• Rabu, 20 Oktober 2021

Hampir 2 Dari 10 Pengguna Asia Pasifik Merangkul Pembayaran Digital Selama Pandemi

- Kamis, 14 Oktober 2021 | 20:30 WIB
ilustrasi
ilustrasi

INILAHKORAN, Bandung-Apakah uang tunai masih menjadi raja di Asia Pasifik? Studi Kaspersky baru-baru ini menunjukkan masih ada, tetapi mungkin tidak akan lama.


Berjudul “Mapping a secure path for the future of digital payments in APAC”, penelitian ini mempelajari interaksi pengguna lokal dengan pembayaran online yang tersedia di Asia Pasifik dan mengobservasi sikap mereka terhadap kepraktisan tersebut, ini nanti akan menjadi pemegang kunci untuk memahami faktor-faktor selanjutnya apakah adopsi teknologi ini semakin berkembang atau mengalami kemunduran.


Salah satu temuan utamanya menunjukkan bahwa sebagian besar (90%) responden Asia telah menggunakan aplikasi pembayaran seluler setidaknya sekali dalam 12 bulan terakhir, yang mengkonfirmasi ledakan tekfin di wilayah tersebut. Hampir 2 dari 10 (15%) di antaranya baru memulai menggunakan platform ini setelah pandemi.

Baca Juga: Rayakan HUT ke-25, XL Axiata Konsisten Wujudkan Transformasi Digital di Indonesia

Filipina mencatat persentase pengadopsi uang elektronik (e-cash) baru tertinggi sebesar 37%, diikuti oleh India (23%), Australia (15%), Vietnam (14%), Indonesia (13%), dan Thailand (13%). Sedangkan terendah adalah China (5%), Korea Selatan (9%), dan Malaysia (9%).


China telah menjadi pemimpin terkemuka dalam pembayaran seluler di Asia Pasifik. Bahkan sebelum era pandemi, platform lokal teratasnya, Alipay dan WeChat Pay, telah menyebabkan adopsi massal yang signifikan dan menjadi contoh bagi negara-negara Asia lainnya.


“Data dari penelitian terbaru kami menunjukkan bahwa uang tunai masih menjadi raja, setidaknya untuk saat ini, di Asia Pasifik dengan 70% responden masih menggunakan catatan fisik untuk transaksi sehari-hari mereka. Namun, pembayaran mobile dan aplikasi mobile banking tidak jauh tertinggal dengan 58% dan 52% pengguna menggunakan platform ini setidaknya sekali seminggu hingga lebih dari sekali sehari untuk berbagai keperluan yang berhubungan dengan keuangan mereka. Dari statistik tersebut, kami dapat menyimpulkan bahwa pandemi telah memicu lebih banyak orang untuk terjun ke ekonomi digital, yang dapat sepenuhnya menurunkan penggunaan uang tunai di kawasan ini dalam tiga hingga lima tahun ke depan,” kata Chris Connell, Managing Director untuk Asia Pasifik di Kaspersky.

Baca Juga: Raih Investasi US Juta, Doku Perluas Akses Pembayaran Digital 

Keamanan dan kenyamanan memicu lebih banyak pengguna di Asia Pasifik untuk merangkul teknologi keuangan. Lebih dari setengah responden survei mencatat bahwa mereka mulai menggunakan metode pembayaran digital selama pandemi karena lebih aman dan nyaman daripada melakukan transaksi tatap muka.

Responden juga menyebutkan bahwa platform digital memungkinkan mereka untuk melakukan pembayaran sembari mematuhi aturan jarak sosial (45%) dan bahwa ini adalah satu-satunya cara mereka dapat melakukan transaksi moneter selama masa penguncian sosial (36%). Untuk 29% pengguna, gateway digital sekarang lebih aman dibandingkan dengan era sebelum COVID-19 dan persentase yang sama juga mengapresiasi segala bentuk insentif dan hadiah yang ditawarkan oleh penyedia pembayaran digital.

Halaman:

Editor: JakaPermana

Tags

Artikel Terkait

Terkini

ShopeePay Kembali Hadirkan Google Play Festival

Sabtu, 16 Oktober 2021 | 16:15 WIB

Catat! Tips Aman Menggunakan Pembayaran Digital

Sabtu, 16 Oktober 2021 | 14:00 WIB
X