• Senin, 18 Oktober 2021

Puasa Ramadhan di Xinjiang, Larangan atau Pilihan? (Bagian 2)

- Minggu, 25 April 2021 | 17:00 WIB
Ilustrasi (antara)
Ilustrasi (antara)

Suasana di dalam areal XII masih sama dengan kunjungan ANTARA dua tahun lalu. Dari luar terlihat sepi. Mungkin karena memang jam sekolah.

Masjid di dalam areal kampus XII juga sepi karena pada saat itu memang belum masuk waktu Zuhur. Berbeda dengan kunjungan pada tanggal 3 Januari 2019 ketika para mahasiswa dan pimpinan XII menunaikan shalat jamaah Ashar selepas jam kuliah.

Abit Qazbay yang mewakili pimpinan XII menemui awak media asing pada 22 April 2021 mengatakan bahwa di luar jam kuliah, para mahasiswanya biasanya membaca Al Quran di dalam masjid.

Tapi mungkin karena siang itu masih jam kuliah, maka wajar jika masjid sepi dari aktivitas mahasiswa.

Sebanyak 889 mahasiswa XII semuanya berjenis kelamin laki-laki, termasuk para dosennya, sehingga sudah dipastikan mereka puasa semua kecuali yang memiliki uzur syar'i, seperti sakit parah dan lain sebagainya.

Oleh sebab itu, kantin umum di XII pada siang hari tutup total. Pada hari-hari biasa, pihak kampus memberikan makan kepada mahasiswanya tiga kali sehari secara cuma-cuma.

Para mahasiswa yang 67 persen berasal dari wilayah selatan Xinjiang, seperti Hotan, Kashgar, dan Aksu, itu juga tidak dipungut biaya pendidikan.

"Untuk biaya pendidikan yang ditanggung pemerintah sebesar 8.000 yuan per mahasiswa setiap bulan dan biaya hidup 4.000 yuan," kata Abit.

Gaji dosen seperti Amin Abdullah bisa mencapai 72.000 yuan atau sekitar Rp161,4 juta per tahun.

XII tidak saja mencetak pemuka agama, imam, dan khotib, melainkan juga peneliti Islam yang bebas dari pengaruh radikalisme dan ekstremisme.

Halaman:

Editor: suroprapanca

Terkini

X