Hasil Survei IDM Strategic Sebut Kinerja Pemprov Jabar Atasi Pandemi Covid-19 Dinilai Memuaskan

Hasil survei IDM Strategic menyebutkan kinerja Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Barat dalam penanganan Covid 19 sangat memuaskan.

Hasil Survei IDM Strategic Sebut Kinerja Pemprov Jabar Atasi Pandemi Covid-19 Dinilai Memuaskan
Hasil survei IDM Strategic menyebutkan indeks kepuasan warga Jabar terhadap kinerja Pemprov Jabar dan Ridwan Kamil dalam penanganan Pandemi Covid 19 sangat memuaskan.

INILAHKORAN.Com,Bandung- Hasil survei IDM Strategic menyebutkan kinerja Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Barat dalam penanganan pandemi Covid 19 dinilai sangat memuaskan.

Hal itu terungkap dalam hasil survei indeks persepsi publik terkait kondisi Pandemi Covid-19 di Jawa Barat oleh Lembaga Data Analyst Consultant & Strategic Publik Management IDM Strategic.

Dalam rilisnya, IDM Strategic menyebutkan, selain hasil positif terkait kinerja Pemprov Jabar yang dinilai sangat memuaskan, survei IDM juga
menghasilkan sejumlah temuan pokok lainnya.

Baca Juga: Jawa Barat Raih Dua Penghargaan Nasional Prestasi Sertifikasi Kompetensi Pemerintahan

Pertama menurut Gilang, nilai indeks kepercayaan publik terhadap kinerja Pemerintah Provinsi Jawa Barat dalam menjalankan kebijakan Pemerintah Pusat dan membuat langkah-langkah kebijakan dalam mengatasi Pandemik Covid 19 di angka 3.43 atau dapat dipersepsikan sebagai Cukup Memuaskan dengan tingkat kepuasan di angka 72.5%.

Kepercayaan Publik itu menurut Gilang, meiliputi kinerja Gubernur Jabar Ridwan Kamil dan Pemprov Jabar terkait dengan vaksinasi, libur Lebaran, pembukaan kembali sekolah dan pelonggaran aktivitas sosial ekonomi serta protokol kesehatan.

Gilang menambahkan, kedua, terjadi proses penurunan intensitas, frekwensi dan interest publik terhadap konsumsi informasi yang terkait dengan Pandemik Covid 19

Baca Juga: Tak Terima Disebut ‘Adu Kungfu’, Persik Kediri Kembalikan Piala Trofeo Ronaldinho?

Penurunan ini terjadi juga dengan intensitas, frekwensi dan interest dari elemen pemerintahan dalam melakukan komunikasi terkait dengan Pandemik Covid 19.

Nilai Indeks Persepsi Informasi dan Komunikasi terkait dengan Pandemik Covid 19 berada di angka 2.83 yang dapat diartikan bahwa Publik berada di kondisi sudah tidak terlalu peduli dengan Informasi dan Komunikasi soal Pandemik Covid 19

"Kemudian temuan pokok ketiga, pengukuran menemukan, walaupun secara pendapatan ekonomi, publik mempersepsikan mulai mengalami kenaikan seiring dengan mulai berputarnya kembali aktivitas ekonomi, akan tetapi kondisi ekonomi secara keseluruhan masih cukup terdampak dan belum cukup membaik," ungkap Gilang.

Baca Juga: Tak Terima Ditindak saat Lawan Arus, Seorang Mahasiswi Terlibat Adu Mulut hingga Nekat Rebut Pistol Polisi

Hal itu lanjut Gilang ditandai dengan semakin naiknya beban pengeluaran publik dalam 3 bulan terakhir, akan tetapi daya beli publik terhadap kebutuhan utama dan beberapa kebutuhan sekundernya tersebut mengalami penurunan.

Pengukuran juga menemukan kondisi jaring pengaman ekonomi semakin menipis, dilihat dari respon responden terhadap indikator tabungan, bantuan sosial yang semakin menurun dan naiknya beban hutang serta keharusan responden untuk mendapatkan penghasilan dari pekerjaan tambahan.

Semua kondisi tersebut mendorong Angka Indeks Ekonomi berada di nilai 2.65 yg artinya masih cukup terdampak.

Baca Juga: Hari Terakhir PPS, Kanwil DJP Jabar I Imbau WP Manfaatkan Sisa Waktu

Temuan survei keempat, responden mempersepsikan pelonggaran kebijakan terkait dengan pelaksanaan protokol kesehatan telah menyebabkan penurunan kedisplinan, terutama yang terkait dengan penggunaan masker dan pembatasan mobilisasi, hal ini menyebabkan Indeks Kewaspadaan Pandemiknya turun berada di angka 2.95 yang artinya semakin tidak waspada.

Penurunan indeks kewaspadaan ini bisa jadi salah satu indikasi penyebab dari naiknya kembali angka kasus di akhir-akhir bulan Juni ini.

Hal yang cukup positif dari pengukuran indeks kewaspadaan ini adalah persepsi responden yang menyatakan bahwa publik sudah jauh lebih rileks dan tenang mengadapi kondisi pandemik.

Baca Juga: Piala Indonesia Akan Kembali Digulirkan Setelah 3 Tahun Vakum, PSSI Sudah Keluarkan Surat Edaran

"Ada dua hal yang mempengaruhi kondisi tersebut yaitu responden mempersepsikan bahwa publik memiliki pengetahuan yang cukup baik dalam menghadapi situasi pandemik dan pengaruh dari capaian vaksinasi yang cukup baik di Jawa Barat terutama untuk vaksinasi lengkap dua dosis," paparnya.

Khusus untuk Vaksinasi Boster, responden yang tinggal di wilayah Urban Perkotaan memiliki interest yang lebih besar ( 65.8%) dibandingkan dengan responden yang tinggal di wilayah rural pedesaan, walaupun responnya tidak sebaik saat kebijakan vaksinasi lengkap 2 dosis

Sementara temuan pokok survei kelima lanjut Gilang Mahesa, terkait dengan transisi menuju ke kondisi Endemik, responden menilai bahwa informasi dan komunikasi pemerintah soal Endemik dirasakan masih kurang intensitasnya, padahal dari sisi interest publik sudah cukup besar.

Baca Juga: PPDB 2022 di KBB, Orang Tua Terpaku pada Zonasi

Responden juga mempersepsikan bahwa publik sudah cukup siap memasuki transisi Endemik dengan protokol yang ditetapkan oleh pemerintah, tapi masih ragu-ragu jika pemerintah akan segera membuat kebijakan perubahan kondisi dari pandemik ke endemik tersebut dalam waktu dekat.

Responden juga menilai kondisi ekonomi akan tetap sama di fase awal endemik sehingga berharap Pemerintah tidak membuat kebijakan di sektor ekonomi yang akan menjadi beban tambahan bagi mereka, seperti kenaikan harga BBM dan Energi. Responden juga berharap ada perhatian pemerintah yang lebih serius terhadap harga-harga bahan pangan yang dirasakan naik cukup tinggi

Dari hasil temuan pengukuran, IDM Strategic menilai pemerintah harus mulai menyiapkan diri membuat berbagai instrument terkait dengan kondisi Endemik, terutama yang terkait dengan transisi protokol kesehatan dan kebijakan pemulihan ekonomi.

Baca Juga: Kisah TKW Indonesia di Taiwan Hampir 10 Tahun Memandikan Bos Laki Lakinya

Instrument kebijakan itu diperlukan sebagai guidline bagi aktivitas publik di fase transisi Endemik. IDM Strategi juga menilai ada baiknya pemerintah bisa menunda dulu rencana kenaikan beberapa harga komoditi energi dan BBM, serta melakukan pengendalian harga di komoditas pangan.

IDM Strategic juga menilai, Pemerintah harus semakin sering menyampaikan informasi dan komunikasi kepada publik terkait dengan rencana kebijakan endemik dengan cara yang lebih soft dan menghindari fear appeal dan fear mongering. Strategi komunikasi ini bisa bekerja sama berkolaborasi dengan berbagai pihak.***

 


Editor : inilahkoran