• Kamis, 27 Januari 2022

Anak Rentan Stres Ketika Terpapar Tontonan Tak Sesuai Usianya

- Kamis, 18 November 2021 | 10:15 WIB
Anak rentan terkena stres ketika sering menonton tayangan yang tak sesuai dengan usianya. (Ilustrasi/Antara)
Anak rentan terkena stres ketika sering menonton tayangan yang tak sesuai dengan usianya. (Ilustrasi/Antara)

INILAHKORAN, Bandung- Anak yang terpapar tontonan tidak sesuai dengan usianya, rentan mengalami stres akibat produksi hormon adrenalin dan kortisol yang lebih banyak.

Spesialis kedokteran jiwa dr. Feilin Tanita dari Universitas Sebelas Maret Surakarta mengungkapkan, anak mengalami stres saat menonton atau main game mengenai kekerasan atau horor.

"Anak belum bisa membedakan mana akting dan kenyataan, otak menganggap itu nyata dan direspons sebagai bahaya," kata Feilin Tanita.

Karena menganggap apa yang ditonton sebagai bahaya, otak anak kemudian memproduksi hormon adrenalin dan kortisol yang lebih banyak.

Baca Juga: Viral Suara Anak Perempuan Mirip Nike Ardilla, Melly Goeslaw Minta Bantuan Sultan Rubah Nasibnya

Kadar adrenalin yang banyak dan berkepanjangan bisa mengganggu hampir semua proses di dalam tubuh. 

Anak jadi berdebar-debar karena detak jantung lebih cepat, tekanan darahnya tinggi, ada peningkatan lemak dalam darah, peningkatan gula darah juga pembekuan darah yang lebih cepat sehingga menimbulkan plak.

Kadar adrenalin yang terlalu banyak juga merangsang tiroid, menimbulkan gangguan pencernaan, gangguan tidur, gelisah dan depresi hingga penurunan konsentrasi serta daya ingat anak.

Baca Juga: Anak Pertama Lahir, Ini Ungkapan Hati Caesar Hito dan Rasa Terima Kasihnya untuk Sang Istri

Feilin Tanita mengajak orangtua untuk senantiasa mendampingi anak dalam menonton televisi dan memastikan konten yang dikonsumsi sesuai dengan usianya.

Ada beberapa isi acara televisi yang patut diwaspadai, kata dia, seperti kekerasan dalam film, sinetron atau berita, konten pornografi, konten berisi kejahatan di mana tokoh jahat kerap lebih sering dieksoloitasi.

Orangtua juga perlu untuk memastikan agar anak tidak terjebak dalam pola menonton yang membuatnya ketagihan dan ketergantungan.

Sebagai contoh, buatlah kesepakatan dengan buah hati soal jadwal menonton, acara yang bisa dinikmati dan durasi menonton televisi.

Baca Juga: Sah Jadi Suami Ria Ricis, Teuku Ryan Ingin Punya 3 Anak

"Dampingi anak saat menonton sehingga orangtua bisa memberi pemahaman tentang kepura-puraan dalam film. Diskusikan juga pesan moral yang bisa menambah kehangatan dan komunikasi anak serta orangtua," kata dia.

Manfaatkanlah media televisi sebagai sumber belajar, mendapatkan informasi, membangun sportivitas lewat acara-acara olahraga dan memberikan hiburan.

Komisioner Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat bidang Kelembagaan, Hardly Stefano Pariela mengatakan, penonton akan mendapatkan konten yang lebih beragam setelah perpindahan sistem dari analog ke digital, termasuk siaran-siaran yang ditujukan khusus untuk penonton anak.

Halaman:

Editor: Bsafaat

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X