• Minggu, 5 Desember 2021

Siapkah Anda untuk Ekonomi Perubahan Iklim?

- Senin, 25 Oktober 2021 | 17:20 WIB
Banyak yang berpendapat bahwa perubahan iklim dan pemanasan global adalah dua hal yang sama atau mirip, padahal keduanya memiliki arti berbeda.
Banyak yang berpendapat bahwa perubahan iklim dan pemanasan global adalah dua hal yang sama atau mirip, padahal keduanya memiliki arti berbeda.

INILAHKORAN, Bandung - Kawasan Asia berada di lini terdepan krisis perubahan iklim dengan kerugian terbesar yang disebabkan perubahan iklim (mencapai US$4,7 triliun dalam PDB menurut analisis terbaru McKinsey).

Sementara di Indonesia, Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN) atau Bappenas memperkirakan kerugian ekonomi akibat dampak perubahan iklim bisa mencapai Rp115 triliun pada 2024.

Selain berdasarkan sains, sektor keuangan juga telah mendeteksi peningkatan risiko terhadap banjir besar, topan, dan kemarau. Di tingkat global, investasi Environmental, Social and Corporate Governance (ESG) telah mengalami gelombang pertumbuhan di balik pandemi dan memiliki fokus baru pada keberlanjutan. Selain itu, aset ESG akan mencakup lebih dari sepertiga aset yang dikelola pada 2025 (Bloomberg).

Baca Juga: Paus Fransiskus Serukan Upaya Bersama Atasi Perubahan Iklim

Di Asia Tenggara, model bisnis yang mengutamakan keberlanjutan, penilaian risiko iklim, dan investasi ESG masih terbilang baru, namun dampak dari perubahan iklim sudah terasa.

Apakah bisnis di kawasan Asia siap menghadapi tantangan ini? Bagaimana langkah awal kita untuk mengurangi dampaknya? Apa sudah terlambat? Prof John Sterman, Director, MIT Sloan Sustainability Initiative dan pembicara utama pada konferensi Leadership for Enterprise Sustainability Asia (LESA) 2021 mendatang, berkeyakinan bahwa Asia masih memiliki harapan.

Sterman akan menjadi pembawa acara LESA, yang diselenggarakan Asia School of Business (ASB) yang berlokasi di Kuala Lumpur, Malaysia. Acara ini akan menekankan pada urgensi Asia Tenggara dan bisnis dunia berkembang dalam mengambil langkah-langkah penting untuk mengurangi dampak perubahan iklim dan memetakan cara baru ke depannya.
Perwakilan dari organisasi Asia terkemuka termasuk Rukaiyah Rafik, Pengelola Sekolah Petani FORTASBI (Forum Petani Kelapa Sawit Berkelanjutan Indonesia), Khoon Tee Tan, Senior Partner di McKinsey & Company Indonesia, Febriany Eddy, CEO & Presiden Direktur Vale Indonesia (INCO), dan lainnya akan menjadi pembicara di LESA 2021.

Saat para pemimpin bisnis di kawasan ini bersiap menghadapi “next normal” bersamaan dengan Malaysia, Indonesia, Thailand, dan Singapura yang baru saja mengumumkan janji mereka untuk mencapai carbon neutral dalam beberapa dekade mendatang, LESA 2021 mengundang para pemimpin bisnis, pembuat kebijakan, pengusaha, dan individu untuk bergabung dalam diskusi, yang membicarakan tantangan maupun solusi yang didukung ilmu pengetahuan dan layak secara ekonomi, serta teknologi untuk beradaptasi dan menghadapi ekonomi perubahan iklim dalam basis Asia.

Baca Juga: Analis Kesehatan: 8 Perilaku Menjaga Lingkungan dari Perubahan Iklim

Halaman:

Editor: donramdhani

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Masih Mahal, Kendaraan Listrik Tagih Insentif

Jumat, 3 Desember 2021 | 15:09 WIB

Penerima Kartu Prakerja di Jabar Capai 1,5 Juta Orang

Senin, 29 November 2021 | 13:04 WIB
X