Penyebaran Wabah PMK, Ubah Prosedur Pengecekan Kesehatan Hewan Qurban di Kabupaten Bogor

penyebaran wabah penyakit mulut dan kuku (PMK), mengubah standar operasional pemeriksaan kesehatan hewan qurban di Kabupaten Bogor.

Penyebaran Wabah PMK, Ubah Prosedur Pengecekan Kesehatan Hewan Qurban di Kabupaten Bogor
penyebaran wabah penyakit mulut dan kuku (PMK), mengubah standar operasional pemeriksaan kesehatan hewan qurban di Kabupaten Bogor.
 
 
 
INILAHKORAN, Bogor- Cepatnya penyebaran wabah penyakit mulut dan kuku (PMK), mengubah standar operasional pemeriksaan kesehatan hewan qurban.
 
Petugas Dinas Perikanan dan Peternakan (Diskanak) Kabupaten Bogor minimal seminggu sekali mengecek kesehatan dan kelayakan hewan qurban yang dijual oleh pedagang.
 
"Hewan qurban yang hari ini sehat, minggu depan belum tentu sehat, minggu depan belum tentu dia tidak terpapar wabah PMK. Oleh karena itu, minimal seminggu atau lima hari sakali, petugas atau tenaga medis kesehatan hewan Diskanak mengecek kesehatan dan kelayakan hewan ternak tersebut," kata Kabid Kesmavet Diskanak Kabupaten Bogor Prihartini Mulyawati kepada wartawan, Rabu 29 Juni 2022.
 
 
Jika tahun-tahun sebelumnya, hewan qurban yang sehat cukup sekali diberikan surat keterangan kesehatan hewan (SKKH) dan diberikan tanda, kini Diskanak bisa seminggu dua kali dalam memberikan SKKH tersebut.
 
"Saat ini SKKH hewan qurban hanya berlaku tiga hari, kalau hewan ternak tersebut akan dikirim ke luar daerah atau ada hewan ternak dari luar daerah mau masuk ke Kabupaten Bogor, maka harus lapor ke kami," sambung Prihartini Mulyawati.
 
Ia menuturkan, pengetatan standar operasional kesehatan dan kelayakan hewan qurban demi kesehatan masyarakat Bumi Tegar Beriman. Untuk memastikannya, ia mengajak penjual hewan qurban sadar.
 
 
"Penjual hewan qurban harus sadar dan disiplin pentingnya menjual hewan ternak yang sehat dan layak kepada masyarakat, kalau hanya mengandalkan petugas Diskanak, tidak bisa karena jumlah petugas kami tidak seimbang dengan luasnya wilayah Bumi Tegar Beriman," tuturnya.
 
Prihartini  sapaan akrabnya menjelaskan, dari 40 kecamatan, 28 kecamatan diantaranya ada kasus penyebaran wabah PMK, dimana hewan ternak yang terpapar ialah sapi dan kerbau.
 
 
"Data perakhir kemarin atau awal pekan ini, sudah 2019 ekor sapi dan kerbau yang terpapar wabah PMK, dimana luasnya penyebaran sudah ke 28 kecamatan. Saat ini, bersama IPB University dan instansi lainnya, kami sudah melakukan pengobatan dan  banyak juga yang sudah sembuh," jelas Prihartini.***(Reza Zurifwan)
 
 


Editor : inilahkoran