• Jumat, 17 September 2021

Jangan Dulu Euforia, IDI Kota Bogor Ingatkan Bom Waktu Gelombang Ketiga Covid-19

- Selasa, 14 September 2021 | 10:10 WIB
foto: INILAH/Rizki Mauludi
foto: INILAH/Rizki Mauludi
 
INILAH, Bogor - Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Kota Bogor Ilham Chaidir khawatir dengan euforia masyarakat karena angka Covid-19 melandai, akan tetapi euforia dengan berpergian liburan ataupun banyak berkegiatan ditaman kota atau bahkan ke tempat wisata bisa menjadi bom waktu menjadi gelombang ketiga.
 
Karena itu pihaknya meminta Pemkot Bogor bisa mengingatkan masyarakat agar bisa menahan diri hingga herd immunity tercapai.
 
"Sampai saat ini alhamdulillah sudah Bed Occupancy Rate (BOR) Kota Bogor sudah dibawah 10 persen, bahkan pasien di RSUD tinggal 19 pasien dan menunggu untuk pulang. Tapi kita tidak boleh lengah, harus benar-benar mengawasi jangan sampai terjadi lonjakan kembali. Maka upaya promotif dan preemtif digalakan. Testing, Tracing dan Treatment (3T) dan Protokol Kesehatan (Prokes) dijalankan, sekarang saya melihat jalanan mulai padat, saya khawatir itu seperti bom waktu yang sewaktu-waktu bisa meledak," ungkal Ilham Chaidir pada Selasa (14/9/2021).
 
 
Ilham melanjutkan, pihaknya melihat orang yang datang ke Bogor, Puncak, Cianjur (Bopuncur) dan sekitarnya sangat luar biasa, orang-orang banyak yang ke taman-taman Kota Bogor, mau tidak mau IDI Kota Bogor mendorong Pemkot Bogor bersama jajaran bersama-sama mengingatkan masyarakat.
 
"Kami juga ingatkan ke masyarakat soal Covid-19 ini, karena sekuat apapun penanganan tanpa kesadaran masyarakat, pastinya sulit. Karena kesadaran masyarakat yang diperlukan oleh kita," tuturnya.
 
Ilham juga meminta, agar semua pengurus dan anggota IDI Cabang Kota Bogor bisa istiqomah dalam kebaikan, istiqomah juga dalam memperjuangkan IDI yang profesional, istiqomah ikut serta aktif dalam memperjuangkan kesehatan rakyat Indonesia.
 
 
"Ya, terima kasih IDI Cabang Kota Bogor sudah ambil bagian dalam memerangi Covid-19, membantu vaksinasi dan membuka layanan konsultasi untuk pasien Covid-19. Tentunya semoga diberkahi Allah SWT dengan niat ikhlas sebagai wujud ibadah," terangnya.
 
Sementara itu, mantan Ketua IDI Kota Bogor, Zainal Arifin menambahkan, rekan-rekan dokter di IDI Cabang Kota Bogor yang ditakutkan saat ini adalah masyarakat sudah abai soal Covid-19, padahal semua harus bersabar beberapa bulan lagi karena sudah membaik kondisi ini.
 
"Ya, mudah-mudahan angka Covid-19 masih stabil beberapa bulan kedepan. Kuncinya masyarakat harus bersabar, saya kira apabila semua masyarakat sudah divaksin kondisi bisa lebih baik. Mudah-mudahan herd imunity segera tercapai," tuturnya.
 
 
Sementara itu, Wali Kota Bogor, Bima Arya mengatakan, dirinya mengapresiasi kepada seluruh insan kedokteran di Kota Bogor dalam masa yang tidak mudah ini. Pasalnya, hampir 2 tahun ini berada di garda terdepan. Bahkan tidak sedikit yang wafat dalam menjalankan tugasnya. Saat ini angka BOR di Kota Bogor rendah, sempat dahuli diangka 87 persen, tapi saat ini 10 persen. Positivity rate juga semakin baik dan secara keseluruhan Bogor jauh lebih membaik.
 
"Ya, tapi kita harus tetap waspada. Capaian ini tidak terlepas dari perjuangan insan kedokteran yang berada di garda terdepan dengan segala suka citanya.Terima kasih atas koordinasi dan kolaborasi yang sangat baik selama ini. Say sepakat apa yang dikatakan Ketua Umum PB IDI, Daeng Mohammad Faqih 'Hope for the best, Prepare for the worst'. Kita harus melakukan langkah antisipasi, agar kita betul-betul bisa memenangkan perang melawan Covid-19. Kita antisipasi kelalaian warga," tuturnya.
 
Bima mengakui, warga seolah tidak sabar untuk liburan dan lainnya. Maka dilakukan juga aspek kuratifnya, bagian dari tugas pemerintah untuk berbuat baik lagi untuk warga.
 
 
"Kita harapkan yang terbaik, tapi kita harus antisipasi kondisi terburuk. 
Saya titip ke teman IDI Kota Bogor agar membantu juga lakukan langkah-langkah antisipatif, dan ini agar kita bisa memenangkan perang melawan pandemi, mengantisipasi hadirnya varian baru, kita juga antisipasi kelalaian warga. Jadi tugas kami bukan saja pada aspek kuratifnya, tapi juga preemtif, preventif dan promotif," jelasnya. 
 
Bima berpendapat, pemerintah tidak mungkin bisa memenangkan melawan pandemi Covid-19 tanpa adanya kolaborasi. 
 
"Pemkot Bogor tidak bisa sendiri dan tidak bisa mengandalkan asumsi saja. Riset, survei, penelitian di semua bidang mutlak diperlukan untuk mengambil kebijakan," pungkasnya. (rizki mauludi)
 

Editor: JakaPermana

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Duh, Bangunan SD Dekat Istana Bogor Ambruk

Kamis, 16 September 2021 | 17:04 WIB

Tokoh Pers Bogor H. Herman Suriawijaya Tutup Usia

Kamis, 16 September 2021 | 08:22 WIB
X