• Jumat, 22 Oktober 2021

Jalan Berliku Menuju Indonesia Bebas TBC 2030

- Senin, 29 Maret 2021 | 21:15 WIB
Ilustrasi (Antara)
Ilustrasi (Antara)

INILAH, Bandung - Hari Tuberculosis Sedunia yang jatuh pada 24 Maret baru saja diperingati. Peringatan tersebut tentu bertujuan untuk mengingatkan masyarakat bahwa penyakit tersebut perlu terus diwaspadai karena meskipun sudah puluhan tahun berbagai upaya dilakukan untuk mengatasinya, penyakit tersebut masih ada di Indonesia hingga saat ini.

Berdasarkan laporan global TBC 2020, Indonesia menjadi negara ketiga dengan beban TBC terbesar di dunia, setelah India dan China. Karena itu Indonesia harus melakukan penanganan yang komprehensif untuk mencapai target bebas TBC pada 2030.

Untuk mencapai target itu, pemerintah melalui Kementerian Kesehatan telah berupaya untuk mengatasi penyakit yang juga menyerang kelompok usia produktif tersebut, dengan berupaya menemukan penderita serta mengobatinya secara teratur hingga sembuh. Masalahnya TBC ini seperti fenomena "gunung es", jumlah kasusnya diperkirakan jauh lebih banyak dibandingkan dengan jumlah temuan kasus.

Salah satu contoh di Daerah Istimewa Yogyakarta, pada 2018 jumlah temuan kasus TBC tercatat 3.803, pada 2019 naik menjadi 4.026 kasus, tapi pada 2020 menurun menjadi 2.853 kasus. Penurunan itu terjadi kemungkinan besar terkait dengan pandemi Covid-19 yang menyebabkan pelaksanaan kegiatan penemuan kasus TBC terhambat. Selain itu, orang yang mengalami gelaja TBC juga takut memeriksakan diri ke puskesmas atau rumah sakit karena takut tertular Covid-19.

Menurut Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan DIY Drh. Berty Murtiningsih, M. Kes, jumlah kasus TBC di DIY per tahun diperkirakan mencapai 9.064, tapi yang berhasil ditemukan baru sejumlah yang telah disebutkan di atas. Kondisi itu disebabkan berbagai faktor seperti jumlah orang bergejala TBC yang memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan masih rendah, serta keterbatasan jumlah petugas untuk melacak kasus TBC.

Meski demikian Dinkes DIY terus berupaya keras untuk meningkatkan temuan kasus karena berarti akan semakin mengurangi jumlah penderita TBC. Upaya tersebut antara lain dilaksanakan dengan melakukan pelacakan kontak serumah dan kontak erat dengan kasus TBC, menyiapkan 100 persen pusat kesehatan masyarakat (Puskesmas) dan rumah sakit untuk mampu mendeteksi penderita TBC dan mengobati mereka.

Penderita TBC biasanya menunjukkan sejumlah gejala seperti batuk berdahak lebih dari dua minggu, berkeringat pada malam hari meskipun tidak melakukan kegiatan, serta badan terasa lemas. Meskipun gejala itu sepertinya mudah dikenali, tetapi tetap saja belum banyak warga yang dengan sadar diri memeriksakan diri ketika mengalami gejala tersebut.

Secara nasional, kajian yang dilakukan Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa baru sekitar 24 persen orang dengan gejala TBC yang mengunjungi fasilitas pelayanan kesehatan (fasyankes). Artinya baru 24 persen orang yang mengenali gejala TBC yang sedang dialaminya dan kemudian mendatangi fasyankes untuk memeriksakan diri.

Karena itu, menurut Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung (P2PML) Kementerian Kesehatan Siti Nadia Tarmizi, jumlah temuan kasus TBC secara nasional hanya 350 ribu kasus pada 2020, sementara pada 2019 kasus TBC yang ditemukan mencapai 560 ribu kasus. "Padahal angka kasus TBC di Indonesia diperkirakan mencapai 840 ribu setiap tahun."

Halaman:

Editor: suroprapanca

Terkini

Pemerintah Tak Melarang Warga Merayakan Maulid Nabi

Selasa, 19 Oktober 2021 | 19:30 WIB
X