Pengungsi Bencana Alam di Sukajaya Bernapas Lega, Badan Geologi Setuju Relokasi Mandiri

Ribuan warga Sukajaya Bogor yang mengungsi akibat banjir bandang dan bencana longsor bisa bernafas lega setelah relokasi mandiri disetujui

Pengungsi Bencana Alam di Sukajaya Bernapas Lega, Badan Geologi Setuju Relokasi Mandiri
Ribuan warga Sukajaya Bogor yang mengungsi akibat banjir bandang dan bencana longsor bisa bernafas lega setelah relokasi mandiri disetujui

 

INILAHKORAN, Sukajaya - Ribuan pengungsi bencana alam banjir bandang dan tanah longsor di Kecamatan Sukajaya bisa bernafas agak lega, pasalnya Badan Geologi Kementerian Energi Sumber Daya Manusia (ESDM) menyetujui usulan beberapa pemerintah desa untuk relokasi 'mandiri'

Yang dimaksud relokasi mandiri bagi warga Sukajaya bukan para pengungsi diberikan uang puluhan juta rupiah dan membangun sendiri bangunan rumahnya sesuai selera, tetapi pemerintah desa mengusulkan lokasi untuk disetujui Badan Geologi, sementara rencana pembangunannya (site plan) dibuatkan Dinas Perumahan Kawasan Pemukiman dan Pertanahan (DPKPP) Kabupaten Bogor  lalu pembangunannya dilaksanakan oleh kelompok masyarakat (Pokmas).

Dengan relokasi mandiri warga Sukajaya tersebut, para pengungsi tidak harus meninggalkan tanah kelahiran, meninggalkan ladang, memindahkan sekolah anak-anaknya hingga pindah domisili ke Desa Sukaraksa dan Desa Cigudeg, Kecamatan Cigudeg, seperti yang diusulkan sebelumnya oleh Pemkab Bogor.

Baca Juga: Promotor Konser Justin Bieber di Jakarta Kena Semprot Beliebers Gegara Ini

Relokasi 'mandiri' tersebut juga bagian dari solusi rencana sebelumnya, karena Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) masih enggan melepaskan lahan kebun sawit PT. Perkebunan Nusantara VIII hingga menjadi hambatan dalam pembangunan 687 unit Huntap di Tahun 2022 ini.

"Alhamdulillah, usulan lokasi relokasi pemerintah desa di Kecamatan Sukajaya, di masing-masing desanya disetujui oleh Badan Geologi Kementerian ESDM. Dalam waktu segera, DPKPP secara swakelola dan dibantu Pokmas akan membangun ratusan unit hunian tetap (Huntap) tersebut," kata Kabid Pemukiman DPKPP Dede Armansyah kepada wartawan, Rabu 20 Maret 2022.

Mantan Kabid Pencegahan dan Kesiapsiagaan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) ini menambahkan, jajarannya bukan hanya membangun Huntap, tetapi layaknya  sebuah perumahan hingga ada fasilitas umum dan fasilitas sosial di lahan relokasi tersebut.

Baca Juga: Ramadhan 2022 ala Artis Titi Kamal, 'Kita Harus Celebrate'

"Di lahan relokasi, selain Huntap, ada tempar ibadah, lapangan olahraga dan sarana prasarana lainnya seperti halnya perumahan," tambah Dede Armansyah.

Informasi yang dihimpun Inilah Koran, ada sekitar 2.000 kepala keluarga menjadi korban bencana alam banjir bandang dan tanah longsor di Kecamatan Sukajaya dan Kecamatan Cigudeg awal Bulan Januari Tahun 2020 lalu.

Dari ribuan pengungsi tersebut, pemerintah pusat dan Pemkab Bogor baru membangun 563 unit Huntap, saat ini ratusan hingga ribuan kepala keluarga pengungsi masih tinggal di hunian sementara (Huntara), para korban bencana alam tersebut sangat membutuhkan Huntap.

Baca Juga: Sinopsis Business Proposal Episode 11: Lee Min Woo Akui Menyesal Karena Shin Ha Ri.....

Di okasi Huntara, Ida (33 tahun) warga Desa Cileuksa, Sukajaya mengeluhkan saat menempati Huntara, karena  dirinya dan anak-anak nya selalu was-was ketika hujan deras yang disertai kencang dan petir turun deras.

"Saya dan anak-anak sering ketakutan saat petir menyambar tiada henti dan hujan deras mengguyur. Hujan angin yang disertai petir turun sering terjadi, sehingga membuat anak-anak dan warga lainnya yang menempati huntara ini menjadi was-was, karna huntara ini atap nya dari baja ringan sehingga rawan sambaran petir," keluh Ida.

Mirna (40 tahun)  menambahkan  sudah 26 bulan dirinya menempati  Huntara, ia mengaku sudah jenuh tinggal ditempat pengungsian tersebut karena kadang saat hujan deras turun disertai angin kencang membuat Huntara yang mereka tempati tersebut banyak yang bocor atapnya.

Baca Juga: Vicky Prasetyo Siap Duel Bareng Azka Corbuzier di Ring Tinju

"Karena  hujan yang deras dan sering, atap Huntara yang hanya beralaskan seng pun maka lama-kelamaan membuat atapnya bocor hingga kami harus menampungnya dalam ember, agar alas Huntara yang berupa tanah tidak becek," tambah Mirna.

Ibu dua orang anak ini pun berharap Pemkab Bogor segera merealisasikan pembangunan Huntap yang diperuntukkan bagi para korban bencana alam tanah longsor dan banjir bandang dua tahun lalu.

"Kami dan penghuni Huntara lainnya sudah tidak betah untuk berlama lama tinggal disini, kami berharap Huntap segera terbangun lalu kami pun pindah ke tempat relokasi yang lebih layak," harapnya.(Reza Zurifwan)


Editor : inilahkoran