• Jumat, 17 September 2021

Virus Nipah, Ancaman Baru Setelah Pandemi COVID-19

- Jumat, 29 Januari 2021 | 08:40 WIB
istimewa
istimewa

INILAH, Jakarta - Belum selesai pandemi COVID-19 melanda berbagai negara di penjuru dunia, kini muncul kekhawatiran baru mengenai kemunculan Virus Nipah.

Bahkan The Guardian dalam laporannya dari sebuah hasil studi independen menyebut bahwa tidak ada satupun perusahaan farmasi besar di dunia yang siap jika terjadi pandemi berikutnya.

Jayasree K. Iyer, Direktur Eksekutif Access to Medicine Foundation, sebuah nirlaba yang berbasis di Belanda, menyoroti wabah Virus Nipah yang terjadi di China, dengan tingkat kematian hingga 75 persen, dan berpotensi menjadi risiko pandemi besar berikutnya.

"Virus Nipah adalah penyakit menular lain yang muncul dan menimbulkan kekhawatiran besar. Nipah bisa meledak kapan saja. Pandemi berikutnya bisa jadi infeksi yang resistan terhadap obat," kata dia.

Virus Nipah masuk dalam daftar salah satu dari 10 penyakit menular dari 16 penyakit yang diidentifikasi oleh WHO sebagai risiko kesehatan terbesar masyarakat, bersama dengan MERS dan SARS --penyakit pernapasan yang disebabkan oleh Virus Corona dan memiliki tingkat kematian yang jauh lebih tinggi daripada COVID-19 tetapi tidak terlalu menular.

Kelelawar buah dituding menjadi inang alami dari virus yang memiliki angka kematian 40 persen hingga 75 persen tersebut, tergantung di mana wabah itu terjadi.

Ada beberapa alasan mengapa Virus Nipah begitu menyeramkan. Masa inkubasi penyakit yang lama yang dilaporkan bisa mencapai 45 hari dalam satu kasus, dapat memberikan banyak kesempatan bagi inang yang terinfeksi, bahkan mereka yang tidak sadar tengah tertular, untuk menyebarkannya.

Virus ini juga dapat menginfeksi berbagai macam hewan, membuat kemungkinan penyebarannya lebih mungkin terjadi. Penularan virus ini juga bisa melalui kontak langsung atau dengan mengonsumsi makanan yang terkontaminasi.

Seseorang dengan Virus Nipah mungkin akan mengalami gejala pernapasan termasuk batuk, sakit tenggorokan, kelelahan, dan ensefalitis, pembengkakan otak yang dapat menyebabkan kejang hingga kematian.

Halaman:

Editor: JakaPermana

Tags

Terkini

Segudang Manfaat Air Beras untuk Kesehatan Kulit Wajah

Jumat, 17 September 2021 | 10:08 WIB

Keren! Tim Basket Raffi Ahmad Bakal Mentas di IBL 2022

Jumat, 17 September 2021 | 08:57 WIB

Layanan VoLTE Telkomsel Kini Hadir di 219 Kota

Jumat, 17 September 2021 | 08:14 WIB

UMKM Sukses E-commerce Bagikan Tips di Tengah Pandemi

Kamis, 16 September 2021 | 19:47 WIB

iPhone 13 Pro Siap Rilis, Ini Harga dan Spesifikasinya

Kamis, 16 September 2021 | 13:46 WIB

Sinopsis Sinetron Cinta Amara Hari Ini 16 September 2021

Kamis, 16 September 2021 | 12:05 WIB
X