Garut Tempati Kematian Ibu Terbanyak Ketiga di Jabar

Angka kematian ibu (AKI) melahirkan dan angka kematian bayi (AKB) baru lahir di Kabupaten Garut hingga kini masih tinggi. Hal itu membuat pemerintahan daerah setempat mendesak memerlukan formula efekt

Garut Tempati Kematian Ibu Terbanyak Ketiga di Jabar
INILAH, Garut - Angka kematian ibu (AKI) melahirkan dan angka kematian bayi (AKB) baru lahir di Kabupaten Garut hingga kini masih tinggi. Hal itu membuat pemerintahan daerah setempat mendesak memerlukan formula efektif dan efisien guna menekan AKI/AKB.
 
Menurut Perwakilan USAID Jalin Provinsi Jawa Barat Joko Sutikno, sejak 2011 lalu tren AKI di Garut terus terus meningkat. Sedangkan, rata-rata AKI di Jabar cenderung menurun.
 
Pada 2018 lalu, Garut menempati urutan ketiga terbanyak untuk kasus AKI di Jabar. Tahun lalu, kasus AKI di Garut mencapai 55 kasus. Sebesar 29% penyebab kematian ibu itu akibat kasus pendarahan pasca-persalinan.
 
“Padahal dua jam merupakan ‘golden periode’ atau waktu genting yang dibutuhkan pasien dengan kasus pendarahan pasca-persalinan sebelum meninggal,” ujar Joko saat Lokakarya Meningkatkan Akses dan Kualitas Pelayanan Kesehatan Ibu dan Bayi Baru Lahir di wilayah Terkendala Masalah Geografis, dan Budaya Paraji di Fave Hotel, Kabupaten Garut, Senin-Selasa (1-2/4/2019).
 
Kondisi serupa terjadi di kasus AKB. Sejak 2013, tren AKB baru lahir di Garut juga meningkat. Sedangkan, rata-rata AKB baru lahir di Jabar cenderung menurun. 
 
Sejak 2016 hingga 2018, Garut pun tercatat sebagai kabupaten dengan kematian bayi baru lahir terbanyak. Joko mengatakan, prioritas masalah di Garut saat ini yakni banyaknya paraji yang masih aktif. Maraknya praktik paraji itu menjadi pilihan utama ibu-ibu di Garut karena tantangan geografis dan budaya. Belum lagi karena keterbatasan pengetahuan terkait isu-isu kesehatan ibu dan anak (KIA).
 
"Ada lima wilayah kecamatan di Garut diharapkan bisa menjadi penggerak motivasi penanganan tingginya AKI dan AKB. Seperti halnya kemiteraan UPT Puskesmas Cihurip dengan tukang ojek," ujarnya. 
 
Sementara itu, Wakil Bupati Garut Helmi Budiman menyebutkan dalam empat tahun terakhir terdapat sejumlah kemajuan pembangunan infrastruktur. Termasuk, fasilitas kesehatan dengan tersebarnya 30 Puskesmas dengan Pelayanan Obstetri Neonatal Emergency Dasar (PONED). 
 
Selain itu, pihaknya terus membangun infrastruktur jalan dan jembatan yang mempermudah aksesibilitas masyarakat. Seluruh personel di lingkungan Dinas Kesehatan Garut pun diklaimnya berlatar belakang keilmuan kesehatan. 
 
"Tapi, dengan data-data yang dimiliki itu Garut semakin mendesak memerlukan motivasi sangat tinggi guna menurunkan angka kematian ibu, dan angka kematian bayi saat menjalani proses persalinan," kata Helmi. 
 
Dia mengingatkan, masyarakat diharapkan tidak memandang setiap kasus AKI/AKB itu hanya dianggap takdir semata atau ketidakberdayaan saja. Namun, sebelum peristiwa itu terjadi harus ada upaya maksimal penyelamatan jiwa ibu dan anaknya. Sebab, kata dia, setiap upaya penyelamatan jiwa satu orang itu sama dengan penyelamatan seluruh umat manusia.
 
“Maka, jangan ada lagi korban AKI/AKB ini!” tegasnya seraya mengharapkan pada kegiatan tersebut bisa menghasilkan formula efektif dan efisien dalam menekan AKI/AKB di Garut.


Editor : inilahkoran