• Kamis, 28 Oktober 2021

Di Balkot Bogor Budayawan dan Ormas Tolak Glow dan Kebun Raya Dikelola Swasta, Ancam Ngadu ke Ridwan Kamil

- Rabu, 13 Oktober 2021 | 16:00 WIB
Ratusan massa yang terdiri dari budayawan dan Organisasi Massa (Ormas) melakukan aksi unjuk rasa di halaman Balai Kota Bogor, Rabu 13 Oktober 2021. (Rizki Mauludi)
Ratusan massa yang terdiri dari budayawan dan Organisasi Massa (Ormas) melakukan aksi unjuk rasa di halaman Balai Kota Bogor, Rabu 13 Oktober 2021. (Rizki Mauludi)
INILAH, Bogor - Ratusan massa yang terdiri dari budayawan dan Organisasi Massa (Ormas) melakukan aksi unjuk rasa di halaman Balai Kota Bogor, Rabu 13 Oktober 2021. Mereka menolak pihak swasta mengelola wisata malam GLOW dan Kebun Raya Bogor. 
 
Bahkan sejumlah budayawan berencana bakal mengontrog kantor Gubernur Jawa Barat (Jabar), Ridwan Kamil dalam waktu dekat ini.
 
Aksi unjuk rasa ini diterima Jajaran Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) yaitu Wakil Wali Kota Bogor Dedie A Rachim, Kapolresta Bogor Kota Kombes Polisi Susatyo Purnomo Condro dan Dandim 0606/Kota Bogor Kolonel Inf Robby Bulan.
 
 
Massa juga akan menyampaikan aspirasi ke Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil dan memohon agar Presiden Republik Indonesia (RI) Joko Widodo atau Jokowi mau mendengarkan aspirasi dari masyarakat Kota Bogor. Aksi unjuk rasa diakhiri pementasan seni bela diri pencak silat dan seni khas Sunda lainnya di halaman Bali Kota Bogor.
 
"Ada tujuh poin tuntunan yang mereka sampaikan untuk pengelola Kebun Raya Bogor (KRB), karena KRB ini tidak dibawah Pemkot Bogor, tapi pemerintah pusat, sehingga perlu ada proses penyampaian dari kami ke pengelola langsung. Tapi insyaallah secepatnya akan ada jawaban, kita kawal tujuh poin aspirasi," ungkap Wakil Wali Kota Bogor Dedie A Rachim dihadapan peserta aksi unjuk rasa.
 
Korlap Aksi, Ki Tjetjep Thoriq mengatakan, tuntutan mereka masih sama, sampai berapa kali pun akan dilakukan, sampai swasta tidak ada lagi mengelola Kebun Raya Bogor. Keluar dari situ, kembalikan ke pemerintah karena dengan begitu rakyat bisa mudah masuk.
 
 
"Bukan tanpa alasan kami menolak KRB dikelola pihak swasta. Karena, semenjak KRB dikelola pihak swasta, rakyat yang biasanya sebelum bulan puasa bisa melakukan cucurak disana, saat ini sudah tidak bisa. Sekarang sudah dikelola swasta harga masuk mahal, bawa makan dari rumah tidak boleh dan makan disana mahal," ungkap Tjetjep kepada wartawan.
 
Tjetjep membeberkan, untuk membeli makan di dalam itu mahal, sementara warga Bogor tidak semuanya mampu untuk menjangkaunya, karena dahulu hanya bermodal Rp10 ribu warga sudah bisa kesana dan membawa bekal makanan. Untuk itu, pihaknya meminta Kebun Raya Bogor agar dikembalikan kepada fungsi semestinya.
 
"Bukan hanya GLOW saja, bentuknya apapun selama swasta yang di dalam itu harus keluar. Komitmen kami semua swasta keluar dari situ," terang Tjetjep yang merupakan salah satu budayawan Bogor.
 
 
Tjetjep juga menjelaskan, tokoh-tokoh dan budayawan di Jabar semalam sudah berkumpul dan berencana untuk menemui Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil. Pihaknya ingin menyampaikan terkait penolakan KRB dikelola pihak swasta.
 
“Mudah-mudahan bulan ini bisa ketemu Gubernur. Tak hanya Ridwan Kamil, aspirasi penolakan KRB dikelola pihak swasta pun akan disampaikan pihaknya ke Pemerintah Pusat hingga DPR RI," jelasnya.
 
Menanggapi itu, GM Corporate Communication & Security KRB, Zaenal Arifin mengaku, menghargai aspirasi yang disampaikan para budayawan sebagai orang tua dan sesepuh yang sangat peduli kepada KRB. Bahkan, pihaknya pun demikian.
 
 
"Kami sangat menghargai aspirasi yang disampaikan para budayawan. Bahkan kami mengajak langsung para budayawan untuk bersama-sama melihat kedalam KRB," terangnya kepada wartawan.***(Rizki Mauludi)

Editor: Bsafaat

Artikel Terkait

Terkini

Glow Buka Kembali? Bima Arya: Tak Ada, Belum Buka!

Selasa, 26 Oktober 2021 | 08:59 WIB
X