Empat Kali Kredit Fiktif Merugikan Negara, Pelakunya Oknum Pegawai BRI Megamendung

Untuk keempat kalinya di Bumi Tegar Beriman, nasabah kredit usaha rakyat (KUR) BRI menjadi korban kredit fiktif.

Empat Kali  Kredit Fiktif Merugikan Negara, Pelakunya Oknum Pegawai BRI Megamendung
Untuk keempat kalinya di Bumi Tegar Beriman, nasabah kredit usaha rakyat (KUR) BRI menjadi korban kredit fiktif. Akibat perbuatan dua orang oknum mantri atau pegawai BRI, negara mengalami kerugian sebesar Rp 2,2 miliar.
 
INILAHKORAN, Megamendung-Untuk keempat kalinya di Bumi Tegar Beriman, nasabah kredit usaha rakyat (KUR) BRI menjadi korban kredit fiktif.
 
Akibat perbuatan dua orang oknum mantri atau pegawai BRI, negara mengalami kerugian sebesar Rp 2,2 miliar.
 
Kejadian kredit fiktif tersebut terjadi di Tahun 2021 lalu, kejadian kali ini di Kantor Unit BRI di Megamendung.
 
 
Kasus kredit fiktif ini, diadukan oleh salah seorang nasabah yang merasa dirugikan oleh oknum mantri atau pegawai Unit BRI Megamendung.
 
"Ada dua oknum mantri atau pegawai Unit BRI Megamendung yang bakal jadi calon tersangka karena dugaan melakukan tindak pidana korupsi (Tipikor). Modusnya, melakukan kredit fiktif dengan menggunakan data-data nasabah KUR yang sudah lunas sebelumnya," ungkap Kepala Kejaksaan Negeri Kabupaten Bogor Agus Sunaryo kepada wartawan, Kamis, (04/08/2022).
 
Agustian Sunaryo menerangkan, bahwa  berdasarkan Surat Perintah Penyidikan Nomor : PRINT-03/M.2.18/Fd.2/08/2022 tanggal 04 Agustus 2022 telah menaikkan status penanganan perkara tindak pidana korupsi dugaan penyaluran Kredit BRI Unit Cipayung Kecamatan Megamendung Kabupaten Bogor dari tahap penyelidika  ke tahap penyidikan. 
 
 
"Naiknya kasus ini ke tahap penyidikan karena berdasarkan hasil ekspose dan gelar perkara yang telah dilaksanakan oleh penyidik seksi pidana khusus, perkara ini bermula dari adanya temuan rekening salah satu nasabah yang gagal bayar atas kredit yang diajukan padahal nasabah sendiri telah melunasi kredit nya kepada BRI," terang Agustian Sunaryo.
 
Ia menambahkan setelah dilakukan pengecekan kembali atas rekening nasabah tersebut ditemukan fakta bahwa ada pembuatan rekening kredit baru tanpa sepegetahuan dari nasabah yang bersangkutan, dan setelah dilakukan investigasi internal ternyata ditemukan fakta bahwa ada pembukaan rekening yang tidak sesuai dengan procedural yang telah ditetapkan oleh Bank BRI.
 
Bahwa pembukaan atau pengadaan rekening tanpa sepegetahuan nasabah tersebut tidak melalui proses verifikasi pembukaan rekening, kemudian tanpa kehadiran nasabah dan rekening tabungan juga tidak diserahkan kepada pemilik rekening. 
 
 
"Berdasakan hasil penghitungan kerugian yang dilakukan oleh tim audit internal Bank BRI, ataas kejadian tersebut Bank BRI telah mengalami kerugian sebesar Rp.2,2 milyar. Para calon tersangka dianggap melanggar P Pasal 2 ayat (1) jo Pasal 18 dan Subsidiair Pasal 3 jo Pasal 18 UU No. 20 tahun 2001 tentang Perubahan atas UU No.31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo Pasal 55 ayat 1 ke (1) KUHP," tambahnya. (Reza Zurifwan)


Editor : inilahkoran