• Minggu, 19 September 2021

Pengamat: Politik Identitas Lebih Berbahaya dari Politik Uang

- Kamis, 13 Agustus 2020 | 22:10 WIB
Direktur Eksekutif Lingkar Madani (LIMA) Ray Rangkuti. (antara)
Direktur Eksekutif Lingkar Madani (LIMA) Ray Rangkuti. (antara)

INILAH, Jakarta - Direktur Eksekutif Lingkar Madani (LIMA) Ray Rangkuti mengingatkan praktik politik identitas sangat berbahaya bahkan dibandingkan dengan politik uang.

Ray Rangkuti di Jakarta, Kamis, mengingatkan bahayanya politik identitas itu karena juga berpotensi terjadi kembali dalam pemilihan kepala daerah yakni Pemilihan serentak 2020.

"Dan inilah persoalan terbesar di dalam politik identitas yang saya tidak yakin tidak akan terjadi di 2020, meskipun saya sudah mulai memetakan relatifnya di beberapa tempat kelihatan aman, tetapi tidak ada jaminan tidak akan terjadi," kata dia.

Praktik politik identitas memang tidak semasif intensitas dari penggunaan politik uang dan juga politik dinasti, grafiknya juga tidak naik terus-menerus atau lebih fluktuatif. Daerah juga tidak banyak yang menggunakan politik identitas tersebut.

Namun, pelaksanaan demokrasi di Indonesia menerima dampak buruk yang jauh lebih besar dari penggunaan praktik politik identitas.

"Ancaman politik identitas ini jauh lebih berbahaya dari politik uang, karena tiga sebab, pertama politik identitas tidak bersifat temporal seperti politik uang, politik uang dia hanya berlaku pada waktu tertentu saja," kata dia.

Ray menjelaskan tidak ada praktik politik uang yang terjadi setelah kepala daerah terpilih ditetapkan atau praktik ini akan berakhir dalam waktu tertentu, namun politik identitas tetap terjadi meski kepala daerah sudah menjabat, contohnya pada kasus di Pilkada DKI Jakarta 2017.

Kemudian politik uang hanya bersifat lokal terjadi di daerah pemilihan saja, sementara politik identitas meskipun satu daerah yang menyelenggarakan pilkada namun pengaruhnya bisa menyebar ke seluruh wilayah Indonesia.

"Justru sebaliknya jadi kasusnya temporal, lokalistik, tapi efeknya justru menyebar, dan panjang, dia terjadi di satu tempat tapi meluas efeknya sampai ke seluruh Indonesia," kata Ray.

Halaman:

Editor: suroprapanca

Terkini

X