• Kamis, 9 Desember 2021

Biografi Jaksa Agung Pertama RI Raden Gatot Taroenamihardja, Jasadnya Bersemayam di Cibinong

- Jumat, 26 November 2021 | 10:39 WIB
Jasad Jaksa Agung Pertama Raden Gatot Taroenamihardja dimakamkan di Cibinong. (Reza Zurifwan)
Jasad Jaksa Agung Pertama Raden Gatot Taroenamihardja dimakamkan di Cibinong. (Reza Zurifwan)
 
INILAHKORAN, Cibinong- Bupati Bogor Ade Yasin bangga, Cibinong jadi tempat peristirahatan terakhir Jaksa Agung Pertama RI, Raden Gatot Taroenamihardja.
 
 
Menurut Ade Yasin jasad Raden Gatot Taroenamihardja dipindahkan ke Taman Makam Pusara Adhyaksa, Cibinong, Kamis 25 November 2021.
 
Sebelumnya, lanjut Ade Yasin, Raden Gatot Taroenamihardja bersemayam di TPI Menteng Pulo, Tebat, Jakarta Selatan sejak 24 Desember 1971.
 
 
Raden Gatot Taroenamihardja yang lahir di Sukabumi 24 November Tahun 1901 tersebut terkenal sosok yang lurus dan anti korupsi.
 
 
Masa jabatan Raden Gatot Taroenamihardja berlangsung singkat. Yang pertama 23 hari semasa jabatan pertama. Lalu, 5 bulan 22 hari di jabatan keduanya Tahun 1959.
 
Dalam otobiografinya, Pergulatan Tiada Henti: Dirumahkan Soekarno, Dipecat Soeharto, salah satu kasus paling terkenal yang coba ia bongkar adalah perihal korupsi penyelundupan yang dilakukan oleh Panglima Teritorium I Kolonel Maludin Simbolon di Teluk Nibung, Sumatera Utara.
 
Selain itu, kasus lainnya yakni barter yang diduga melibatkan Kolonel Ibnu Sutowo di Tanjung Priok.
 
Belakangan diketahui hasil dari penyelundupan dan barter ini digunakan untuk kepentingan tentara.
 
Penyelidikan Gatot dan jajarannya sempat dihentikan oleh KSAD saat itu Mayjend TNI Abdul Haris Nasution dan akan menyelesaikan masalah itu dengan cara disiplin tentara dan administratif.
 
 
Walaupun pemerintah juga telah menyetujuinya. Namun, pada 23 Agustus 1959, Gatot meminta izin Presiden RI Soekarno untuk melakukan pemeriksaan setelah adanya indikasi penyelundupan yang terus dilakukan.
 
Akibatnya, beberapa perwira seperti Kolonel Ibnu Sutowo dan Letkol Sukendro dan Mayjenf TNI Abdul Haris Nasution, berupaya menggagalkan saat Gatot akan memeriksa.
 
Bahkan, mereka memerintahkan Penguasa Perang Daerah Jakarta Raya Kolonel Umar Wirahadikusuma untuk menangkap Gatot saat Presiden RI Soekarno sedang berada di luar negeri.
 
Setibanya di tanah air pasca kunjungan ke luar negeri, Soekarno pun menggelar pertemuan bersama Perdana Menteri Djuanda, Nasution dan Gatot.
 
Permasalahannya diambil alih Sukarno. Sebagai jalan tengah, Presiden memberhentikan Gatot dan mengembalikannya ke departemen kehakiman untuk kedua kalinya.
 
Sementara, para perwira yang terlibat barter Tanjung Priok dimutasi dan tetap aktif di militer.
 
Tindakan Gatot itu ternyata masih mendapat kecaman, tentara berusaha membunuhnya hingga ia mrngalami buntung di bagian kaki karena ditabrak kendaraan pada waktu subuh.
 
"Kabupaten Bogor merasa terhormat dan bangga karena dipilih oleh Kejaksaan Agung RI sebagai tempat peristirahatan terakhir almarhum Meester in de Rechten Raden Gatot Taroenamihardja," ucap Ketua DPRD Kabupaten Bogor Rudy Susmanto kepada wartawan.
 
 
Politisi Partai Gerindra ini menambahkan sosok Raden Gatot Taroenamihardja yang sangat sederhana karena memiliki sikap intergritas yang tinggi kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
 
"Saya berharap Bangsa Indonesia tidak pernah lupa akan jasa Raden Gatot Taroenamihardja maupun pahlawan lainnya, kita semua bisa menteladani sosok Jaksa Agung Pertama dan Kelima ini," tambahnya.
 
Bupati Bogor Ade Yasin menuturkan sebagai tuan rumah, Pemkab Bogor sangat mendukung pemindahan makam Raden Gatot Taroenamihardja.
 
Apalagi, di Pondok Rajeg, Kecamatan Cibinong merupakan satu-satunya Taman Makam Pusara khusus para Adhyaksa.
 
"Taman Makam Pusara khusus para Adhyaksa di Pondok Rajeg, Cibinong ini memang tanah Kejaksaan Agung RI. Hingga kami pun sangat mendukung apabila tokoh hebat seperti Raden Gatot Taroenamihardja dimakamkan di sini," tutur Ade Yasin.
 
Wakil Kejagung RI Setia Untung Arimuladi yang menjadi inspektur upacara pemindahan makam Rechten Raden Gatot Taroenamihardja menegaskan bahwa almarhum semasa hidupnya ialah sosok yang berani, tegas, berwibawa.
 
 
"Untuk membersihkan negara ini dari praktik korupsi, almarhum tak segan mempertaruhkan nyawanya demi intergritasnya sebagai aparatur hukum. Kepada segenap  insan Adhyaksa harusnya sudah paham betul, apa yang menjadi resiko dan konsekuensi saudara dalam menjalankan tugas penegakan aturan hukum. Untuk itu jangan takut dan jangan ragu," tegas Untung.
 
Ia melanjutkan semasa tugasnya almarhum Raden Gatot Taroenamihardja telah membangun pondasi yang baik untuk institusi kejaksaan, semoga harapan almarhum agar kita bisa melaksanakan tugas, fungsi dan wewenang kita dalam menegakkan aturan hukum.
 
"Semoga para adhyaksa muda menjadikan almarhum  Raden Gatot Taroenamihardja sebagai sosok panutan, sebagai bentuk penghormatan lainnya, kedepan kami akan usulkan ke pemerintah agar nama beliau bisa menjadi nama jalan protokol," lanjutnya.
 
Pradana Ramadhian Gandasubrata, yang bersangkutan adalah putra dari (Alm) Purwoto Suhadi Gandasubrata (Ketua MA RI ke-8), mendiang adalah putra dari Ny. Siti Soebindjai Taroenamihardja yang tidak lain adalah adik dari Mr. R. Gatot Taroenamihardja mengaku ikhlas makam kakeknya dipindahkan jasadnya ke Taman Makam Pusara Adhyaksa, Pondok Rajeg  Cibinong, Kabupaten Bogor.
 
"Di TPU Menteng Pulo, Tebet, Jakarta Selatan kan sudah penuh dan bisa sewaktu-waktu bisa dipindahkan, hingga kami setuju dan ikhlas apabila jasad beliau di makamkan di Taman Makam Pusara Adhyaksa, Pondok Rajeg  Cibinong, Kabupaten Bogor. Kami juga merasa terhormat akan sikap Kejagung RI," ucap Pradana.
 
Ia menjelaskan semasa hidupnya, sosok almarhum Raden Gatot Taroenamihardja, seperti yang dituturkan ayah dan neneknya, beliau memiliki etos kerja yang sangat baik, dimana almarhum sangat jujur dan tegas dalam menjalankan tugasnya.
 
 
"Almarhum Raden Gatot Taroenamihardja itu sangat jujur, tegas dan berani dalam menegakkan aturan hukum. Karena sangat berdedikasi, ia pun hidup sangat sederhana, bahkan ia tak punya kursi di ruang tamu kediamannya hingga ketila ayah saya bertamu, harus duduk diatas anyaman tikar," jelasnya.
 
Informasi yang dihimpun Inilah Koran, Meester in de Rechten Raden Gatot Taroenamihardja adalah anak kedua dari enam bersaudara putra-putri Dr. R. Tanoemihardja, lahir di Sukabumi pada tanggal 24 November 1901.
 
Ia lulus dalam pendidikan keahlian hukum/ di Rechtsschool Batavia, Hindia-Belanda.
 
Di Tahun 1920, di usia 19 tahun, setelah lulus Raden Gatot Taroenamihardja mulai bekerja magang di Pengadilan Negeri.
 
Tahun 1922, Raden Gatot Taroenamihardja memutuskan untuk meneruskan pendidikan hukumnya di Rijksuniversiteit Leiden, Belanda. Di Negeri Kincir Angin tersebut ia ak hanya mengenyam pendidikan, melainkan juga aktif bergabung dalam8 organisasi Perhimpoenan Indonesia yang pada tahun 1920-an berubah menjadi organisasi penting yang aktif mempromosikan Kemerdekaan Indonesia.
 
Karena itu, keluarga Raden Gatot Taroenamihardja mengalami pemerasan dan ancaman oleh Belanda untuk menghentikan pengiriman biaya sekolah beliau.
 
 
Untuk membiayai hidupnya, Raden Gatot Taroenamihardja bekerja sebagai pesuruh di toko roti kota Brussel, Belgia.
 
Tahun 1927, Raden Gatot Taroenamihardja ditangkap dengan alasan tidak memberikan laporan kesehatan untuk kegiatan wajib militer Belanda. 
 
Pada tahun yang sama Raden Gatot Taroenamihardja berhasil menyelesaikan sekolah hukumnya dan kembali ke Indonesia untuk menjadi Penasehat Hukum/ Advokad bagi orang pribumi Indonesia di Cirebon dan Tegal.
 
 
Raden Gatot Taroenamihardja yang bergabung dalam Partai Nasionalis Indonesia Staatspartij kembali ditangkap oleh Belanda bersama Bung Karno dan Bung Hatta pada Tahun 1929.
 
 
Pada masa penjajahan Jepang Raden Gatot Taroenamihardja menjadi Tihoo Hoin/ Hakim Ketua di Pengadilan Negeri Purwokerto.
 
 
Pada tanggal 19 Agustus 1945, dalam pmbentukan Kabinet Pertama, dimana Mr. Raden Gatot Taroenamiharja diangkat menjadi Jaksa Agung Republik Indonesia Pertama.
 
Lalu 5 September 1945, Raden Gatot Taroenamiharja dilantik sebagai Jaksa Agung Republik Indonesia.
 
 
 
Setelah itu, 24 Oktober 1945, Jaksa Agung Raden Gatot Taroenamiharja mengundurkan diri.
 
Bulan Maret 1946, Raden Gatot Taroenamiharja ditangkap dan ditahan selama satu bulan oleh Perdana Menteri Syahrir yang dianggap menentang negosiasinya dengan Belanda.
 
 
Raden Gatot Taroenamiharja kemudian menjadi Penasehat Hukum Gerilja Wehrkreise Gunung Slamet di Banyumas Utara dan mendapat tugas menemui pemimpin Darul Islam, Kartosuwirjo.
 
Kedatangannya berbuah penahanan yang dilakukan Darul Islam selama 13 bulan. Disandera membuatnya menderita penyakit busung lapar dan penyakit lainnya.
 
Kembali terjadi pertempuran antara Darul Islam dan TNI, yang menyebabkan Raden Gatot Taroenamiharja ditinggalkan penawannya, Darul Islam.
 
Oleh rakyat, Raden Gatot Taroenamiharja diserahkan kepada TNI. Kembali ia masuk penjara, kali ini yang Ia hadapi adalah  tuduhan dan tuntutan terkait keberadaannya di Darul Islam Kartosuwiryo.
 
Selama 9 bulan Raden Gatot Taroenamiharja berada di Penjara Bantjeui, Bandung. Akhirnya tidak terbukti, dan ia dibebaskan dari segala tuduhan dan tuntutan.
 
 
Raden Gatot Taroenamiharja kemudian diangkat menjadi Pegawai Tinggi Kementerian Kehakiman.
 
 
Pada tanggal 1 April 1959, Raden Gatot Taroenamiharja kembali dilantik dan disumpah menjadi Jaksa Agung Republik Indonesia Kelima.
 
 
Pada 10 July 1959, Jaksa Agung Raden Gatot Taroenamiharja diangkat sebagai Menteri Negara Ex-Officio dalam Kabinet Ke-18 Negara Republik Indonesia.
 
Sebagaimana yang pertama, di masa jabatan beliau yang kedua ini juga berlangsung singkat.
 
 
22 September 1959, kembali diberhentikan dengan hormat. dan kembali ke Departemen Kehakiman.
 
Pada tanggal 24 Desember 1971, Raden Gatot Taroenamiharja wafat dan dimakamkan di TPU Menteng Pulo, Tebet, Jakarta Selatan.*** (Reza Zurifwan)

Editor: Bsafaat

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X