Seperti Tangani Covid 19! Begini Langkah Jabar Adang Penyebaran PMK

Pemprov Jabar terapkan kebijakan serupa penanganan Covid 19 untuk mengadang penyebaran PMK di beberapa wilayah.

Seperti Tangani Covid 19! Begini Langkah Jabar Adang Penyebaran PMK
Pemprov Jabar mulai antisipasi penyebaran PMK.

INILAHKORAN, Bandung- Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Barat menerapkan kebijakan yang sama dengan penanganan Covid 19 dalam mengantisipasi Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) pada hewan ternak.

Melalui Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan (DKPP), Pemprov Jabar menerapkan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) mikro untuk jalur hewan ternak di enam daerah.

Kebijakan itu dilakukan setelah ditemukan 622 ekor hewan sapi dari berbagai jenis, dan domba tertular PMK.
 
 
Adapun enam wilayah yang sudah terdapat kasus PMK, yaitu Kabupaten Garut, Kabupaten Tasikmalaya, Kota Banjar, Kota Tasikmalaya, Kabupaten Sumedang dan Kabupaten Kuningan.
 
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan (DKPP) Jawa Barat, Moh Arifin Soedjayana mengatakan Penerapan PPKM Mikro untuk hewan PMK tidak berbeda jauh saat Covid 19.
Arifin mencontohkan, dari 9 kecamatan di Kabupaten Garut yang memiliki 12 desa di dalamnya, hanya beberapa zona saja yang di lockdown. Sedangkan lainnya tidak diterapkan. 
 
"Peternakan itu ada Otoritas Veteriner yang memiliki kewenangan untuk memberi tahu kesehatan hewan di daerahnya. Kalau dia kemudian bilang gak menular dan sembuh, maka lalu lintas hewan bisa dinormalkan kembali," ujar Arifin Rabu 18 Mei 2022.
 
Menurut dia, PPKM Mikro merupakan langkah penanganan yang adil untuk kesehatan hewan. Di mana tidak akan berpengaruh secara signifikan terhadap perekomian masyarakat.
 
 
"Jadi jangan merugikan ekonomi wilayah sekitar, saya tekankan kabupaten dan kota kita PPKM mikro di zona kecamatan dan desa," katanya. 
 
Arifin menyampaikan, bilamana hewan tertular PMK masih dapat ditangani dengan pemberian obat hingga sembuh meskipun ada juga yang mati. Namun, jumlah yang mati tersebut sangat kecil.
 
Hal itu diketahuinya berdasarkan 200 hewan dari 622 yang tertular sudah sembuh. 
 
"Memang mematikan, tapi hanya sedikit dan kalau diobati dan kasih vitamin akan sembuh. Tingkat kesakitan cukup tinggi jadi itu akan kelihat dari mereka tidak mau makan, nah supaya mau makan kita kasih napsu makan," kata dia. 
 
 
Sedangkan untuk tingkat kesembuhan, Arifin mengklaim, hewan tertular PMK sudah mencapai 30 persen lebih. Menurutnya, hingga saat ini belum ada vaksin untuk penyakit tersebut. 
 
"Vaksin belum ada, kita tunggu dari kementrian karena kementrian kebijakannya. Tapi kita koordinasi dengan kabupaten dan kota dengan stok disinfektan, obat dan kita distribusikan, kemudian yang bergejala segera diberikan vitamin," katanya. 
 
saat ini, pihaknya memaksimalkan obat dan vitamin reguler yang stoknya terus menipis meski sudah ada pengiriman dari pihak kementerian. Langkah terdekat adalah meminta dana Belanja Tak Terduga (BTT) segera cair.
 
“Tadi minta arahan ke gubernur agar dana BTT bisa cair, untuk monitoring ke lapangan, lalu dokter hewan kunjungan ke lapangan, untuk obat, vitamin dan operasional dengan instansi terkait seperti polda atau polres setempat supaya (hewan ternak) yang masuk ke Jabar clear dari sisi kesehatan,” ucap dia. 
 
 
Sebelumnya, DKPP Jabar menemukan 622 hewan tertular PMK. Sampel hewan positif PMK ditemukan di Kabupaten Garut, Kabupaten Tasikmalaya, dan Kota Banjar. 
 
"Pada 7 Mei 2022 Tim DKPP dan Tim Balai Veteriner Subang langsung mengambil sampel terduga PMK di Garut, dan tiga wilayah lainnya, kemudian terkonfirmasi 100 persen positif PMK," ujar Arifin, Rabu (11/5) lalu. 
 
Kemudian, Arifin menjelaskan, temuan kasus PMK positif di Kabupaten Garut ada di Leles, sebanyak 25 ekor sapi potong, tiga ekor sapi perah dan lima ekor domba. Sementara Tasikmalaya 18 sampel sapi dinyatakan positif PMK dan 11 ekor sapi di Kota Banjar dinyatakan positif 100 persen PMK.
 
 
"Sebelum ada temuan positif 7 Mei kami sudah membentuk Tim Unit Respon Cepat PMK," ucapnya.***(Rianto Nurdiansyah)


Editor : inilahkoran