang di sekolah, Jalan Andir Swadaya no. 117 A, Ciroyom, Bandung, Kamis (10/1).
 
Setelah acara penyambutan dan ramah tamah, para siswa dari SMA Kristen Trimulya dan siwa SMA. ATRB pun membaur lalu membuat kelompok. Masing-masing kelompok lantas membereskan ruang kelas dan mengecat ruangan kelas.
 
Perwakilan SMA Kristen Trimulya, Dwi Riswanto mengatakan bahwa kegiatan mengecat sekolah SMA ATRB ini merupakan ‎program yang dibuat khusus untuk pengembangan karakter siswa. 
 
Salah satunya, yakni memahami konsep toleransi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia.
 
"Di Trimulya setiap tahun ada Trimulya Caracter Camp (TCC), tema kita sekarang itu berbagi. Jadi anak-anak mengerti suku budaya, agama dan segala maacam, tapi bagaimana tindakan ini memberi dampak," ucap Dwi.
 
Dwi yang sekaligus menjadi kordinator TCC ini menyatakan bahwa progra pembangunan karakter diberlakukan pada 43 siswa yang barus masuk di kelas X atau sepuluh. 
 
Karena, sambung dia, nantinya kegiatan ini menjadi dasar untuk menuju jenjang berikutnya dengan berbekal karakter kuat dan kepekaan sosial tinggi.
 
"Sekaligus menunjukan nilai toleransi ketika ada satu tujuan membangun, bukan dilihat dari perbedaannya‎. Ini kan sangat indah berbaur saat ngecat sambil bercanda dan membaur," ujarnya.
 
Salah seorang siswa SMA Kristen Trimulia, Vanechka Manuel Sopater mengaku sangat antusias mengikuti program ini, karena selama ini dia tidak banyak mengetahui dunia luar sekolahnya. Bahkan, dia baru mengetahui lingkungan sekolah islam dari program TCC ini.
 
"Jadi tahu dan mengenal islam seperti apa, kita disambut juga. Mereka baik dan ramah, sopan, selama ini kita hanya di lingkungan kristen," kata Vanechka.
 
Bagi Vanechka, keberagaman di Indonesia selayaknya bukanlah sesuatu yang harus diperdebatkan.‎ "Buat apa dipermasalahkan beda agama beda suku,‎ kita harusnya saling menghargai," imbuhnya.
 
Hal senada juga diutarakan oleh salah seorang siswa SMA ATRB‎, Sandi Indriana. Menurutnya hidup berdampingan tanpa ada perselisihan terasa lebih indah, sekalipun berbeda latarbelakang.
 
"Sangat ngebantu dan kerasa kekeluargaannya. Kita sama, kita satu bangsa jadi ya seneng aja. Harusnya saling mengayomi," cetus Sandi.
 
Setiap kelompok yang terdiri dari campuran siswa SMA ATRB dengan SMA Kristen Trimulia ini juga diimbau unt‎UK membuat yel. Kemudian di saat tiba waktu istirahat mereka diajak untuk makan bersama. 
 


Editor : inilahkoran