• Minggu, 24 Oktober 2021

Indonesia Peringkat 3 Instalasi Aplikasi Keuangan

- Rabu, 23 Juni 2021 | 10:20 WIB
istimewa
istimewa

INILAH, Jakarta - Perusahaan atribusi global AppsFlyer merilis laporan State of Finance App Marketing edisi 2021 yang menempatkan Indonesia sebagai negara peringkat ketiga di dunia dari 15 negara lain dalam hal instalasi aplikasi kategori keuangan.

AppsFlyer mencatat Indonesia unggul dari negara besar lain seperti AS (peringkat keempat) dan Rusia (peringkat kelima), namun masih kalah dari India dan Brasil yang menempati posisi pertama dan kedua.

Dengan jumlah populasi yang besar dan tingkat populasi underbank serta unbanked yang relatif tinggi, Indonesia juga menjadi satu-satunya negara Asia Tenggara yang berada di posisi lima besar di peringkat negara yang meng-install aplikasi keuangan.

Laporan State of Finance App Marketing 2021 meneliti 2,7 miliar instalasi aplikasi di Asia Pasifik di periode Q1 2019 dan Q1 2021, dari seluruh 4,7 instalasi aplikasi di seluruh dunia. Laporan ini juga memantau 600 juta instalasi non-organik dan 1.230 aplikasi yang terdaftar di pasar aplikasi Asia Tenggara, termasuk Indonesia, Filipina, Thailand dan Vietnam.

Aplikasi yang masuk dalam kategori keuangan tersebut meliputi sub-kategori seperti bank digital, bank tradisional, layanan keuangan, pinjaman, dan investasi online.

"Tahun 2020 adalah suatu momen game changer yang berdampak pada bagaimana bisnis dan konsumen berinteraksi dan beroperasi. Sektor fintech telah beradaptasi secara drastis pada berbagai perubahan lingkungan dan mengakselerasi transformasi digital, terutama di negara-negara berkembang dimana sangat banyak masyarakat yang belum punya rekening bank dan tidak memiliki akses ke perbankan," kata Luthfi Anshari, Senior Customer Success Manager APAC AppsFlyer, dalam siaran persnya kepada INILAHCOM, Selasa (22/6/2021).

Biaya marketing aplikasi di Asia Tenggara secara umum bergantung pada permintaan pada aplikasi fintech. Seperti contohnya di Indonesia, laporan ini menunjukkan bahwa rata-rata keseluruhan biaya marketing meningkat sejalan dengan bertambahnya permintaan pada aplikasi fintech.

Pada kuartal kedua 2020, anggaran marketing berkurang hingga hampir 50 persen akibat pandemi global dan lockdown, namun disertai dengan pemulihan kondisi yang berjalan dengan cepat. Karena tingginya tingkat permintaan terhadap solusi pembayaran touchless, permintaan pada aplikasi fintech pun bertambah hingga 75 persen.

Marketer di Indonesia pun melanjutkan pengeluaran iklan demi melakukan kembali akuisisi user baru. Terlihat dari peningkatan biaya yang drastis hingga 180 persen, dari Q2 2020 sampai Q1 2021, yang kemudian menyebabkan instalasi non-organik, dengan tingkat pemulihan sebesar 26 persen di periode waktu yang sama.

Halaman:

Editor: JakaPermana

Tags

Terkini

X