• Rabu, 8 Desember 2021

Melbourne Wajibkan Masker Saat Kasus Covid-19 Australia Meningkata

- Rabu, 22 Juli 2020 | 23:00 WIB
Ilustrasi/Antara Foto
Ilustrasi/Antara Foto

INILAH, Melbourne- Penduduk kota terpadat kedua di Australia, Melbourne, sejak Rabu diwajibkan untuk mengenakan masker ketika meninggalkan rumah karena pembatasan yang lebih ketat diberlakukan di perbatasan sekitar negara bagian New South Wales untuk mencegah penyebaran virus corona.

Perjalanan lintas batas antara negara bagian Victoria dan New South Wales (NSW) sekarang hanya akan diizinkan untuk urusan pekerjaan, pendidikan atau perawatan medis. Sebelumnya, perbatasan antarkedua negara bagian Australia itu ditutup awal bulan ini untuk pertama kalinya dalam 100 tahun.

Pegawai atau siswa yang bepergian dari Victoria ke NSW untuk masuk ke sekolah-sekolah atau universitas berasrama sekarang diminta untuk mengisolasi diri selama dua pekan dan telah dinyatakan negatif terjangkit virus corona, sementara pekerja musiman dari Victoria dilarang masuk.

Melbourne telah mengalami peningkatan pesat jumlah kasus COVID-19 dalam beberapa pekan terakhir, dengan virus corona baru menyebar ke banyak panti jompo dan beberapa penjara.

Sementara negara bagian Victoria telah mencatat kurang dari 6.300 total kasus COVID-19 yang dikonfirmasi, hampir setengah dari total kasus COVID-19 di Australia. Victoria mencatat 364 kasus baru infeksi corona pada Selasa.

Australia telah mencatat hampir 12.500 kasus COVID-19 dan 126 kematian sejak pandemi dimulai awal tahun ini. Meskipun laporan kesehatan Australia secara keseluruhan lebih baik daripada banyak negara kaya di dunia, pihak berwenang dan pembuat kebijakan semakin khawatir tentang penyebaran penyakit infeksi virus corona yang mematikan itu di Melbourne.

Di NSW, di mana Sydney adalah ibu kotanya, dilaporkan 16 kasus baru COVID-19, dan pemimpin NSW Gladys Berejiklian mengatakan negara bagian itu dalam status "siaga tinggi" akibat penularan virus corona baru di komunitas dan adanya lokasi-lokasi kasus baru COVID-19.

Dia menyampaikan keprihatinan atas aksi protes Black Lives Matter, yang direncanakan pada pekan depan, sebagai kemungkinan platform untuk penyebaran virus.

"Terlepas dari masalah (Black Lives Matter) ini, kita harus mengikuti anjuran kesehatan. Kerumunan besar adalah masalah besar. Sayangnya, kita tidak bisa membiarkan aksi demonstrasi itu berlanjut," kata Berejiklian.

Halaman:

Editor: Bsafaat

Terkini

Swiss Kerahkan 2.500 Tentara Atasi Lonjakan Covid-19

Selasa, 7 Desember 2021 | 21:53 WIB

Kebakaran di Penjara Burundi Tewaskan 38 Narapidana

Selasa, 7 Desember 2021 | 21:47 WIB

Tragis! Rapper Young Dolph Tewas Ditembak di Toko Kue

Kamis, 18 November 2021 | 10:59 WIB

CPC Serukan Kader dan Militer Merapat ke Xi Jinping

Jumat, 12 November 2021 | 22:07 WIB
X