Program Co-Firing PLN Hadirkan Solusi Masalah Sampah di Indramayu

PLN menggandeng Pemkab Indramayu untuk solusi masalah sampah. PT Pembangkitan Jawa Bali mengolah sampah menjadi biomassa PLTU di Indramayu.

Program Co-Firing PLN Hadirkan Solusi Masalah Sampah di Indramayu
Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo mengatakan, bersama Pemkab Indramayu pihaknya akan mengembangkan solusi masalah sampah menjadi bahan bakar jumputan padat (BBJP) sebagai co-firing PLTU.

INILAHKORAN, Bandung - PLN menggandeng Pemkab Indramayu untuk solusi masalah sampah. PT Pembangkitan Jawa Bali akan mengolah sampah menjadi biomassa PLTU di Indramayu.

Melalui kerja sama yang diteken di Badung, Bali, Kamis 30 Juni 2022 itu nantinya Pemkab Indramayu dan PLN mengembangkan solusi masalah sampah menjadi bahan bakar jumputan padat (BBJP). BBJP itu diharapkan mampu mensubtitusi kebutuhan batu bara sampai 500 ribu ton per tahun.

Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo menjelaskan, melalui sinergi tersebut PLN dan Pemkab Indramayu bisa mencapai dua cita-cita sekaligus. Pertama, membantu pemda untuk bisa menghadirkan solusi masalah sampah kota untuk menjadi sumber energi yang mempunyai nilai ekonomis.

Baca Juga: Pelaku Pelecehan Terhadap Istri Robert Albert, Tendi Rustandi Minta Maaf

"Kedua, PLN membutuhkan biomassa untuk mendukung program co-firing di PLTU kami. Dengan kolaborasi ini, maka sampah kota yang sebelumnya selalu jadi momok bisa diolah bersama untuk menjadi sumber energi domestik," ujar Darmawan.

PLN secara bertahap terus menerapkan teknologi co-firing hingga menjadi 52 PLTU dengan total kapasitas 18 GW pada tahun 2025. Untuk mendukung program ini, PLN membutuhkan pasokan biomassa mencapai 10,2 juta ton per tahunnya pada 2025 sehingga dapat menekan emisi karbon sebesar 11 juta ton CO2 dan gas rumah kaca setiap tahunnya.

"Untuk menjaga keberlanjutan pasokan bahan baku biomassa, PLN berkolaborasi dengan berbagai BUMN, pemerintah daerah hingga swasta," terang Darmawan.

Baca Juga: Ini Deretan Kerusuhan Babarsari Tiap Tahun, dari Bentrok Suporter Hingga Ojek Online

Tak hanya itu, PLN juga melibatkan masyarakat secara aktif dalam penanaman tanaman biomassa bahkan ada pula yang mengelola sampah rumah tangga wilayahnya untuk dijadikan pelet sebagai bahan baku sehingga dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi setempat.

Melalui co-firing, PLN mampu dengan cepat meningkatkan bauran energi baru terbarukan (EBT) karena dapat mensubtitusi batu bara dengan bahan bakar yang lebih ramah lingkungan. Inovasi ini merupakan upaya PLN dalam mendukung Pemerintah dalam percepatan pemanfaatan EBT menuju target 23 persen pada 2025.

Sementara itu, Sekretaris Kementerian BUMN Susyanto menjelaskan untuk mewujudkan target Carbon Neutral PLN mempunyai peran yang sangat siginifikan. Sesuai roadmap yang tertuang dalam RUPTL 2021-2030 PLN akan meningkatkan porsi pembangkit berbasis energi bersih juga melalui teknologi co-firing.

Baca Juga: Beberapa Warung Terbakar Akibat Kerusuhan di Babarsari

Susyanto menilai teknologi ini bisa diimplementasikan dengan cepat melalui aset PLTU yang ada saat ini. Untuk bisa membuat program ini bisa berjalan baik, maka perlu adanya kolaborasi baik antara BUMN maupun stakeholder lain.

"Untuk menjaga ketersediaan pasokan biomassa ini diperlukan kolaborasi yang baik dari semua stakeholder. Kalau ini berjalan baik, maka target bauran energi bisa tercapai pada akhirnya," ujar Susyanto. (*)


Editor : inilahkoran