Dua Pria Ini Edarkan Uang Palsu di Cimahi dan KBB, Modusnya Beli Rokok

Berawal dari pengalaman pernah tertipu mendapat uang palsu, dua pria berinisial FC (24) dan MR (25) nekat membuat dan mengedarkan uang palsu dengan menargetkan kios atau warung-warung kecil di wilayah Kota Cimahi dan Kabupaten Bandung Barat (KBB).

 Dua Pria Ini Edarkan Uang Palsu di Cimahi dan KBB, Modusnya Beli Rokok
Berawal dari pengalaman pernah tertipu mendapat uang palsu, dua pria berinisial FC (24) dan MR (25) nekat membuat dan mengedarkan uang palsu dengan menargetkan kios atau warung-warung kecil di wilayah Kota Cimahi dan Kabupaten Bandung Barat (KBB)./Agus Satia Negara
INILAHKORAN, Cimahi - Berawal dari pengalaman pernah tertipu mendapat uang palsu, dua pria berinisial FC (24) dan MR (25) nekat membuat dan mengedarkan uang palsu dengan menargetkan kios atau warung-warung kecil di wilayah Kota Cimahi dan Kabupaten Bandung Barat (KBB).
Keduanya pelaku mengaku, nekat membuat dan mengedarkan uang palsu tersebut lantaran terhimpit ekonomi.
"Saya belajar membuat uang palsu secara otodidak dengan melihat konten-konten media sosial," kata salah seorang tersangka di Mapolres Cimahi, Senin 26 September 2022.
Selain itu, masing-masing tersangka yang bekerja di event organizer (EO) dan penjual daging ayam ini menggunakan aplikasi untuk mendesain uang palsu tersebut.
"Kita gunakan aplikasi Photoshop untuk mendesain uang palsu ini," ucapnya.
Sementara itu, salah seorang pedagang di Tagog, Cimahi yang menjadi korban, Diki (45) mengaku, tidak mengetahui dan kesulitan membedakan uang palsu baru tersebut.
"Kan beli rokok sebungkus harganya Rp 20 ribu, terus bilang ini uang baru dan langsung pergi setelah dikasih kembalian," ujarnya.
"Saya belum tahu ada uang baru dan belum ada sosialisasi," sambungnya.
Di tempat yang sama, Wakapolres Cimahi, Kompol Niko N. Adi Putra menjelaskan, alasan dari pelaku memang karena kesulitan ekonomi sehingga keduanya memiliki ide untuk melakukan tindak pidana pemalsuan uang.
"Berawal dari pengalaman pernah tertipu mendapatkan uang palsu, akhirnya dengan inisiatif itu kedua pelaku mencoba untuk memproduksi uang palsu," jelasnya.
Selain keuntungan itu untuk kebutuhan sehari-hari, sambung dia, ternyata setelah dilakukan tes urine para pelaku dinyatakan positif memakai sabu-sabu.
"Jadi ada kemungkinan, hasil dari kejahatan mereka sebagian digunakan untuk kepentingan pribadi, yakni membeli narkotika," sebutnya.
"Mereka belajar secara otodidak dengan melihat konten-konten dari media sosial," tandasnya.***(agus satia negara).***


Editor : asayuti