• Minggu, 5 Desember 2021

Aduh, WHO Sebut Pandemi Berlanjut Hingga 2022, Gara-garanya Ini...

- Minggu, 24 Oktober 2021 | 10:05 WIB
Pelaksanaan vaksinasi Covid-19 di Kabupaten Garut. (zainulmukhtar)
Pelaksanaan vaksinasi Covid-19 di Kabupaten Garut. (zainulmukhtar)

INILAHKORAN, Bandung- Organisasi Kesehatan Dunia WHO menyebut pandemi COVID-19 akan berlangsung satu tahun lebih lama dari yang seharusnya. Gara-garanya, negara-negara miskin tidak mendapatkan vaksin yang mereka butuhkan.

Pejabat senior di WHO, Dr Bruce Aylward, mengatakan itu artinya krisis COVID-19 dapat 'dengan mudah berlarut-larut hingga 2022'.

Hingga saat ini, baru 5 persen populasi Afrika mendapat vaksinasi, sementara di belahan Bumi lain berkisar 40 persen dari total populasi.

Inggris telah mengirimkan lebih dari 10 juta vaksin dari 100 juta vaksin yang dijanjikan ke negara-negara yang membutuhkan.

Dr Aylward mengimbau negara-negara kaya untuk mengalah dalam antrean vaksin agar perusahaan farmasi dapat memprioritaskan negara-negara yang rendah dalam distribusi vaksinnya.

Baca Juga: Messi Mulai 'Pundung', Ingin Tinggalkan PSG Gara-gara Ribut dengan Mauro Icardi

Dia mengatakan, negara-negara kaya perlu 'menginventarisasi' komitmen sumbangan mereka yang dibuat pada pertemuan puncak seperti pertemuan G7 di St Ives musim panas ini.

"Saya dapat memberitahu Anda (bahwa) kita tidak di jalur yang tepat," katanya seperti dilansir BBC News.

"Kita benar-benar perlu mempercepatnya atau pandemi ini akan berlangsung selama satu tahun lebih lama dari yang seharusnya," lanjut Dr Aylward.

People's Vaccine Alliance --sebuah aliansi amal-- telah merilis angka baru yang menunjukkan hanya satu dari tujuh dosis yang dijanjikan oleh perusahaan farmasi dan negara-negara kaya benar-benar mencapai destinasi ke negara-negara berpenghasilan rendah.

Sebagian besar vaksin COVID-19 telah diberikan di negara-negara berpenghasilan tinggi atau menengah ke atas. Sementara, Afrika hanya menyumbang 2,6 persen dari dosis yang diberikan secara global.

Baca Juga: Anjing Canon Mati Usai Dibawa Aparat, Sherina: Apakah Halal Berarti Menghalalkan Segala Cara?

Aliansi yang terdiri dari Oxfam dan UNAids ini, juga mengkritik Kanada dan Inggris karena pengadaan vaksin untuk populasi mereka sendiri melalui COVID-19 Vaccines Global Access (COVAX), program global yang didukung PBB untuk mendistribusikan vaksin secara adil.

Angka resmi menunjukkan bahwa awal tahun ini Inggris menerima 539.370 dosis Pfizer sementara Kanada mengambil hanya di bawah 1 juta dosis AstraZeneca.

Ide awal di balik COVAX ialah agar semua negara dapat memperoleh vaksin dari negara-negara kaya.

Namun, sebagian besar negara G7 memutuskan untuk menahan diri begitu mereka mulai membuat kesepakatan pribadi dengan perusahaan farmasi.

Penasihat Kesehatan Global Oxfam, Rohit Malpani, mengakui bahwa Kanada dan Inggris secara teknis berhak mendapatkan vaksin melalui rute ini setelah membayar ke dalam mekanisme COVAX.

Baca Juga: Ademnya Situ Rancabolang di Gununghalu, Wisata Danau Alami yang Rekomended untuk Piknik Keluarga

Akan tetapi, ia mengatakan itu masih 'secara moral tidak tepat' mengingat kedua negara telah memperoleh jutaan dosis melalui perjanjian bilateral mereka sendiri.

"Mereka semestinya tidak mendapatkan dosis ini dari Covax," katanya.

"Ini tidak lebih baik dari double-dipping dan berarti negara-negara miskin yang sudah berada di belakang antrian, akan menunggu lebih lama," imbuh Malpani.

Pemerintah Inggris menegaskan negaranya adalah salah satu yang 'memulai' COVAX tahun lalu dengan sumbangan sebesar 548 juta poundsterling, atau setara Rp10,6 miliar.

Adapun pemerintah Kanada menekankan bahwa mereka sekarang telah berhenti menggunakan vaksin COVAX.

Baca Juga: Gagal Total! Indonesia Tanpa Wakil di Final Denmark Open 2021

"Segera setelah menjadi jelas bahwa pasokan yang kami dapatkan melalui kesepakatan bilateral kami akan cukup untuk penduduk Kanada, kami mengembalikan dosis yang telah kami dapatkan dari COVAX, sehingga vaksin itu dapat didistribusikan ke negara-negara berkembang," kata Menteri Pembangunan Internasional Kanada, Karina Gould.

COVAX awalnya bertujuan untuk mengirimkan 2 miliar dosis vaksin pada akhir tahun ini, tetapi sejauh ini baru mengirimkan 371 juta dosis.***

Editor: Bsafaat

Sumber: inilah.com

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Tragis! Rapper Young Dolph Tewas Ditembak di Toko Kue

Kamis, 18 November 2021 | 10:59 WIB

CPC Serukan Kader dan Militer Merapat ke Xi Jinping

Jumat, 12 November 2021 | 22:07 WIB

Truk Tangki BBM Meledak, 99 Dilaporkan Tewas

Minggu, 7 November 2021 | 08:56 WIB
X