• Sabtu, 16 Oktober 2021

Dua Tahun Citarum Harum

- Senin, 10 Februari 2020 | 23:45 WIB

SEPTEMBER 2018  lalu, kang Emil memposting kegelisahannya di akun instagram milik pribadinya. Dia merinci empat masalah besar Sungai Citarum, yaitu banjir, kotor, sedimentasi, dan semrawut. Dia meminta doa, agar empat masalah itu segera tuntas. 

"4 Masalah BESAR CITARUM yang akan diurai dan dicarikan solusi teknisnya selama 5 tahun kedepan, hasil Rapat kerja dengan para pengelola air sungai BBWS Jawa Barat. Doakan lancar dan mohon bersabar karena satu demi satu masalahnya akan coba diurai.#JABARJUARA" tulis beliau dalam laman instagram.

Tidak mudah menangani Sungai Citarum dengan berbagai permasalahannya yang ada. Asas gotong royong menjadi stretegi jitu guna mengentaskan tingkat ketercemaran Sungai terpanjang dan terbesar di Jabar ini.

Seiring waktu, banyak perkembangan tampak pada Sungai yang memiliki panjang alur sekitar 297 km dan Daerah Aliran Sungai (DAS) mencapai seluas 562.958 ha tersebut. 

Kang Emil sapaan akrab Gubernur Jabar Ridwan Kamil sudah bisa membuktikan jika dalam dua tahun terakhir ini ada progres positif. Faktanya, status Sungai Citarum berubah dari cemar berat menjadi cemar sedang. "Kemudian tahun depan cemar ringan targetnya, akhirnya menjadi kualitas air yang bisa berkehidupan yang baik," harap Emil.
 
Sejauh ini, model sinergitas pentahelix sudah mulai digalakkan Satuan Tugas (Satgas) Citarum. Di mana sejumlah stakeholder dilibatkan agar revitalisasi dapat tampak secara maksimal. "Setiap tahun kita harus ada progres 15-20 persen, jadi di akhir proses kita bisa mengembalikan Citarum seperti yang kita harapkan," katanya.

Krisis yang melanda sungai Citarum di antaranya disebabkan banyaknya alihfungsi lahan di kawasan hulu juga dijadikan tempat pembuangan limbah industri pabrik di kawasan tengah hingga hilir. Melalui peran sejumlah Organisasi Perangkat Daerah (OPD) berbagai persoalan tersebut diatasi perlahan. "Sesuai arahan presiden kita fokus pada tema yang jadi primadona, yakni penanganan lahan kritis," katanya. 

Untuk mengentaskan lahan kritis ini dengan merencanakan program penanam 50 juta pohon pada 2020 ini dengan melibatkan masyarkat. Khususnya masyarakat yang sedang merasakan kebahagiaan. "Masyarakat yang ulang tahun tanam 1 pohon, yang menikah tanam pohon, yang baru rotasi jabatan juga bisa ikut yanam pohon. Kolaborasi dengan masyarakat akan kita lakukan," jelasnya.

Kepala Dinas Kehutanan (Dishut) Jawa Barat Epi Kustiawan menguatkan upaya yang tengah dilakukan Kang Emil, jajarannya sedang mengkoordinasikan penanganan lahan kritis melalui penanaman pohon tersebut dengan sejumlah stakeholder. Hal tersebut untuk memastikan luas lahan kritis yang bakal dientaskan pada tahun 2020 ini.  "Terlebih penanganan lahan kritis di Jabar dilaksanakan oleh beberapa Instansi yaitu Balai Pengelolaan DAS dan Hutan Lindung, Citarum Ciliwung dan Balai PDASHL Cimanuk Citanduy dan Pemprov Jabar," ujar Epi. 

Dinas Tanaman Pangan dan Holtikultura (TPH) Jawa Barat pun turut terlibat untuk penanganan lahan kritis DAS Citarum.  Salah satunya dengan penataan lahan pertanian sayuran dengan penerapan teras bangku.  "Bersama dinas lainnya juga bersinergi, seperti dengan  Dishut Jabar untuk mengembangkan agroforestri dengan mengembangkan jeruk, alpukat, kopi dengan tanaman kehutanan," ujar kepala Dinas TPH Hendi Jatnika. 

Halaman:

Editor: tantan

Terkini

PON Papua Resmi Ditutup

Jumat, 15 Oktober 2021 | 23:00 WIB

Wali Kota Jayapura Ucapkan Selamat Jabar Juara PON

Jumat, 15 Oktober 2021 | 21:30 WIB

Bandara Kertajati Kawal Ekspor Produk Perikanan Jabar

Jumat, 15 Oktober 2021 | 20:15 WIB

Emas Terakhir dari Cabor Renang

Kamis, 14 Oktober 2021 | 23:30 WIB

Kini Lansia Bisa Datang ke Bidan Desa untuk Divaksin

Kamis, 14 Oktober 2021 | 23:15 WIB

Rekor dan Sejarah Atlet Jabar di PON XX Papua 2021

Kamis, 14 Oktober 2021 | 22:45 WIB
X