• Senin, 18 Oktober 2021

Puasa Ramadhan di Xinjiang, Larangan atau Pilihan? (Bagian 2)

- Minggu, 25 April 2021 | 17:00 WIB
Ilustrasi (antara)
Ilustrasi (antara)

"Fabiayyi alaai robbikumaa tukadzdzibaan," ucap Mehmet Amin Abdullah yang serentak ditirukan oleh mahasiswanya di kelas Al Quran dan Hadis pada 22 April 2021 siang.

Ayat-ayat Surat Ar Rahman yang ditulis di atas papan berwarna hijau tua itu dilantunkan secara tartil oleh seisi ruangan kelas.

Ilham Yaqin (23), mahasiswa XII asal Kashgar, dengan lancar menyelesaikan Surat Al Qadr saat diminta ANTARA membacanya di luar kepala.

Bahkan dia pun mampu berbicara dalam Bahasa Arab saat diminta untuk memperkenalkan diri karena memang Bahasa Arab menjadi mata kuliah di kampus yang direnovasi pada 2014 dengan menelan biaya senilai 280 juta yuan atau sekitar Rp627,8 miliar itu.

Beberapa pejabat lokal dan pengurus Partai Komunis setempat tampak lega begitu Ilham bisa melaksanakan tugas "dadakan" dari ANTARA pada siang hari itu.

"Bagaimana? Bagus-bagus mereka?" ucap Wakil Ketua Komite Tetap Kongres Rakyat Xinjiang, Li Xuejun, meminta persetujuan ANTARA.

Ya, setidaknya mereka memang benar-benar mahasiswa XII yang sedang belajar ilmu agama Islam, bukan sekadar pajangan belaka di depan awak media asing.

Selain Al Quran lengkap dengan terjemahan berbahasa Uighur, di atas bangku para mahasiswa itu terdapat modul Hadis, di antaranya tentang hikmah, doa, dan pesan tentang cinta tanah air.

Dua tahun mendatang setelah lulus dari XII, Ilham juga menyatakan kesiapannya jika harus ditugaskan ke daerah asalnya untuk menjadi imam masjid menggantikan ayahnya.

Di dua kelas lainnya, para mahasiswa juga sedang serius mengikuti kelas Budaya China dan Bahasa Mandarin. Pintu kedua kelas ini tertutup rapat dari dalam sehingga tidak bisa dimasuki oleh orang lain, termasuk para awak media asing yang pada saat itu diundang secara khusus oleh pemerintah Daerah Otonomi Xinjiang.

Halaman:

Editor: suroprapanca

Terkini

X