• Sabtu, 27 November 2021

Khawatir Banyak Siswa Nongkrong di Warung Usai Pulang Sekolah, Disdik Bogor Minta Bantuan Satpol PP

- Senin, 18 Oktober 2021 | 16:15 WIB
Kepala Dinas Pendidikan Kota Bogor Hanafi (Rizki Mauludi)
Kepala Dinas Pendidikan Kota Bogor Hanafi (Rizki Mauludi)
 
INILAH, Bogor - Kepala Dinas Pendidikan Kota Bogor Hanafi meminta bantuan dari Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Bogor dan aparatur wilayah untuk membantu dalam pengawasan Pembelajaran Tatap Muka (PTM) terbatas diwarung-warung dekat sekolah.
 
Hal itu dilakukan agar mengurangi euforia dari para pelajar yang berfikir PTM terbatas ini dama dengan PTM sebelum pandemi Covid-19.
 
"Yang diperlukan mengantisipasi dampak PTM, adalah skenario PTM yang dijalankan. Yang disebut euforia keinginan anak bersekolah, mereka berfikirnya sekolah normal seperti dulu. Ya, yang bisa senaknya bermain, sementara saat ini harus diatur. Tentunya pengawasan sesuai setartanya, TK, SD, SMP dan SMA.
 
 
Anak TK berbeda permasalahanya, SMA berbeda lagi. SMA bisa diatur tetapi kepulanganya belum tentu. Anak SD mereka diantar kesekolah, jangan sampai orang tuanya menunggu. Dibeberapa sekolah ada orang tua yang menunggu, akhirnya kerumunan baru," ungkap Kepala Disdik Kota Bogor, Hanafi kepada wartawan pada Senin (18/10/2021).
 
Hanafi melanjutkan, untuk pengawasan warung diluar sekolah, nanti koordinasi dengan Satpol PP, karena tidak bisa kepala sekolah melakukan intervensi diluar lingkungan sekolah.
 
"Karena soal pengawasan PTM tidak hanya Disdik, tetapi perlu dukungan SKPD lain, yang jelas kantin tidak boleh bukan hingga nanti berangsur normal baru boleh dibuka," tuturnya.
 
 
Hanafi menjelaskan, saat ini PTM terbatas semua berjalan, gelombang awal verifikasi, setelah 36 gelombang tahap pertama selanjutnya gelombang kedua sebanyak 36, hingga semua bersekolah, tetapi SD hanya kelas 4,5, dan 6 uji coba. Untuk kelas 1, 2, 3, belum, tetapi ketika mamungkinkan maka akan menyesuikan.
 
"Jumlah siswa masih dibatasi, seduai dalam SKB 4 menteri maksimal sebanyak-banyaknya 50 persen, jadi ada hybird bagi sekolah yang memiliki tetapi jika yang tidak punya menyesuaikan. 
Nanti kami usahakan mereka semua punya hybird, guru mengajar di sekolah yang dirumah bisa menyaksikan," paparnya.
 
Hanafi menegaskan, tidak selamamnya efektif belajar hybrid yang seperti itu. Karena seperti sekolah Bintang Pelajar tidak memakai itu, karena dianggapnya tidak efektif. Di SD negeri Harjasari tidak ada tadi, artinya harus ada komunikasi sekolah dengan orang tua. 
 
 
"Kami harapkan sekolah berkomunikasi akrif dengan orang tua, dengan berbagai macam masalah. Termasuk soal berkerumun tadi. Sebelum pandemi Covid-19 Kota Bogor, kita tahu SDN Polisi 1 berkerumun, orang tua murid arisan dan makan-makan, tetapi sekarang kan tidak boleh," pungkasnya.*** (Rizki Mauludi)
 

Editor: JakaPermana

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Duh...13 Kios IPB Dramaga Hangus Dilalap Api

Senin, 22 November 2021 | 10:50 WIB
X