• Rabu, 8 Desember 2021

UN Women Minta Suara Perempuan Didengar dalam Konflik Politik Myanmar

- Kamis, 11 Februari 2021 | 23:30 WIB
Ilustrasi (antara)
Ilustrasi (antara)

INILAH, Jakarta - Entitas PBB untuk Kesetaraan Gender dan Pemberdayaan Perempuan (UN Women) meminta semua pemangku kepentingan di Myanmar untuk mendengarkan suara perempuan dalam unjuk rasa damai menentang pengambilalihan kekuasaan secara paksa oleh militer di negara itu.

“Kami menggaungkan pernyataan Sekretaris Jenderal PBB yang menegaskan kembali dukungan yang teguh bagi rakyat Myanmar dalam mewujudkan demokrasi, perdamaian, hak asasi manusia dan supremasi hukum,” demikian pernyataan tertulis UN Women, Kamis.

“Kami mendesak para pemimpin militer untuk menghormati keinginan rakyat Myanmar dan mematuhi norma-norma demokrasi, dengan perbedaan apapun harus diselesaikan melalui dialog damai”.

Dalam pernyataannya, UN Women juga mengungkapkan keprihatinan mendalam atas penggunaan kekuatan oleh pasukan keamanan terhadap para demonstran damai, termasuk perempuan.

Entitas PBB itu mencatat beberapa laporan dari Nay Pyi Taw, Mandalay, dan kota-kota lain di Myanmar tentang demonstran yang terluka oleh pasukan keamanan sehubungan dengan gerakan pembangkangan damai yang melanda seluruh negeri pada 9 Februari 2021.

Belakangan dikonfirmasi bahwa Ma Mya Thwate Thwate Khaing, seorang perempuan berusia 19 tahun, yang ditembak di kepala oleh pasukan keamanan, adalah korban pertama yang dilaporkan dari kekerasan ini.

Dokter telah memastikan bahwa perempuan muda itu saat ini dalam kondisi kritis dan sedang menjalani perawatan penunjang hidup. Ma Mya Thwate Thwate Khaing seharusnya merayakan ulang tahunnya yang ke-20 pada Kamis.

“UN Women menyampaikan simpati terdalamnya kepada keluarga dan teman-temannya, dan menyerukan kepada militer dan polisi untuk menahan diri dari menggunakan kekuatan yang tidak proporsional terhadap para demonstran,” demikian pernyataan entitas tersebut.

Selama sepuluh tahun terakhir, perempuan dan organisasi masyarakat sipil Myanmar telah memainkan peran penting dalam proses transisi menuju masyarakat yang sejahtera dan demokratis dan telah berperan sentral dalam mengadvokasi perdamaian dan pemerintahan yang inklusif.

Halaman:

Editor: suroprapanca

Tags

Terkini

Swiss Kerahkan 2.500 Tentara Atasi Lonjakan Covid-19

Selasa, 7 Desember 2021 | 21:53 WIB

Kebakaran di Penjara Burundi Tewaskan 38 Narapidana

Selasa, 7 Desember 2021 | 21:47 WIB

Tragis! Rapper Young Dolph Tewas Ditembak di Toko Kue

Kamis, 18 November 2021 | 10:59 WIB

CPC Serukan Kader dan Militer Merapat ke Xi Jinping

Jumat, 12 November 2021 | 22:07 WIB
X