• Rabu, 8 Desember 2021

Dalam Forum PBB, Anggota DPR Milenial Jelaskan Pentingnya EBT

- Selasa, 27 Oktober 2020 | 18:20 WIB
Anggota Komisi VII DPR RI Dyah Roro Esti Widya Putri. (antara)
Anggota Komisi VII DPR RI Dyah Roro Esti Widya Putri. (antara)

INILAH, Jakarta - Dalam forum internasional Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Anggota Komisi VII DPR RI Dyah Roro Esti Widya Putri menjelaskan pentingnya energi baru dan terbarukan (EBT) bagi masa depan.

"EBT ini tidak hanya sebagai energi cadangan, tetapi sebagai energi utama pada masa depan," kata legislator milenial itu dalam forum bertema "Shaping Our Future Together" sebagai rangkaian HUT PBB Ke-75 yang diselenggarakan United Nations Economics and Social Commussion for Asia and the Pacific (UN ESCAP) secara virtual.

Dalam keterangannya, yang diterima di Jakarta, Selasa, Dyah Roro Esti juga memaparkan pentingnya implementasi SDG pada sektor energi Indonesia dan peran Indonesia dalam melawan krisis iklim.

Kegiatan ini dihadiri Armida Salsiah Alisjahbana, Under-Secretary-General of the United Nations and Executive Secretary of ESCAP; Gita Sabharwal, United Nations Resident Coordinator in Thailand; Don Pramudwinai, Deputy Prime Minister and Minister of Foreign Affairs, Thailand; dan para inovator muda yang bergerak di sektor pembangunan berkelanjutan.

Dyah Roro Esti mengatakan Indonesia memiliki target porsi EBT dalam bauran energi nasional sebesar 23 persen pada 2025 dan 31 persen pada 2050.

"Saat ini, realisasinya baru 9,15 persen, sehingga menjadi pekerjaan rumah yang cukup berat," ujarnya.

Menurut dia, beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mengurangi emisi karbon dalam sektor energi adalah dengan melakukan efisiensi energi, implementasi teknologi batubara bersih, dan meningkatkan dukungan kebijakan menuju energi bersih.

Ia mengatakan saat ini RUU EBT sedang dalam pembahasan untuk kemudian disahkan.

"Dengan adanya RUU EBT ini, diharapkan isu-isu yang terkait dalam pengembangan EBT bisa diselesaikan seperti masalah mekanisme pembiayaan, dukungan politik dan birokrasi, serta isu terkait teknologi intermitensi," jelasnya.

Halaman:

Editor: suroprapanca

Terkini

Swiss Kerahkan 2.500 Tentara Atasi Lonjakan Covid-19

Selasa, 7 Desember 2021 | 21:53 WIB

Kebakaran di Penjara Burundi Tewaskan 38 Narapidana

Selasa, 7 Desember 2021 | 21:47 WIB

Tragis! Rapper Young Dolph Tewas Ditembak di Toko Kue

Kamis, 18 November 2021 | 10:59 WIB

CPC Serukan Kader dan Militer Merapat ke Xi Jinping

Jumat, 12 November 2021 | 22:07 WIB
X