• Minggu, 24 Oktober 2021

Bappenas: Literasi Rendah Sebabkan SDM Tidak Produktif

- Selasa, 23 Maret 2021 | 18:40 WIB
Direktur Agama, Pendidikan, dan Kebudayaan Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas Amich Alhumami. (antara)
Direktur Agama, Pendidikan, dan Kebudayaan Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas Amich Alhumami. (antara)

INILAH, Bandung - Direktur Agama, Pendidikan, dan Kebudayaan Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas Amich Alhumami mengatakan kemampuan literasi yang rendah dapat menyebabkan sumber daya manusia (SDM) tidak produktif saat memasuki dunia kerja.

“Konsekuensi yang dirasakan akibat literasi yang rendah, yakni tidak produktifnya SDM saat memasuki dunia kerja,” ujar Amich dalam Rakornas Bidang Perpustakaan yang diselenggarakan Perpusnas secara daring di Jakarta, Selasa (23/3).

Selain itu, katanya, literasi yang rendah juga menyebabkan biaya pendidikan menjadi lebih mahal serta pendapatan rendah yang berimbas pada kesejahteraan. Selanjutnya ongkos kesehatan menjadi mahal dan angka kriminalitas meningkat.

Amich menerangkan, negara dengan proporsi penduduk yang bekerja sangat besar di berbagai lapangan dan jenis pekerjaan justru mensyaratkan kemampuan baca yang tinggi karena akan cenderung lebih produktif.

Apalagi pada era yang mana teknologi berperan penting dalam perekonomian, nyaris dipastikan semua memerlukan kemampuan analisis dan keterampilan komunikasi sehingga kausalitas antara produktivitas tinggi dan kemampuan membaca di tempat kerja merupakan hal yang lumrah.

“Sebaliknya pada negara yang belum menjadikan keterampilan membaca sebagai ukuran kinerja di tempat kerja cenderung kurang produktif atau produktivitasnya rendah,” ujar Amich.

Menurut data Global Knowledge Indeks 2020 yang dirilis Bappenas, Indonesia menempati peringkat ke-81 dari 138 negara, dan peringkat ke-23 dari 36 negara dengan pembangunan manusia yang tinggi. Sementara di lingkup ASEAN, Indonesia malah berada di bawah Singapura, Malaysia, Thailand dan Filipina.

Untuk itu, katanya, perlu perbaikan serius untuk mengatasi disparitas yang mencakup aspek ekonomi, pendidikan, teknologi, riset ilmiah dan vokasi. Dengan kata lain, Indonesia masih perlu melakukan upaya peningkatan kapasitas dalam pengembangan ilmu pengetahuan melalui berbagai strategi, program, dan kegiatan yang tepat. (antara)

Editor: suroprapanca

Terkini

X