• Senin, 27 September 2021

Mantan Jupel Situs Jadi Kades Pasir Eurih, Ternyata Punya Cita-cita Mulia

- Rabu, 28 Juli 2021 | 12:20 WIB
Ilustrasi/Reza Zurifwan
Ilustrasi/Reza Zurifwan

INILAH, Tamansari- Mantan juru pelihara (Jupel) Situs Taman Sri Baginda dan Sumur Jalatunda Raop Obay terpilih menjadi Kepala Desa Pasir Eurih, Kecamatan Tamansari, Kabupaten Bogor. Dia punya cita-cita yang mulia untuk melestarikan desanya sebagai Desa Wisata Budaya

Desa Pasir Eurih sendiri sangat layak menjadi Desa Wisata Budaya karena desa ini atau tepatnya kampung Sindang Barang adalah kampung tertua di Bogor, bahkan budaya mereka ada sejak Zaman Megalitikum.

"Desa Pasir Eurih atau tepatnya Kampung Sindang Barang adalah kampung tertua di Bogor. Itu ditandai dengan peninggalan zaman megalitikum, di mana ada 63 situs megalitikum," ucap Raup Obay kepada wartawan, Rabu, (28/7).

Ayah 4 orang anak ini menerangkan, selain  peninggalan zaman megalitikum, Desa Pasir Eurih juga eksis sebelum Kerajaan Pajajaran yang berdiri 539 tahun lalu. Di Desa Pasir Eurih dulunya ada Kerajaan Sunda Sura Bima, dimana anak perempuannya Kentring Manik menikah dengan Prabu Siliwangi dan melahirkan putra mahkota Prabu Surawisesa.

"Di era Kerajaan  Sunda Sura Bima dan Pajajaran, juga meninggalkan peninggalan seperti Situs Sumur Jalatunda, Taman Sri Baginda, Situs Tujuh Sumur Air dan lainnya. Oleh karena banyaknya peninggalan diatas, maka Desa Pasir Eurih pun memantapkan diri menjadi Desa Wisata Budaya," terangnya.

Obay sapaan akrabnya memaparkan, selain warisan fisik seperti situs, Desa Pasir Eurih juga  masih melestarikan budaya makanan tradisional, teupa kujang dan kaulinan budak.

"Wisatawan yang berkunjung ke Desa Pasir Eurih, selain bisa melihat situs-situs, juga bisa mengunjungi teupa atau tempat pembuatan senjata kujang, menonton gendang pencak, melihat tempat pembuatan karinding, ikut bermain  kaulinan budak seperti kaulinan engrang, bakiyak  sumpit beubeuleutokan serta perepet jengkol dan memakan makanan tradisional khas Bogor seperti jipang, manisan pala, sirup pala, kembang goyang, ongol-ongol ataupun wajit ganyong. Semua yang ada di Desa Pasir Eurih ini, belum tetu dapat ditemui di desa atau wilayah lain," papar Obay.

Ia melanjutkan sebagai desa yang melestarikan budaya, pastinya menghadapi tantangan budaya modern dan majemuknya masyarakat. Pria berusia 38 tahun ini punya strategi agar anak-anak muda di Desa Pasir Eurih bangga akan warisan budayanya.

"Desa Pasir Eurih ini kan lokasinya dekat sekali dengan Kota Bogor, pasti ada tantangan modernnya budaya dan majemuknya masyarakat. Namun saya punya strategi bagaimana membangun kesadaran para generasi muda untuk ikut terlibat dalam pelestarian Desa Wisata Budaya. Pasca pandemi Covid-19, kami juga punya strategi agar Desa Pasir Eurih menjadi magnet wisatawan nusantara maupun mancanegara untuk berkunjung ke Bogor,"  lanjutnya. (Reza Zurifwan)

Halaman:

Editor: Bsafaat

Tags

Terkini

Kota Bogor Revisi Target Vaksin, Ini Penyebabnya

Kamis, 23 September 2021 | 18:00 WIB

Pemkot Bogor Segera Buka Tempat Wisata, Ini Pesan Bima

Kamis, 23 September 2021 | 17:27 WIB
X