• Senin, 27 September 2021

Kakak Beradik Sukses Jadi “Produsen” Angkot Setelah Di-PHK

- Minggu, 25 Juli 2021 | 20:00 WIB
Dokumentasi (reza zurifwan)
Dokumentasi (reza zurifwan)

INILAH, Bogor - Di-PHK (pemutusan hubungan kerja) oleh home industry alas kaki atau sepatu karena terpuruk dampak negatif dari pandemi Covid-19, tiga orang kakak beradik warga Kampung Laladon Cipadung RT 04 RW 012, Desa Sukaresmi, Kecamatan Tamansari, Kabupaten Bogor beralih menjadi pengrajin atau 'produsen' mobil-mobilan berbahan baku spon.

Produksi mobil-mobilan yang dulunya hanya tambahan penghasilan, sudah sejak enam bulan lalu mulai diseriusi hingga mulai bisa menghidupi keluarga sederhana mereka.

"Dari dulu kami sudah membuat mobil-mobilan dari spon namun hanya memenuhi pesanan anak-anak tetangga, semenjak di-PHK dan kehilangan pendapatan Rp1,4 juta perbulan, kami  pun menseriusi usaha ini hingga perlahan-lahan bisa menghidupi keluarga dengan ala kadarnya," ujar Rudi Priansyah kepada INILAH, Minggu (25/7/2021).

Anak ke 4 dari 5 saudara pasangan Jaya dan Rukmini ini menerangkan sebelum mendapatkan bantuan pelaku usaha kecil menengah (UKM) dari Kementerian Koperasi dan UKM, mereka hanya bisa membuat puluhan unit mobil-mobilan karena ketersediaan modal. Lalu dengan bantuan UKM sebesar Rp1,2 juta dalam satu bulan, mereka bisa membuat 100 unit lebih mobil-mobilan.

"6 bulan lalu karena keterbatasan modal, kami hanya bisa membuat puluhan mobil-mobilan, lalu dengan adanya bantuan UKM, kami bisa memproduksi 100 unit lebih mobil-mobilan dengan penghasilan kotornya lebih dari Rp 5 juta rupiah. Kami harap mendapatkan lagi bantuan UKM  karena saat ini usaha kami mulai berkembang karena banyaknya pesanan dan butuh juga bantuan laptop untuk bisa menjualnya via aplikasi penjualan," terangnya.

Rudi menuturkan semenjak mulai meningkatnya modal, ia dan kakak maupun adiknya mulai berani memasarkan mobil-mobilannya ke sosial media seperti facebook maupun whatsapp.

"Kami bisa membuat mobil angkot, Suzuki APV, Toyota Avanza, Daihatsu Xenia, Lamborghini, aneka macam truk dan bus wisata. Mobil-mobilan tersebut mulai dari harga Rp45 ribu hingga Rp75 ribu. Penjualan bisa partai maupun eceran dan hingga saat ini kami sudah banyak menjual ke Kabupaten maupun Kota Bogor," tutur Rudi.

Dari banyak type mobil-mobilan, pria yang hanya lulus SMP ini menjelaskan yang paling banyak dibeli ialah tipe angkot. Hal ini sesuai julukan Bogor sebagai kota sejuta angkot.

"Ikonnya Bogor itu angkot, di mana Bogor Raya itu dijuluki kota sejuta angkot. Kebanyakan pembeli kami juga merupakan pedagang UKM dan mobil-mobilan ini menjadi oleh-oleh khas Bogor yang dibawa wisatawan ke daerah asalnya," jelasnya. (reza zurifwan)

Halaman:

Editor: suroprapanca

Terkini

Kota Bogor Revisi Target Vaksin, Ini Penyebabnya

Kamis, 23 September 2021 | 18:00 WIB

Pemkot Bogor Segera Buka Tempat Wisata, Ini Pesan Bima

Kamis, 23 September 2021 | 17:27 WIB
X