• Selasa, 30 November 2021

Duh, Gletser Afrika Mencair Jutaan Orang terancam Kekeringan dan Banjir

- Selasa, 19 Oktober 2021 | 19:15 WIB
Sebuah kendaraan melintas di distrik Hie, Tanzania, dengan latar belakang Gunung Kilimanjaro, 2009. (REUTERS/Katrina Manson)
Sebuah kendaraan melintas di distrik Hie, Tanzania, dengan latar belakang Gunung Kilimanjaro, 2009. (REUTERS/Katrina Manson)

INILAHKORAN, Bandung-Gletser di sebelah timur Afrika yang diperkirakan akan lenyap dalam dua dekade dapat menimbulkan ancaman kekeringan, banjir, dan suhu panas ekstrem bagi 118 juta warga miskin, kata badan iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa pada Selasa 19 oktober 2021.

Laporan terbaru tentang keadaan iklim Afrika yang dirilis oleh Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) bersama sejumlah badan Uni Afrika itu menunjukkan gambaran mengerikan tentang kemampuan benua itu untuk beradaptasi dengan bencana cuaca yang semakin sering terjadi.

Menurut data, 2020 adalah tahun terpanas ketiga di Afrika dengan catatan 0,86 derajat Celcius di atas suhu rata-rata dalam tiga dekade menjelang 2010.

Baca Juga: Paus Fransiskus Serukan Upaya Bersama Atasi Perubahan Iklim

Suhu di Afrika menghangat lebih lambat daripada zona iklim lintang tinggi, tetapi dampaknya masih menghancurkan.

"Penyusutan cepat gletser terakhir yang tersisa di Afrika timur, yang diperkirakan akan mencair seluruhnya dalam waktu dekat, menandakan ancaman perubahan permanen pada sistem bumi," kata Sekretaris Jenderal WMO Petteri Taalas dalam kata pengantar laporan tersebut.

WMO memperkirakan bahwa pada tingkatan saat ini ketiga ladang es tropis Afrika, yaitu Kilimanjaro di Tanzania, Gunung Kenya, dan Rwenzoris di Uganda, akan hilang pada tahun 2040-an.

Baca Juga: Ketua DPPPI: Indonesia Punya Potensi Jadi Negara Adidaya Iklim

Selain itu, pada 2030 diperkirakan ada sekitar 118 juta orang sangat miskin yang akan terdampak kekeringan, banjir, dan suhu panas ekstrem, jika tindakan respons yang memadai tidak dilakukan, kata Komisaris Pertanian Uni Afrika Josefa Sacko.

Afrika, yang menyumbang kurang dari 4 persen emisi gas rumah kaca, telah lama diperkirakan akan sangat terpengaruh oleh perubahan iklim.

Lahan pertanian di benua itu sudah rawan kekeringan, banyak kota besar berada di pesisir pantai, dan kemiskinan yang meluas membuat orang lebih sulit beradaptasi.

Baca Juga: Sedih Kembali ke Bumi, Kru Film Rusia Mengaku Kerasan Tinggal di Antariksa untuk Syuting Film

Terlepas dari kekeringan yang memburuk di benua yang sangat bergantung pada pertanian, ada banjir besar yang tercatat di Afrika Timur dan Barat pada 2020, menurut laporan WMO.

Sementara serangan belalang yang dimulai setahun sebelumnya juga terus mendatangkan malapetaka.

Laporan tersebut memperkirakan bahwa Afrika sub Sahara memerlukan 30-50 miliar dolar AS (sekitar Rp422,3-703,8 triliun) atau 2-3 persen dari PDB setiap tahun untuk adaptasi guna menghindari konsekuensi iklim yang lebih buruk.

Baca Juga: Selandia Baru Vaksin 2,5 Persen Populasinya dalam Sehari

Diperkirakan 1,2 juta orang di Afrika mengungsi akibat badai dan banjir pada 2020. Angka tersebut hampir dua setengah kali lipat dari jumlah orang yang mengungsi akibat konflik di tahun yang sama.***

Editor: JakaPermana

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Tragis! Rapper Young Dolph Tewas Ditembak di Toko Kue

Kamis, 18 November 2021 | 10:59 WIB

CPC Serukan Kader dan Militer Merapat ke Xi Jinping

Jumat, 12 November 2021 | 22:07 WIB

Truk Tangki BBM Meledak, 99 Dilaporkan Tewas

Minggu, 7 November 2021 | 08:56 WIB

Catat Rekor, Kasus Penyebaran Covid-19 di Jerman

Jumat, 5 November 2021 | 21:00 WIB

COP26 Akan Sepakati Hentikan Pemakaian Batu Bara

Kamis, 4 November 2021 | 10:15 WIB
X