Praktisi: KAA Perlu Dijadikan Wadah Dorong Kesetaraan Akses Vaksin

Konferensi Asia Afrika (KAA) perlu dijadikan wadah untuk mendorong kesetaraan atas akses terhadap vaksin, kata praktisi hubungan internasional dari Synergy Policies, Dinna Prapto Raharja menjelang peringatan KAA yang ke-66 pada 18 April mendatang.

Praktisi: KAA Perlu Dijadikan Wadah Dorong Kesetaraan Akses Vaksin
Praktisi hubungan internasional dari Synergy Policies, Dinna Prapto Raharja. (antara)

INILAH, Jakarta - Konferensi Asia Afrika (KAA) perlu dijadikan wadah untuk mendorong kesetaraan atas akses terhadap vaksin, kata praktisi hubungan internasional dari Synergy Policies, Dinna Prapto Raharja menjelang peringatan KAA yang ke-66 pada 18 April mendatang.

“KAA hendaknya dihidupkan lagi, dijadikan platform atau wadah untuk mengedepankan posisi negara-negara berkembang yang menuntut kesetaraan hak atas vaksin,” kata Dinna di Jakarta, Jumat (16/4/2021).

Praktisi yang juga merupakan pengajar hubungan internasional itu menambahkan bahwa KAA memiliki keunikan tersendiri karena ideologi yang dianutnya adalah pengakuan atas kesetaraan hak antar bangsa, "alih-alih siapa yang dapat membayar berapa, atau siapa mau mengikuti siapa."

Baca Juga : Menlu Retno Tolak Penimbunan dan Nasionalisme Vaksin

Untuk itu, menurut dia, KAA juga dapat menjadi wadah bagi upaya-upaya penanggulangan pandemi Covid-19 secara sinergis antar negara.

Dia menegaskan bahwa Konferensi Asia Afrika menjadi pengingat bahwa dalam kondisi keterpurukan, negara-negara berkembang perlu kembali merujuk pada solidaritas sebagai sesama negara yang menginginkan perdamaian dan penghormatan atas harkat dan martabat manusia, penghormatan atas kedaulatan negara, dan persamaan semua suku bangsa -- baik besar maupun kecil.

Oleh karena itu, semangat Dasa Sila Bandung, yang merupakan hasil pertemuan KAA pertama pada 18 hingga 24 April 1955, perlu diangkat kembali.

Baca Juga : Malaysia Minta WNI Habis Masa Kunjungan Segera Tinggalkan Sabah

“Agar dalam situasi tertekan akibat Covid-19 dan globalisasi yang ternyata tidak sepenuhnya memanusiakan bangsa-bangsa secara adil, negara-negara tidak mengedepankan kepentingan sesaat dan sempit dan jalan sendiri-sendiri,” ujarnya.

Halaman :


Editor : suroprapanca