Metamorfosis Gelar Kampanye Anti Kekerasan Terhadap Perempuan Selama 16 Hari

Metamorfosis menggelar Kampanye 16 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (HAKTP) tema 'Lawan Bersama Kekerasan Terhadap Perempuan'

Metamorfosis Gelar Kampanye Anti Kekerasan Terhadap Perempuan Selama 16 Hari
Metamorfosis menggelar kampanye 16 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (HAKTP) dengan mengusung tema 'Lawan Bersama Kekerasan Terhadap Perempuan: You are not Alone'.
 
INILAHKORAN-Metamorfosis menggelar Kampanye 16 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (HAKTP) dengan mengusung tema 'Lawan Bersama Kekerasan Terhadap Perempuan: You are not Alone'.
 
Kampanye 16 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (HAKTP) ini dilaksanakan melalui media sosial dan serangkaian kegiatan tatap muka termasuk talkshow yang bertempat di Kedai Pa’Dar, Kota Bogor dan dipandu Diektur Metamorfosis Menuju Inklusi, Sofiah pada Sabtu (4/12/2021).
 
Ketua Pembina Yayasan Metamorfosis Menuju Inklusi, Moudy Cynthia menyampaikan Kampanye 16 Hari Kekerasan Terahadap Perempuan (HAKTP) bahwa sampai saat ini, korban kekerasan terutama kekerasan seksual masih banyak yang enggan dan takut menceritakan kekerasan yang dialami. 
 
 
"Ini karena banyak pelaku kekerasan, terutama kekerasan seksual memiliki hubungan yang dekat dengan korban misalnya hubungan keluarga, tetangga, teman dan sebagainya," ungkap Moudy kepada wartawan pada Selasa (7/12/2021).
 
Ia melanjutkan, sehingga korban merasa takut karena menerima ancaman, merasa malu dan merasa kejadian ini adalah aib keluarga serta ketergantungan ekonomi menjadi faktor kompleks yang membuat korban merasa khawatir dan tidak mau melaporkan kejadian yang dialaminya. 
 
"Selain itu banyak korban yang tidak mengetahui adanya layanan hukum serta bagaimana mengaksesnya," terangnya.
 
 
Sementara itu, Komisioner Komnas Perempuan, Tiasri Wiandani mengungkapkan, data kasus di sepanjang 2020 berjumlah total 299.911. Ada sangat banyak perempuan korban tidak berani menceritakan pengalamannya atau mendatangi lembaga penyedia layanan untuk meminta pertolongan. Adanya kekosongan hukum, karena bentuk-bentuk kekerasan seksual tidak diatur dalam KUHP, karena KUHP hanya memproses pemidanaan bagi pelaku dan tidak ada pemenuhan hak bagi korban. 
 
"Definisi perkosaan didalam KUHP masih sangat sempit. Tidak ada pemenuhan hak bagi korban kekerasan seksual (hak penangan, hak perlindungan, dan hak pemulihan). Saya tegaskan bahwa kekerasan terhadap perempuan adalah pelanggaran HAM, oleh karena itu pentingnya RUU Tindak Pidana Kekerasan Seksual untuk segera di sahkan, sampai mewujudkan itu membutuhkan kerjasama dan sinergi dari berbagai pihak," jelasnya.
 
Sekertaris Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kota Bogor, Ana Ismawati menyampaikan, berbagai program untuk merespon situasi ini. Program-program yang disampaikan diantaranya penyelenggaraan Kota Layak Anak dan Responsif Gender, sistem pelayanan kekerasan berbasis gender yang terintegrasi di Kota Bogor, melalui Pusat Pelayanan Terpadu Perempuan dan Anak (P2TP2A).
 
 
"Juga mengembangkan Pusat Pembelajaran Keluarga (Puspaga), serta Satgas KDRT di setiap kelurahan dan aplikasi berbasis android Pojok Konseling Keluarga Unggul (Pollink-Gaul) yang akan diluncurkan dalam waktu dekat," tuturnya.
 
Terpisah, Kepala Sub Bagian Bantuan Hukum dan HAM Setda Kota Bogor, Yulia Anita Indrianingrum menjelaskan, bahwa pada tahun 2020 Bidang Hukum dan HAM sudah berbenah dengan memberikan penyuluhan, pendampingan dan membuka bantuan hukum bagi masyarakat miskin dengan bekerja sama dengan Lembaga Bantuan Hukum (LBH) yang ditunjuk. 
 
"Saat ini dengan keterbatasan yang ada perlu membuka diri dan bekerjasama dengan organisasi untuk terlibat aktif dalam upaya penghapusan kekerasan terhadap perempuan dan meningkatkan pemahaman kekerasan berbasis gender," pungkasnya.
 
 
Diketahui, kegiatan kampanye HAKTP juga menampilkan pameran foto kekerasan terhadap perempuan oleh Metamorfosis, Mural bertemakan Stop Kekerasan Terhadap Perempuan hasil karya Ray Mural Depok dan penampilan music bersama Sahat Farida Accoustic.***
 


Editor : inilahkoran