• Sabtu, 23 Oktober 2021

Kadisdik Jatim: PPDB 2020 dan 2021 Berbeda

- Selasa, 6 April 2021 | 22:45 WIB
Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur Wahid Wahyudi. (antara)
Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur Wahid Wahyudi. (antara)

INILAH, Surabaya - Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur Wahid Wahyudi menjelaskan pelaksanaan Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) jenjang SMA/SMK tahun 2020 dan tahun 2021 terdapat sejumlah perbedaan.

"PPDB-nya tahun ini dan tahun lalu berbeda," ujarnya kepada wartawan di Surabaya, Selasa (6/4/2021).

Ia menjelaskan terdapat lima jalur pada PPDB tahun ini, yakni pertama jalur afirmasi yang diperuntukkan bagi siswa keluarga kurang mampu, termasuk anak buruh dan disabilitas ringan. "Di sini ada yang berbeda. Kalau disabilitas tahun kemarin masuk zonasi, tapi sekarang afirmasi dan kuotanya 15 persen," ujarnya.

Kedua adalah jalur perpindahan tugas orang tua, yakni selain perpindahan tugas orang tua, juga menampung anak tenaga pendidik atau pengajar. "Termasuk tenaga kesehatan khusus yang menangani Covid-19. Ini kuotanya adalah lima persen," ucapnya.

Ketiga yaitu jalur prestasi lomba berkuota lima persen yang berbeda skemanya dari tahun 2020. Pada tahun lalu lombanya berjenjang dan dilaksanakan oleh pemerintah atau organisasi lembaga yang kerja sama dengan pemerintah, tahun ini tidak.

"Ternyata banyak masukan, sehingga tahun ini jalur prestasi bisa berjenjang atau tidak. Bisa dilaksanakan oleh pemerintah atau lembaga secara mandiri. Kami rumuskan, masing-masing ada skornya," kata WW, sapaan akrabnya.

Bagi siswa penghafal Al-Quran, kata dia, juga bisa masuk dalam jalur prestasi lomba, termasuk siswa delegasi. "Semisal, Negara Italia mengundang kejuaraan paduan suara setiap tahun. Bagi siswa yang diundang, kami beri skor," kata mantan Kepala Dinas Perhubungan Jatim itu.

Lalu, lanjut dia, ada jalur prestasi akademik yang kuotanya sebesar 25 persen dengan mengambil nilai rapor pada semester I hingga V, yang nilainya 70 persen. "Kemudian nilai IX di SMA satu dan lainnya berbeda. Makannya ada indeks yang diambil dari akreditasi sekolah. Bobotnya 30 persen," katanya.

Terakhir adalah zonasi kuotanya 50 persen, yang untuk SMA sistemnya tidak berubah atau sama seperti tahun lalu.

Halaman:

Editor: suroprapanca

Terkini

X