Dishub Kota Bogor Gelar Sosialisasi Pra-operasional Transpakuan BTS

Dishub Kota Bogor menggelar sosialisasi angkutan umum perkotaan pra-operasional koridor Transpakuan dengan skema buy the service (BTS).

Dishub Kota Bogor Gelar Sosialisasi Pra-operasional Transpakuan BTS

INILAHKORAN, Bogor - Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Bogor menggelar sosialisasi angkutan umum perkotaan pra-operasional koridor Transpakuan dengan skema buy the service (BTS).

Sedikitnya 60 orang undangan mengikuti sosialisasi yang digelar di kantor Dishub Kota Bogor, Senin 4 Oktober 2021 sore. Mereka terdiri dari berbagai elemen transportasi mulai dari badan hukum hingga Organisasi Angkutan Darat (Organda).

Kepala Dishub Kota Bogor Eko Prabowo mengatakan, pelaksanaan bus BTS di Kota Bogor sudah tertuang dalam perjanjian kerja sama (PKS). Dalam perjanjian itu, semua pihak harus bisa menjamin kelancaran pelaksanaan program BTS di Kota Bogor.

Baca Juga: Kebocoran Pipa Ganggu Suplai Air Istana Bogor, Dedie A Rachim: Pengembang Double Track Hati-hati!

"Bersama Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ), kami tularkan ilmu dan pengetahuan soal BTS, agar mereka yang hadir ini juga menyampaikan lagi ke bawah. Total 120 orang, besok (5/10/2021) kami sosialisasi ke pengemudi," kata Eko, Senin 4 Oktober 2021.

Dia menuturkan, dalam sosialisasi itu pihaknya menjelaskan mulai dari rencana operasional, rencana waktu operasi, titik lintasan, skema kelancaran dan keamanan, hingga peran-peran dari berbagai stakeholder transportasi yang ada di Kota Bogor. Termasuk, aturan-aturan operasional dan standar operasional prosedur (SOP) yang berlaku di bus skema BTS. Tujannya, agar berbagi peran untuk kelancaran semuanya agar yang tidak paham menjadi paham.

"Intinya, harus membiasakan diri dengan aturan main di BTS. Tugas Pemkot Bogor untuk tahap pra-pelaksanan BTS di Kota Bogor salah satunya itu. Jadi sejak awal, keterlibatan teman-teman yang hadir disini ini sangat diperlukan untuk kelancaran program BTS," bebernya.

Baca Juga: Sengketa Lahan Belum Termediasi, Warga Bojong Koneng Keburu Anarkis

Eko memaparkan, sejauh ini ada dua koridor yang disiapkan untuk mengaspalnya 26 bus BTS dari total 75 unit bus sesuai dalam kontrak. Namun, pihaknya masih mematangkan koridor mana saja yang akan pertama kali menjadi trayek dari bus BTS.

"Tergantung kesiapannya. Apakah koridor 1 dan 2, atau koridor 1 dan 4, ini masih proses. Yang jelas harus sudah ada yang dikonversikan di koridor itu, satu bus untuk tiga angkot," paparnya.

Terkait kesiapan sarana prasarana di lapangan, tak kurang dari 12 shelter tengah diperbaiki dan dipoles. Plus, 24 shelter yang merupakan milik pemerintah pusat, yang tengah dirombak total agar halte bus BTS nantinya sesuai dengan SOP. Untuk petugas di shelter, akan menjadi kolaborasi antaran BPTJ, Dishub, badan hukum hingga Organda untuk kelancaran program BTS.

Sementara itu, Kasubdit Angkutan Orang BPTJ Saptandri Widiyanto menuturkan sosialisasi ini relatif perlu karena pihaknya mengharapkan agar program BTS ini segera terlaksana di Kota Bogor. Dalam salah satu persyaratannya, program ini harus menghadirkan bus baru.

Baca Juga: PTM Terbatas, Kadisdik Kota Bogor Imbau Siswa Gunakan Transportasi Online

Untuk itu, pihaknya pun mendorong agar Perusahaan Daerah Jasa Transportasi (PDJT) sebagai pemenang lelang, segera merealisasikan kewajiban menyediakan bus baru untuk 6 koridor.

"Kami mau cepat, tapi kami mengerti karena program BTS ini butuh penyiapan dan penyediaan bus baru, sesuai dalam persyaratan. Untuk launching, kita tunggu kesiapan PDJT yang berpartner dengan PT Kodjari dan Lorena, dalam menyediakan busnya. Sosialisasi ini kami sampaikan apa-apa tentang BTS. Harapannya secepatnya segera direaliasi dan dilaunching," bebernya.

Di tempat yang sama, Ketua Organda Kota Bogor M Ishak menegaskan program bus BTS ini didukung penuh pihaknya. Pasalnya, Wali Kota Bogor Bima Arya sempat mengucapkan agar moda transpotasi angkot diubah menjadi bus.

Baca Juga: Inikah Sebab Oknum Warga 'Ngamuk' dan Rusak Kantor Kepala Desa Bojong Koneng?

"Kami mendukung sekali. Sebelum sosialisasi dengan Dishub, kami sudah door to door ke lapangan kepada sopir juga pengusaha dan mereka menerima. Pelaksanaan BTS bisa diterima. Arahan kami kepada mereka, tidak mungkin pemerintah merugikan rakyatnya, jadi ingin memajukan masyarakat nya. Mungkin ada satu dua yang masih kurang setuju. Tetapi KKU dan KKSU sudah berjalan. Kalaupun mereka menolak, mereka selamanya jadi pengusaha angkot, padahal kami mengajak agar menjadi pengusaha bus. Dengan jadi pengusaha bus mudah-mudahan bisa lebih sejahtera," jelas Ishak.***(rizki mauludi)


Editor : inilahkoran