Ramadhan di Madinah, Pertokoan Tutup Saat Sholat Wajib dan Buka Hingga Subuh

Selama Ramadhan para pedagang di Madinah baru membuka usahanya sebelum Zuhur dan tutup hingga jam dua pagi namun saat sholat wajib tutup

Ramadhan di Madinah, Pertokoan Tutup Saat Sholat Wajib dan Buka Hingga Subuh
Ketua MUI Asrorun Ni'am yang berpuasa Ramadhan di Madinah menyebutkan para pedagang atau toko baru buka sebelum Zuhur hingga subuh dan mereka akan tutup saat Sholat wajib.

 

INILAHKORAN, Madinah –  Ketua MUI Asrorun Ni'am Sholeh melaksanakan ibadah puasa Ramadhan di Madinah.  Dia mengaku selama Ramadhan semua toko atau pedagang di Madinah tutup, dan baru buka sebelum Zuhur.   

Asrorun Ni’am mengatakan para pedagang di Madinah akan kembali melakukan aktivitas usahanya setelah Zuhur, dan kembali tutup hingga pukul dua pagi. Begitu kebiasaan para pedagang di Madinah selama Ramadhan.   

"Dari salah satu pedagang pakaian di kawasan Taiba Suites (Madinah), diperoleh informasi kalau ia baru buka tiga hari yang lalu. Selama dua hari puasa (Ramadhan), mereka menutup dagangannya pada pagi hingga sebelum dhuhur, baru setelahnya mereka berjualan, hingga pukul dua pagi," kata Asrorun melalui pesan singkat yang diterima di Jakarta, Senin 4 April 2022 sebagaimana dikutip dari Antara.

Baca Juga: Booking Berkah Ramadhan, IZI Jabar Bagikan Paket Sembako ke Mustahik di KBB

Lebih lanjut dia mengatakan, saat ini, pertokoan belum pulih sepenuhnya karena masih banyak yang tutup. Hanya beberapa yang buka bahkan sebagian baru mulai memajang barang dagangannya.

Setiap Shalat Rawatib, seluruh toko tutup, untuk ikut berjamaah. Kabar baiknya, bagi yang suka berbelanja, saat Sholat Tarawih, toko-toko diperkenankan buka.

Dia mengatakan, bagi jamaah yang berkenan mengikuti pengajian dapat bergabung dengan majelis taklim yang dilaksanakan antara Ashar dan Maghrib di dalam Masjid Nabawi. Ada kyai yang menyampaikan materi pengajaran keagamaan dalam bahasa Arab.

Baca Juga: Amalan Ramadhan Itikaf di 10 Malam Terakhir, Buya Yahya: Jangan Diisi dengan Tidur!

Bagi yang tidak mau ikut majelis taklim, untuk menunggu Maghrib, jamaah bisa mengaji Al-Quran, atau ziarah ke makam Rasulullah SAW, ziarah ke makam Baqi, atau sekedar jalan menunggu Maghrib seperti menyaksikan ditutupnya payung raksasa usai Ashar jelang matahari tergelincir.

Payung raksasa sebagai pelindung jamaah dari terik matahari itu terbuka secara serentak di pagi hari, kurang lebih satu jam usai, saat matahari sudah muncul dari peraduan.

Bagi yang akan berkunjung ke Raudhah, disarankan bisa waktu malam hari, sekitar dua jam usai tarawih, untuk menghindari antrian panjang. Untuk jamaah perempuan, waktunya disediakan mulai waktu Dhuha hingga sebelum Dhuhur. Sementara, jelang Maghrib hingga Isya, waktu kunjung ke Raudhah dan ziarah ke Baginda Rasul SAW ditutup sementara.

Baca Juga: Hukum Ramadhan: Syarat-syarat Itikaf bagi Perempuan Menurut Buya Yahya

Bagi para peziarah yang hendak menempuh perjalanan dari Mekah ke Madinah atau sebaliknya, bisa menggunakan moda kereta api dengan jarak tempuh relatif lebih cepat.

Jika biasanya mengendarai mobil butuh waktu lebih lima jam. Sementara dengan kereta api waktu yang dibutuhkan untuk perjalanan Mekah - Madinah hanya 2 jam 25 menit. Kecepatan 300 km/jam. Perjalanan dari Mekah ke Madinah berhenti di dua stasiun, yaitu Jeddah (Bandara King Abdul aziz) dan stasiun pusat bisnis Rabigh.

Saat ini cuaca di Madinah normal seperti di Indonesia, namun udara kering, sehingga kulit bisa kering bersisik dan bibir bisa pecah-pecah. Disarankan untuk membawa tabir surya, pelembab, dan lip gloss, serta vitamin secukupnya. (*)


Editor : inilahkoran