• Sabtu, 25 Juni 2022

Energi Hijau Sentuh Aviasi

- Jumat, 8 Oktober 2021 | 14:40 WIB
Di Hanggar 2 PT Garuda Maintenance Facility Aero Asia Tbk (GMF) Tangerang, sejumlah petinggi negeri menyaksikan Uji Terbang Pesawat CN235-220 Flying Test Bed (FTB) milik PT Dirgantara Indonesia. (istimewa)
Di Hanggar 2 PT Garuda Maintenance Facility Aero Asia Tbk (GMF) Tangerang, sejumlah petinggi negeri menyaksikan Uji Terbang Pesawat CN235-220 Flying Test Bed (FTB) milik PT Dirgantara Indonesia. (istimewa)

INILAHKORAN, Bandung - Manfaat energi terbarukan menyentuh sektor transportasi udara. Kini, pesawat terbang bisa mengonsumsi bahan bakar bioavtur J2.4 tanpa kendala berarti.

Rabu 6 Oktober 2021 kemarin merupakan sejarah bagi industri aviasi nasional. Di Hanggar 2 PT Garuda Maintenance Facility Aero Asia Tbk (GMF) Tangerang, sejumlah petinggi negeri menyaksikan Uji Terbang Pesawat CN235-220 Flying Test Bed (FTB) milik PT Dirgantara Indonesia. Pesawat baling-baling itu terbang melayang sempurna menggunakan bahan bakar bioavtur.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif mengatakan, salah satu strategi untuk percepatan implementasi energi baru terbarukan yaitu melakukan substitusi energi primer dan final dengan teknologi eksisting. Usai sukses dengan program Mandatori B30 utuk sektor transportasi darat, saat ini pemanfaatan bahan bakar nabati telah berhasil diuji coba untuk sektor transportasi udara.

Baca Juga: Industri Dukung Akselerasi Penggunaan Energi Terbarukan RI

“Berkat dukungan dan kerjasama seluruh stakeholder yang terlibat, penerbangan perdana menggunakan bahan bakar nabati, campuran bioavtur 2,4% akhirnya terlaksana menempuh jarak Bandung-Jakarta menggunakan pesawat CN235-220 FTB,” kata Arifin.

Menurutnya, perjalanan panjang telah dilalui untuk sampai di tahap keberhasilan uji terbang. Dimulai melalui sinergi penelitian antara Pertamina Research & Technology Innovation (Pertamina RTI) dan Pusat Rekayasa Katalisis Institut Teknologi Bandung (PRK-ITB) dalam pengembangan katalis MerahPutih untuk mengonversi minyak inti sawit menjadi bahan baku bioavtur pada 2012.

Pola kerja sama pun diperluas bersama PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) untuk melakukan uji produksi co-processing skala industri di Refinery Unit (RU) IV Cilacap untuk mengolah campuran refined, bleached, and deodorized palm kernel oil (RBDPKO) dan kerosin menggunakan katalis Merah Putih sebagai salah satu inovasi karya terbaik anak bangsa.

Baca Juga: PLN Siapkan Energi Terbarukan untuk Kebutuhan Lebaran

“Keberhasilan ini akan menjadi tahap awal dalam peningkatan kontribusi bioavtur di sektor transportasi udara dalam rangka meningkatkan ketahanan dan kemandirian energi nasional,” tegasnya.

Halaman:

Editor: donramdhani

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X