• Minggu, 29 Mei 2022

Bapenda Jabar Punya Pendapatan Lain dari Pajak Kendaraan, Ini Dia Sumbernya

- Senin, 15 November 2021 | 18:02 WIB
Bapenda KBB meluncurkan program bebas denda untuk mengoptimalkan realisasi pajak tahun 2021. (Agus Satia Nagara)
Bapenda KBB meluncurkan program bebas denda untuk mengoptimalkan realisasi pajak tahun 2021. (Agus Satia Nagara)



INILAHKORAN, Bandung-Selama ini masyarakat mengenal pengelolaan penerimaan Pendapatan yang dilaksanakan oleh Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Jabar hanya berasal dari Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) dan Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBNKB).

Selain PKB dan BBNKB ada jenis Pajak lain yang dikelola provinsi yaitu Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor, Pajak Air Permukaan, Pajak Rokok, dan mengelola retribusi sesuai kewenangan provinsi.

Kepala Bapenda Jabar Hening Widiatmoko menyatakan ada dua jenis Pajak yang diterapkan di Indonesia, yaitu Pajak Pusat dan Pajak daerah.

Baca Juga: Optimalkan Realisasi Pajak 2021, Bapenda KBB Gencarkan Sejumlah Program Istimewa

“Namun jenis Pajak tersebut dapat tidak dipungut apabila potensinya kurang memadai dan atau disesuaikan dengan kebijakan daerah yang ditetapkan dengan Perda (Peraturan Daerah),” kata Hening kepada wartawan, Senin 15 November 2021.

Hening mengatakan, PKB termasuk ke dalam jenis Pajak Daerah. PKB merupakan pajak atas kepemilikan dan/atau penguasaan kendaraan bermotor. Ada tiga instansi pemerintah yang terlibat dalam pengelolaan PKB, yaitu Bapenda, kepolisian, dan Jasa Raharja, juga mitra lainnya seperti perbankan dan Collection Agent.

“Objek PKB adalah kepemilikan dan/atau penguasaan kendaraan bermotor, seperti motor, mobil, truk. Tetapi tidak dikecualikan kendaraan seperti kereta api, kendaraan untuk keperluan pertahanan dan keamanan negara, kendaraan kedutaan, konsulat, perwakilan negara asing dengan asas timbal balik dan lembaga-lembaga internasional yang memperoleh fasilitas pembebasan pajak dari pemerintah,” jelasnya.

Baca Juga: Catat Nih...Penghapusan Denda Pajak di Kabupaten Bandung Diperpanjang Sampai Desember

Selain PKB yang proporsi bagi hasil ke kabupaten/kota 30 persen dan provinsi 70 persen, kata Hening, ada juga Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor yaitu semua jenis bahan bakar cair atau gas yang digunakan untuk kendaraan bermotor. Pajaknya dipungut dari penggunaan bahan bakar kendaraan bermotor.

“Objek pajaknya adalah bahan bakar yang digunakan untuk kendaraan bermotor, seperti pertamax, premium, solar dan sejenisnya. Sedangkan subjeknya adalah konsumen bahan bakar. Pemungutan pajak dilakukan oleh penyedia bahan bakar sebagai Wajib Pungut. Untuk Jawa Barat, tarif pajaknya ditetapkan sebesar lima persen,” ungkapnya.

Di samping itu, Provinsi Jawa Barat masih mengenakan pungutan PBBKB per sektor pengguna, yaitu sektor industri dipungut 17,17%, sektor pertambangan, perkebunan dan kehutanan 90%, dan transportasi dan kontraktor jalan 100%.

Baca Juga: Imbas PPKM Level 3, Target Pendapatan Pajak Kota Bogor Diturunkan Hingga 13 Persen

Dalam upaya peningkatan penerimaan PBBKB yang proporsi bagi hasilnya 30 persen ke Provinsi dan 70 persen ke kabupaten/kota, diperlukan peran daerah yang optimal supaya dapat meningkatkan bagi hasil. Selain itu, peran aktif daerah sekaligus juga untuk mendukung upaya penertiban peredaran BBM subsidi yang dijual ke sektor industri.

Sementara untuk Pajak Air Permukaan yang proporsi bagi hasilnya 50 persen provinsi dan 50 persen kabupaten/kota, Hening menuturkan, pajak dikenakan dari pengambilan dan pemanfaatan air permukaan. Adapun air permukaan adalah air yang berada di atas permukaan bumi tidak termasuk air laut, kecuali air laut tersebut telah dimanfaatkan di darat.

“Pengecualian dari objek Pajak Air Permukaan, pengambilan dan atau pemanfaatan air permukaan untuk keperluan dasar rumah tangga, pengairan pertanian dan perikanan rakyat, pemerintah, peribadatan, penanggulangan bahaya kebakaran, penelitian serta penyelidikan yang tidak menimbulkan kerusakan atas sumber air dan lingkungannya, atau bangunan pengairan beserta tanah turutannya,” papar Hening.

Baca Juga: Politisi Demokrat Luncurkan 'Pajak Miliader' Bagi Agenda Biden

Hening menyatakan, subjek pajak air permukaan adalah orang pribadi atau badan yang dapat melakukan pengambilan dan atau pemanfaatan air permukaan. Dasar pengenaan pajaknya adalah nilai perolehan air yang dinyatakan dalam rupiah, yang dihitung dengan mempertimbangkan sebagian atau seluruh faktor sumber air permukaan, di antaranya jenis, lokasi, tujuan, volume air permukaan, dan kualitas.

“Tarif pajak air permukaan ditetapkan sebesar sepuluh persen. Dihitung dengan cara mengalikan tarif dengan dasar pengenaan pajak,” jelasnya.

Terkait Pajak Rokok yang proporsinya 30 persen provinsi dan 70 persen ke kabupaten/kota, Hening mengatakan, merupakan pungutan atas cukai rokok oleh pemerintah pusat melalui Bea Cukai. Tujuan utama penerapan Pajak Rokok adalah untuk melindungi masyarakat terhadap bahaya rokok. Penerapan Pajak Rokok sebesar 10 persen dari nilai cukai untuk memberikan optimalisasi pelayanan pemerintah daerah dalam menjaga kesehatan masyarakat. Saat ini sebagian anggaran Pajak Rokok dialokasikan untuk mendanai program Jaminan Kesehatan Nasional.

Baca Juga: Investasi di Kabupaten Cirebon Besar-besaran, Eh... Potensi Pajak MBLB Menghilang

Di samping pajak daerah, Retribusi Daerah menjadi sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD) Provinsi Jawa Barat. Sampai saat ini sudah ada 26 (dua puluh enam) perangkat daerah penghasil, diharapkan untuk perangkat daerah yang masih memiliki potensi untuk dimanfaatkan dipersilahkan untuk menyampaikan daftar potensinya ke Bapenda Provinsi Jawa Barat, sehingga dapat meningkatkan Penerimaan Retribusi Daerah.***

Halaman:

Editor: JakaPermana

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Jabar Tes PCR Gratis Calon Jemaah Haji

Kamis, 26 Mei 2022 | 20:10 WIB
X